BAB 8

1069 Words
Hari-hari berlalu dengan perlahan namun pasti. Rania semakin dekat dengan Kenzy — setiap percakapan, setiap pertemuan, setiap momen diam di sampingnya membuat perasaannya semakin dalam. Namun di balik kedekatan itu, ada satu hal yang menyakitkan hatinya — tatapan orang-orang di sekitar mereka. Terutama teman-teman dekatnya sendiri. Siang itu di kantin universitas, Rania duduk bersama tiga orang teman dekatnya: Sari, Dinda, dan Maya. Mereka sudah berteman sejak masuk kuliah, dan Rania selalu menghargai kebersamaan mereka. Namun belakangan ini, setiap kali nama Kenzy disebut atau Kenzy terlihat di dekat mereka, nada bicara teman-temannya berubah. "Eh, itu dia lagi," cicit Sari sambil menunjuk ke arah pintu kantin. "Si Kenzy yang selalu menutupi separuh wajahnya." Rania menegang. Ia tahu persis siapa yang dimaksud. Kenzy baru saja masuk, tas tersampir di bahu, rambut poni jatuh menutupi pelipis kirinya seperti biasa. Ia berjalan dengan tenang, tidak menatap siapa pun, mencari tempat duduk yang kosong. "Jujur ya Ran," kata Dinda sambil menahan tawa, "kenapa sih kamu sering banget sama dia? Dia itu... gimana ya... terlihat cupu banget. Selalu sendirian, nggak pernah bicara sama siapa pun, pakaiannya sederhana banget." "Dan lihat rambutnya itu," timpal Maya dengan nada meremehkan. "Menutupi separuh wajah kayak orang takut dilihat. Mungkin sisi kirinya jelek banget ya? Mungkin ada bekas luka yang mengerikan? Atau wajahnya cacat?" Tawa mereka pecah. Rania merasakan darahnya mendidih. Ia menatap mereka tajam, suaranya tegas dan dingin. "Berhenti. Kalian tidak tahu siapa dia sebenarnya." "Wah, membela dia ya?" goda Sari. "Ran, kita ini temanmu. Kita cuma khawatir. Kamu cantik, pintar, banyak yang suka. Kenapa malah sama pemuda yang terlihat... begitu? Cupu, pendiam, nggak punya teman, bahkan mungkin wajahnya jelek di balik rambut itu." "Kecantikan bukan di wajah atau pakaian," jawab Rania tajam. "Dan Kenzy itu baik hati, lembut, dan jauh lebih tulus daripada banyak orang yang terlihat rapi tapi mulutnya tajam." Teman-temannya saling pandang, lalu tertawa sinis. "Ya sudahlah, terserah kamu," kata Dinda. "Tapi jangan kaget kalau nanti semua orang menertawakan pilihanmu. Dia itu pasti nggak ada apa-apanya. Miskin, dari kota kecil, dan mungkin wajahnya jelek banget. Makanya dia menyembunyikannya." Rania ingin membalas, ingin membela Kenzy habis-habisan. Tapi ia menahan diri. Ia tahu — kalau ia membela terlalu keras, mereka hanya akan semakin mengejek. Dan yang paling menyakitkan: mereka belum tahu seberapa salah mereka. Mereka belum tahu bahwa di balik rambut itu bukan wajah yang jelek, melainkan tanda bintang yang indah. Mereka belum tahu bahwa pemuda yang mereka sebut cupu itu punya hati yang lebih mulia daripada siapa pun di ruangan itu. Dan suatu hari nanti — saat Kenzy siap membuka segalanya — mereka akan melongo melihat siapa Kenzy sebenarnya. Sore itu, Rania berjalan menuju tempat pertemuannya dengan Kenzy dengan perasaan campur aduk. Ia tahu teman-temannya salah — sangat salah. Tapi ia juga tidak bisa menceritakan apa pun. Kenzy belum siap. Dan ia tidak akan mengkhawatakan kepercayaan yang baru saja diberikan padanya. Saat ia sampai di bangku taman, Kenzy sudah menunggunya. Seperti biasa, tenang, lembut, senyum tipis menyambutnya. Tapi Rania bisa melihat — ada sesuatu yang berbeda di matanya. Seperti ia sudah mendengar. "Mereka membicarakanku, kan?" tanya Kenzy pelan sebelum Rania sempat membuka mulut. Rania terdiam, lalu duduk di sampingnya. "Kau dengar?" "Bukan aku dengar," jawab Kenzy lembut namun getir. "Aku sudah terbiasa. Tatapan mereka. Bisikan mereka. Cara mereka menatap rambutku, pakaianku, caraku berjalan. Di kotaku dulu juga begitu. Sebelum... sebelum semuanya jadi lebih buruk. Jadi aku sudah terbiasa. Tidak apa-apa." "Tidak apa-apa?!" Rania menatapnya tidak percaya. "Mereka bilang kau cupu! Jelek! Menyembunyikan wajah karena cacat! Dan kau bilang tidak apa-apa?!" Kenzy tersenyum sedih. "Aku tahu siapa aku, Rania. Aku tahu aku bukan orang jahat. Dan aku tahu siapa yang aku tuju. Pendapat mereka... itu tidak mengubah siapa aku sebenarnya. Meski kadang... rasanya tetap sakit." Rania menatapnya, hatinya terasa perih. Ia ingin berteriak pada teman-temannya bahwa mereka salah besar. Bahwa Kenzy jauh lebih tampan daripada siapa pun yang mereka kenal — bukan hanya wajahnya, tapi hatinya. Bahwa suatu hari nanti, saat Kenzy siap membuka rambutnya, mereka akan menyesal pernah berkata begitu. "Mereka akan menyesal," ucap Rania tegas. "Suatu hari nanti, saat kau siap membuka segalanya... saat mereka melihat siapa kau sebenarnya... mereka akan melongo. Mereka akan malu pernah berkata begitu." Kenzy menatapnya, terkejut dengan ketegasan itu. Lalu ia tersenyum lembut. "Kau percaya aku tampan di balik rambut ini?" tanyanya bercanda namun ada harapan di matanya. "Aku tahu begitu," jawab Rania mantap. "Bukan hanya wajahmu. Tapi seluruh dirimu. Dan suatu hari nanti semua orang akan tahu." Kenzy menunduk, pipinya sedikit memerah. "Terima kasih, Rania. Kau membuatku merasa... berharga. Sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan." Minggu-minggu berikutnya, ejekan teman-teman Rania tidak berhenti. Setiap kali melihat Kenzy, mereka selalu berkomentar — cukup pelan agar Kenzy tidak mendengar, tapi cukup keras untuk Rania dengar. "Lihat deh jalannya, merunduk terus kayak orang takut dilihat orang." "Pakaiannya itu-itu saja, nggak pernah ganti model." "Pasti di rumah sana dia cuma orang biasa. Nggak ada apa-apanya." "Kalau saja dia berani tunjukkan wajahnya yang utuh, mungkin kita tahu kenapa dia bersembunyi." Rania selalu diam, tidak membalas. Tapi di dalam hatinya, ia menyimpan satu janji — tunggu saja sampai Kenzy siap. Tunggu saja sampai ia membuka rambutnya dan menceritakan semuanya. Saat itu datang, kalian semua akan terkejut sampai tidak bisa bicara. Dan di sisi lain, Kenzy tahu. Ia tahu mereka mengejeknya. Ia tahu mereka memandangnya rendah. Tapi ia bertahan — karena Rania percaya padanya. Karena Rania tidak pernah melihatnya sebagai pemuda yang cupu atau jelek. Karena Rania melihatnya sebagai Kenzy. Dan itu cukup baginya. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, Kenzy juga menyimpan satu harapan — harapan bahwa suatu hari nanti ia akan cukup berani. Cukup berani untuk membuka rambutnya, untuk menceritakan semuanya, untuk berdiri tegak tanpa rasa malu. Dan saat hari itu datang... ia ingin Rania bangga padanya. Suatu sore, saat mereka berjalan pulang bersama, Rania menatap profil samping Kenzy — rambutnya yang menutupi pelipis, garis rahangnya yang tegas, matanya yang lembut namun penuh kekuatan tersembunyi. "Kenzy," panggilnya pelan. "Ya?" "Suatu hari nanti... saat kau siap... tolong tunjukkan padaku. Semuanya. Termasuk... bagian yang kau sembunyikan itu." Kenzy berhenti berjalan. Ia menatap Rania lama, lalu mengangguk perlahan. "Aku janji. Saat aku siap... kau akan jadi orang pertama yang melihat segalanya. Dan saat itu terjadi... mungkin semua orang akan melihatku dengan cara yang berbeda. Aku tidak tahu apakah itu baik atau buruk. Tapi aku tahu... aku ingin kau melihatku apa adanya." "Aku sudah melihatmu apa adanya," jawab Rania lembut. "Dan aku menunggumu. Berapa lama pun waktu yang kau butuhkan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD