BAB 7

1480 Words
Hari-hari setelah pengakuan itu terasa berbeda. Dinding di antara mereka yang dulu begitu tebal kini runtuh sebagian — Kenzy sudah membuka luka terbesarnya, dan Rania telah menerimanya. Namun di tengah kedekatan itu, ada satu hal yang justru semakin membuat Rania bingung. Jika rahasia terbesar Kenzy adalah masa lalunya yang kelam — tuduhan, pengusiran, air mata orang tuanya — lalu di mana letak kebenaran tentang pahlawannya? Mengapa tanda bintang itu ada di pelipisnya? Dan mengapa Kenzy sama sekali tidak pernah menyebutkan kejadian menolong seseorang? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa jawaban. Suatu sore, mereka duduk di bangku taman kampus seperti biasa. Matahari mulai terbenam, menyinari wajah Kenzy dengan cahaya keemasan yang lembut. Rania menatapnya — memperhatikan setiap garis wajahnya, cara matanya menyipit saat tersenyum, cara rambutnya jatuh menutupi pelipis kirinya. "Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Kenzy sambil tersenyum tipis, namun ada kelembutan di matanya yang membuat jantung Rania berdebar. "Aku hanya... berpikir," jawab Rania pelan. "Tentang siapa kau dulu. Tentang semua yang kau alami. Dan betapa hebatnya kau bisa berdiri di sini hari ini, tetap lembut padahal dunia pernah tidak baik padamu." Senyum Kenzy memudar perlahan. Ia menatap ke arah matahari terbenam, suaranya rendah. "Kelembutanku bukan karena aku hebat, Rania. Itu karena aku tidak ingin menjadi seperti apa yang mereka tuduhkan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuktikan... bahwa aku bukan orang jahat yang mereka katakan." "Kau sudah membuktikannya," ucap Rania tegas. "Setiap hari. Dengan setiap perkataanmu, dengan setiap tindakanmu. Kau sudah membuktikannya." Kenzy menoleh, dan tatapannya begitu dalam seakan ia berusaha melihat ke dalam jiwa Rania. "Terima kasih," bisiknya. "Kau tidak tahu betapa berartinya itu bagiku. Terkadang aku masih mendengar suara-suara itu — bisikan di kepalaku yang mengatakan aku buruk, aku memalukan, tidak pantas dicintai. Tapi saat kau menatapku seperti tadi... suara-suara itu hilang." Hati Rania bergetar. Ia ingin memeluknya, meyakinkannya bahwa ia luar biasa — namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan karena satu keraguan yang tak kunjung hilang. Jika dia bukan pahlawanku... apakah aku jatuh cinta pada orang yang salah? Pikiran itu datang tanpa diundang, tajam dan menyakitkan. Dan jika dia memang pahlawanku... mengapa dia tidak tahu? Mengapa dia tidak pernah menyebutkannya? Apakah kejadian itu begitu sepele baginya sehingga ia lupa? Atau apakah aku yang berlebihan menganggapnya begitu besar? "Rania?" suara Kenzy memecah lamunannya. "Kau kembali melamun. Ada yang mengganggumu?" Rania menggeleng pelan, berusaha tersenyum. "Tidak. Hanya... berpikir tentang takdir. Bagaimana dua orang bisa bertemu di waktu yang sama, di tempat yang sama, padahal mereka datang dari masa lalu yang begitu berbeda." Kenzy terdiam sejenak, lalu berkata lembut: "Takdir itu misterius. Kadang ia mempertemukan orang tanpa kita tahu alasannya. Mungkin alasannya sekarang belum terlihat. Mungkin kita baru akan mengertinya nanti." Atau mungkin, batin Rania getir, takdir mempertemukan kita dengan alasan yang salah. Aku melihat pahlawanku padamu, padahal kau hanya dirimu sendiri. Beberapa hari berlalu. Rania berusaha menekan keraguannya. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa tanda bintang itu mungkin sekadar kebetulan — bekas luka, tanda lahir, apa saja. Bahwa ia terlalu berharap sehingga melihat kemiripan di mana-mana. Namun setiap kali angin meniup rambut Kenzy, jantungnya tetap berdegup kencang. Setiap kali Kenzy menunduk dan rambutnya tergeser sedikit, matanya tak bisa berpaling. Suatu siang di kantin, seorang gadis dari kelas lain mendekati meja mereka. Rania mengenalnya — namanya Laras, gadis yang cukup populer, ramah, dan sering terlihat berbicara dengan banyak orang. "Kenzy!" sapa Laras dengan senyum lebar. "Sudah lama tidak bertemu! Bagaimana kabarmu?" Kenzy mendongak, sedikit terkejut. "Kabar baik, Laras. Kau sendiri?" "Baik juga!" Laras menatap mereka berdua, lalu tersenyum pada Rania. "Maaf mengganggu. Aku hanya kaget melihatmu di sini, Kenzy. Ternyata kau juga kenal dengan Rania?" "Ya, kami sering belajar bersama," jawab Kenzy santai. Rania diam, menatap makanan di piringnya. Ada rasa cemburu yang tak ia sangka muncul — bukan karena ia tidak percaya pada Kenzy, tapi karena ia takut kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa utuh. Setelah Laras pergi, Kenzy menatap Rania dengan bingung. "Kau cemberut," ucapnya lembut. "Ada yang salah?" "Tidak," jawab Rania cepat, lalu menunduk. "Hanya... siapa dia bagimu?" Kenzy terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Teman masa kecil. Kami satu sekolah dulu. Sebelum... sebelum aku pergi." Kata-kata terakhir itu diucapkan dengan nada berat. Rania langsung mengerti — Laras tahu tentang masa lalu Kenzy. Tentang pengusiran itu. Tentang tuduhan itu. "Apakah dia tahu... semuanya?" tanya Rania pelan. Kenzy mengangguk perlahan. "Dia tahu sebagian. Dia tidak pernah menghakimiku, tapi dia juga tidak percaya sepenuhnya pada ceritaku. Seperti orang lain." "Dan kau tidak takut dia akan memberitahu semua orang di sini?" tanya Rania. "Dia tidak akan," jawab Kenzy yakin. "Tapi meskipun dia melakukannya... aku sudah mulai belajar menerima konsekuensinya. Terutama sejak kau tahu dan tidak pergi." Kalimat itu begitu sederhana namun begitu dalam. Rania menatapnya, dan di saat itu ia menyadari satu hal yang jelas: apa pun keraguannya tentang masa lalu atau pahlawannya, perasaannya pada Kenzy adalah nyata. Cintanya bukan pada bayangan pahlawan, melainkan pada pemuda yang duduk di hadapannya — lembut, terluka, dan tulus. Malam itu, Rania duduk di jendelanya, menatap bulan yang bersinar terang. Ia membuka buku hariannya dan menulis: Hari ini aku menyadari sesuatu yang membuatku sedikit tenang, namun juga sedikit sedih. Aku mencintai Kenzy. Bukan karena ia mungkin pahlawanku, tapi karena ia adalah Kenzy. Lembutnya, kesabarannya, ketulusannya — itu semua miliknya, bukan milik bayangan yang kucari. Dan jika pada akhirnya ia bukan pahlawanku... apakah itu berarti aku harus melepaskannya? Apakah cinta harus bergantung pada sebuah kejadian di masa lalu? Atau cinta adalah tentang siapa seseorang hari ini, di hadapanmu? Tapi jujur... bagian dari diriku masih berharap. Masih berharap bahwa di balik rambut itu, ada jawaban yang akan menyatukan semuanya. Bahwa takdir tidak mempertemukan kami tanpa alasan. Bahwa tanda itu bukan sekadar kebetulan. Dan yang paling aku takutkan — jika aku terus mencari, mungkin aku akan kehilangan apa yang sudah ada di depan mataku. Kenzy yang mencintaiku apa adanya. Apakah aku berani mempertaruhkan itu demi sebuah kemungkinan? Ia menutup bukunya, menarik napas panjang. Di luar, angin berhembus lembut. Dan di tempat yang tidak jauh dari sana, Kenzy juga sedang terjaga — bukan karena memikirkan pahlawan atau kejadian masa lalu, melainkan karena memikirkan gadis yang telah menerima dirinya apa adanya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Rania adalah gadis yang pernah ia tolong. Kejadian itu baginya adalah momen singkat — ia tidak pernah melihat wajah gadis itu dengan jelas, tidak pernah menanyakan namanya, dan tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya lagi. Yang ia tahu hanyalah bahwa Rania adalah gadis yang membuatnya ingin menjadi lebih baik. Dan itu sudah cukup baginya. Beberapa hari kemudian, Rania memutuskan sesuatu. Ia akan berhenti membiarkan keraguan menguasainya. Ia akan mempercayai Kenzy apa adanya — tanpa masa lalu yang tersembunyi, tanpa identitas yang ia dambakan. Jika tanda bintang itu punya arti, waktu yang akan memberikannya jawaban. Jika tidak... maka ia sudah menemukan harta yang paling berharga: Kenzy sendiri. Ia berjalan menuju tempat mereka biasa bertemu, langkahnya lebih ringan dari sebelumnya. Namun saat ia melihat Kenzy menunggunya di sana, sesuatu terjadi — sesuatu yang akan mengguncang keputusannya yang baru saja ia buat. Angin kencang tiba-tiba bertiup, lebih kuat dari biasanya. Rambut poni Kenzy tertiup ke samping, dan kali ini — bukan sekejap. Angin itu bertiup cukup lama sehingga Rania bisa melihat pelipis kirinya dengan jelas. Dan di sana, di bawah cahaya matahari pagi yang terang benderang — Rania melihatnya. Bintang itu. Jelas. Terbentuk sempurna. Bukan bekas luka yang samar, bukan tanda lahir yang kabur. Bentuk bintang lima sudut yang sama persis dengan yang ia lihat hari itu. Dunia Rania terasa berhenti berputar. Kenzy buru-buru menata kembali rambutnya, wajahnya pucat. Namun kali ini, Rania tidak mengalihkan pandangan. Ia menatap Kenzy lekat-lekat, matanya berkaca-kaca. "Rania..." suara Kenzy terdengar cemas. "Maaf, aku... aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu karena ada hal buruk. Aku hanya... tidak suka orang bertanya-tanya." Rania menelan ludah, suaranya nyaris tak terdengar. "Kenzy... kau tahu bentuk apa itu?" Kenzy menggeleng pelan, matanya penuh keraguan. "Itu hanya tanda lahir. Bukan apa-apa. Kenapa?" Rania diam. Hatinya berdebat hebat. Haruskah ia bertanya sekarang? Haruskah ia menceritakan tentang pahlawannya? Atau haruskah ia menunggu? Namun melihat tatapan bingung Kenzy — sungguh bingung, bukan pura-pura — satu hal menjadi jelas baginya: Kenzy benar-benar tidak tahu. Ia tidak tahu tentang pahlawan itu. Ia tidak tahu bahwa Rania mencarinya. Dan tanda itu baginya hanyalah tanda lahir biasa. Keraguan kembali menyerangnya, namun kali ini berbeda. Bukan keraguan tentang siapa Kenzy — melainkan keraguan tentang bagaimana cara menyatukan dua kebenaran yang tampaknya terpisah. "Tidak apa-apa," jawab Rania pelan, meski hatinya bergejolak hebat. "Hanya... itu terlihat indah. Seperti bintang." Kenzy menatapnya, terkejut dengan jawaban itu. Ia tersenyum tipis, namun ada kelegaan di matanya. "Terima kasih," bisiknya. "Tidak ada yang pernah berkata begitu. Semua orang hanya bertanya-tanya apa itu." Rania tersenyum, namun di dalam hatinya ia tahu — perjalanannya belum selesai. Justru sebaliknya, baru saja dimulai. Karena tanda itu nyata, jelas, dan tidak bisa disangkal. Namun Kenzy tidak tahu apa-apa. Dan di antara dua kenyataan itu, ada satu kebenaran yang masih tersembunyi — menunggu waktu yang tepat untuk terungkap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD