Hari-hari berlalu dengan tenang di kampus Universitas Negeri Mahardika. Bagi mahasiswa baru, masa awal perkuliahan adalah masa penyesuaian — menyesuaikan diri dengan jadwal yang padat, teman-teman yang baru, dan lingkungan yang asing. Namun bagi Rania, ada sesuatu yang berbeda. Ada seseorang yang membuatnya selalu menoleh ke kiri dan ke kanan setiap kali melangkah di koridor, berharap melihat sosok itu berjalan sendirian di bawah pohon rindang.
Kenzy.
Setiap pagi, Rania akan berjalan melewati halaman depan, matanya mencari-cari sosok pemuda berambut poni dan berkacamata tebal itu. Dan hampir setiap pagi, ia menemukannya — duduk sendirian di bangku kayu, membaca buku dengan tenang, seakan dunia di sekelilingnya tidak ada.
"Selamat pagi, Kenzy." Rania akan menyapanya dengan senyum tulus.
Kenzy akan mendongak, sedikit terkejut, lalu senyum tipis terukir di bibirnya. "Selamat pagi, Rania."
Sederhana. Namun bagi Rania, sapaan itu terasa hangat, lebih hangat dari sinar matahari pagi yang menyinari halaman kampus. Ia tidak tahu mengapa ia begitu tertarik pada pemuda yang pendiam ini. Mungkin karena matanya yang jujur. Mungkin karena sikapnya yang tenang. Atau mungkin... karena punggungnya yang begitu mirip dengan pahlawannya.
Setiap kali Kenzy berjalan di depannya, Rania akan menatap punggungnya. Bahu yang lebar, postur yang tegap, cara melangkah yang mantap — semuanya sama persis dengan ingatannya. Hanya saja, pahlawannya tidak berkacamata. Tidak berambut poni. Dan yang paling penting — pahlawannya memiliki tatapan yang tajam dan kuat, bukan tatapan lembut dan rendah hati seperti Kenzy.
"Kau sering menatapku," kata Kenzy suatu siang, saat mereka duduk bersama di kantin. Ia tidak menuduh, hanya menyampaikan fakta dengan tenang.
Rania tersipu, pipinya memerah. "Maaf... aku hanya... merasa seakan kita pernah bertemu sebelumnya. Di tempat lain."
Kenzy terdiam sejenak, menatap meja di depannya. "Mungkin di kehidupan sebelumnya." ucapnya pelan, tanpa menatap Rania.
Jawaban itu membuat hati Rania berdebar kencang. Apakah mungkin? Apakah takdir memang mempertemukan mereka kembali? Atau ini hanya kebetulan belaka?
Namun keraguan itu selalu kembali menghampirinya setiap kali ia melihat wajah Kenzy. Tidak ada luka berbentuk bintang di pelipis kirinya. Rambutnya menutupi tempat itu sempurna. Dan pahlawannya... pahlawannya gagah dan berwibawa, bukan pemuda yang sering dihina dan direndahkan teman-temannya.
"Rania! Hei Rania!" Suara gadis lain memecah lamunannya. Itu Sari, salah satu gadis paling populer di jurusan, berjalan mendekati meja mereka bersama beberapa teman lainnya. "Mengapa kau duduk di sini bersama dia? Ayo ikut kami, ada tempat kosong di meja depan!"
Rania menatap Sari, lalu menatap Kenzy yang langsung menunduk, memandang makanannya seakan tidak mendengar apa-apa.
"Terima kasih, Sari," jawab Rania tenang. "Tapi aku sudah duduk di sini. Dan aku sedang makan bersama Kenzy."
Sari dan teman-temannya saling bertukar pandang, lalu tertawa sinis. "Kenzy? Siapa dia? Pemuda culun ini? Rania, kau bisa berteman dengan siapa saja, tapi jangan turunkan nilaimu dengan bergaul dengan orang yang tidak punya apa-apa!"
Kata-kata itu tajam, menusuk tepat ke hati Rania. Ia melihat bahu Kenzy yang sedikit menegang, namun ia tetap tidak menoleh, tetap diam. Seakan ia sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu.
"Kalian tidak boleh bicara seperti itu," ucap Rania, suaranya lembut namun tegas. "Kenzy adalah temanku. Dan dia tidak pernah menyakiti siapa pun. Itu lebih dari yang bisa kalian katakan tentang diri kalian sendiri."
Sari tertegun, tidak menyangka Rania akan membela Kenzy setegas itu. "Kau... kau memihak dia? Pada pemuda yang tidak dikenal ini?"
"Aku memihak kebenaran." Rania berdiri, menatap mereka dengan mata yang jernih. "Dan kalau kalian tidak bisa menghormati temanku, silakan pergi. Aku tidak akan ikut kalian."
Sari mendengus kesal, lalu berbalik dan pergi bersama teman-temannya, meninggalkan Rania dan Kenzy di meja itu. Suasana kembali hening, hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar pelan.
"Terima kasih," kata Kenzy akhirnya, suaranya begitu pelan hingga Rania nyaris tidak mendengarnya. Ia tidak mendongak, tidak menatap mata Rania. "Kau tidak perlu melakukannya."
"Bagiku, kau pantas dihargai seperti orang lain," jawab Rania lembut. "Mereka tidak mengenalmu, jadi mereka tidak berhak menghakimimu."
Kenzy mengangkat kepalanya sejenak, menatap Rania. Di matanya ada sesuatu yang bergetar — rasa terima kasih yang mendalam, namun juga kesedihan yang tak terucapkan. "Terima kasih, Rania."
Hati Rania berdegup kencang. Saat itu, untuk sesaat, ia merasa seakan ada sesuatu di balik tatapan Kenzy. Sesuatu yang kuat, yang tersembunyi di balik penampilan sederhananya. Namun seketika itu juga, Kenzy menunduk kembali, dan momen itu berlalu.
Minggu-minggu berikutnya, Rania dan Kenzy menjadi semakin dekat. Mereka berjalan bersama ke kelas, belajar bersama di perpustakaan, makan bersama di kantin. Teman-teman Rania masih sering menghina Kenzy, masih sering mencoba memisahkan mereka, namun Rania tidak peduli. Ia tahu hatinya. Ia tahu siapa yang baik dan siapa yang tidak.
Dan setiap hari, Rania belajar mengenal Kenzy lebih dalam. Ia tahu Kenzy pintar, sangat pintar — nilainya selalu yang tertinggi di kelas, meskipun ia jarang berbicara dan jarang terlihat belajar di depan orang lain. Ia tahu Kenzy lembut — selalu membantu siapa pun yang membutuhkan, bahkan pada mereka yang pernah menghinanya. Ia tahu Kenzy kuat — bukan kuat secara fisik, melainkan kuat dalam kesabaran, kuat dalam menahan diri, kuat dalam menghadapi hinaan tanpa pernah membalas dengan kebencian.
Namun semakin ia mengenal Kenzy, semakin ia juga bingung. Setiap kali ia melihat punggungnya, jantungnya berdebar — itu dia! Pahlawanku! Tapi setiap kali Kenzy berbalik, harapannya meredup — bukan dia. Tidak mungkin dia.
Suatu sore, saat mereka berjalan pulang melewati jalan yang sepi di pinggir kampus, sekelompok pemuda yang tampak mabuk menghalangi jalan mereka. Mereka berteriak-teriak, melemparkan kata-k********r, dan salah satu dari mereka mendorong bahu Rania hingga ia hampir jatuh.
"Berhenti."
Suara itu rendah, namun terdengar begitu tegas hingga pemuda-pemuda itu terdiam seketika. Rania menatap Kenzy. Ia berdiri di depan Rania, tubuhnya tegap, bahunya terlihat lebar dan kuat. Untuk sesaat, Rania terpaku. Postur itu... cara berdiri itu... persis seperti hari itu! Persis seperti pahlawannya!
Namun Kenzy tidak bergerak menyerang. Ia hanya berdiri di sana, menatap mereka dengan tenang. "Pergi. Sebelum ada yang terluka."
Pemuda-pemuda itu tertawa, namun ada keraguan di mata mereka. Sesuatu di aura Kenzy membuat mereka ragu. Akhirnya, dengan gumaman tidak puas, mereka pergi.
Saat mereka berlalu, Kenzy berbalik menghadap Rania. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut, khawatir.
Rania menatapnya, napasnya sedikit tertahan. "Kenzy... tadi... saat kau berdiri... punggungmu..."
Kenzy terdiam, menatapnya bingung. "Punggungku? Ada apa dengan punggungku?"
Rania menggeleng, menutupi kebingungannya dengan senyum tipis. "Tidak... tidak ada apa-apa. Terima kasih, Kenzy. Kau melindungiku lagi."
Kenzy menunduk, sedikit tersipu. "Hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan."
Malam itu, Rania duduk di tepi tempat tidurnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Pertanyaan yang sama kembali menghantui pikirannya. Mengapa? Mengapa punggung Kenzy begitu mirip? Mengapa cara dia melindunginya begitu mirip? Tapi wajahnya... tidak. Tidak ada luka bintang. Tidak ada rambut serigala.
Mungkin aku hanya merindukannya, batin Rania. Mungkin aku begitu ingin bertemu pahlawanku hingga aku melihatnya di mana saja, bahkan pada pemuda lain yang sama sekali berbeda.
Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang berbisik. Bagaimana kalau itu dia? Bagaimana kalau dia menyembunyikan sesuatu?
Pikiran itu membuat jantungnya berdebar. Namun ia segera menggeleng. Tidak mungkin. Kenzy tidak berkacamata saat itu. Tidak berambut poni. Dan yang paling penting — pahlawannya langsung pergi setelah menolong, tidak pernah menemaninya, tidak pernah berteman dengannya.
Tapi... mengapa ia merasa begitu aman di samping Kenzy? Mengapa setiap kali dia berjalan di sampingnya, ia merasa dilindungi, seakan tidak ada yang bisa menyakitinya? Mengapa kehadirannya saja sudah cukup membuatnya tenang?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Dan hari-hari terus berlalu.
Di sisi lain, Kenzy juga merasakan sesuatu yang berbeda. Selama satu tahun di kota ini, ia hidup dalam kesendirian. Ia belajar, bekerja, pulang, dan mengulanginya lagi. Tidak ada teman. Tidak ada yang peduli padanya. Semua orang melihatnya sebagai pemuda culun yang tidak berharga.
Lalu Rania datang.
Rania yang cantik, cerdas, baik hati — dan entah mengapa, memilih berdiri di sampingnya saat semua orang menjauh. Rania yang tersenyum padanya seakan ia adalah orang paling berharga di dunia. Rania yang membela namanya bahkan saat temannya sendiri menentangnya.
Setiap kali Rania menatapnya dengan mata yang jernih dan tulus, hati Kenzy terasa hangat. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia tahu ia tidak boleh terlibat terlalu dekat. Ia tahu ia menyembunyikan identitasnya, dan berbohong kepada gadis tulus ini terasa seperti dosa. Tapi setiap kali Rania tersenyum padanya, ia tidak sanggup menjauh. Ia tidak sanggup kehilangan satu-satunya cahaya yang menyinari hidupnya yang suram ini.
Maafkan aku, Rania, batinnya setiap kali ia menatap gadis itu. Maafkan aku karena tidak bisa jujur padamu tentang siapa aku sebenarnya. Tentang siapa yang bersembunyi di balik kacamata dan rambut poni ini. Belum saatnya kau tahu siapa diriku yang sebenarnya.
Dan di antara mereka, benih cinta itu tumbuh — perlahan, diam-diam, tanpa terucap. Mereka berjalan berdampingan, saling mendekat, namun terpisah oleh rahasia yang belum terbongkar. Rania mencari pahlawannya, tidak tahu bahwa pahlawan itu sedang berjalan di sampingnya. Kenzy pun belum menyadari bahwa gadis tulus di sampingnya adalah orang yang dulu ia selamatkan. Ia hanya takut — takut jika penyamarannya terbongkar, Rania akan kecewa dan menjauh.
Takdir mempertemukan mereka. Cinta menyatukan hati mereka. Namun rahasia itu... masih menggantung di antara mereka, seperti kabut tebal yang menutupi mata mereka berdua.
Suatu hari, kabut itu akan terangkat. Luka berbentuk bintang itu akan terlihat. Dan saat itu tiba — apakah mereka akan tetap berdiri bersama, atau takdir justru memisahkan mereka selamanya?
Kenzy tidak tahu. Rania pun tidak tahu. Mereka hanya tahu satu hal — bahwa di antara keraguan dan ketidaktahuan ini, hati mereka perlahan saling menemukan, tanpa mereka sadari.
Dan di kejauhan, takdir tersenyum misterius, menunggu saat yang tepat untuk membongkar rahasia terbesarnya.