Hari-hari terus berlalu. Semakin lama Rania dan Kenzy bersama, semakin dalam perasaan mereka tumbuh — namun semakin tebal juga keraguan yang menyelimuti hati Rania sendirian.
Bagi Kenzy, hari-hari ini hanyalah hari-hari biasa yang tiba-tiba menjadi terang karena kehadiran seorang gadis yang baik hati. Ia tidak mencari siapa-siapa. Ia tidak menoleh ke belakang. Masa lalu di sekolah lamanya — pengusiran, pertengkaran, gadis yang ia tolong sebentar lalu pergi — semuanya sudah menjadi bagian dari kehidupan yang ia coba lupakan sepenuhnya. Ia bahkan tidak pernah lagi memikirkan gadis yang ia bela hari itu. Baginya, itu adalah kejadian yang lewat begitu saja, sesuatu yang ia lakukan karena tidak tahan melihat ketidakadilan, lalu ia pergi dan melupakannya. Ia tidak pernah menanyakan namanya, tidak pernah melihat wajahnya dengan jelas, dan tidak pernah berniat mencarinya.
Ia hanya hidup di masa kini — di sini, di kota baru, dengan identitas baru, dan di samping Rania.
Namun bagi Rania, semuanya berbeda. Setiap hari ia berjalan di samping Kenzy, dan setiap hari matanya tak lepas dari punggungnya, dari cara ia berdiri, dari cara ia melangkah. Semakin lama ia bersama Kenzy, semakin kuat perasaannya — dan semakin bingung ia dibuatnya.
Suatu sore, setelah hujan turun deras sepanjang siang, udara di kampus terasa sejuk dan segar. Rania dan Kenzy berjalan berdampingan di sepanjang jalan setapak yang dipenuhi dedaunan basah. Matahari mulai terbenam, menyisakan cahaya keemasan yang menembus celah dedaunan, menciptakan bayangan-bayangan halus di wajah mereka.
"Kenzy," panggil Rania pelan, memecah keheningan. "Kau pernah merasa... seakan hidup ini sudah diatur untuk kita? Seakan ada tangan tak terlihat yang menentukan dengan siapa kita bertemu, dengan siapa kita berpisah?"
Kenzy melangkah pelan, matanya menatap jalan di depannya. "Aku percaya pada takdir, Rania. Tapi aku juga percaya bahwa takdir memberi kita pilihan. Kita bisa memilih untuk mendekat... atau menjauh."
"Dan kau memilih mendekat padaku?" tanya Rania, berani menatapnya.
Kenzy berhenti melangkah. Ia menatap Rania, dan untuk sesaat, kacamata tebalnya tidak lagi menyembunyikan seluruh perasaan di matanya. "Aku tidak pernah ragu memilih berada di sampingmu, Rania."
Jantung Rania berdegup kencang. Kata-kata itu sederhana, namun terdengar begitu tulus, begitu dalam. Ia ingin bertanya lebih banyak. Ia ingin bertanya siapa dia sebenarnya, dari mana dia berasal, mengapa punggungnya begitu akrab di ingatannya. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Ia takut mendengar jawaban yang akan mematahkan harapannya.
Beberapa hari kemudian, kejadian kecil namun bermakna besar terjadi.
Mata kuliah selesai lebih awal. Rania berjalan menuju perpustakaan, berniat mencari Kenzy yang biasanya sudah duduk di meja sudut dengan buku tebal di depannya. Saat ia mendekati lorong perpustakaan, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar — dan seorang mahasiswa yang terburu-buru berlari menabrak bahu Rania keras.
Rania terhuyung mundur, keseimbangannya goyah. Ia hampir jatuh ke lantai yang licin karena sisa air hujan.
Namun sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sebuah tangan yang kuat dan kokoh mencengkeram pergelangan tangannya, dan dengan satu tarikan lembut namun mantap, tubuh Rania terangkat kembali berdiri tegak.
Semua terjadi dalam sekejap. Rania tertegun, menatap tangan yang masih memegang pergelangannya. Tangan itu besar, urat-uratnya terlihat jelas, kulitnya kasar namun hangat — tangan seseorang yang terbiasa berlatih keras, mengangkat beban berat, melatih ototnya setiap hari. Tangan seorang atlet.
Perlahan Rania mendongak.
Kenzy.
Ia menatap Rania dengan mata yang sedikit melebar karena khawatir. Refleksnya begitu cepat, gerakannya begitu luwes — seakan ia sudah ribuan kali melakukan hal seperti ini.
"Kau tidak apa-apa?" suaranya penuh kekhawatiran. Tangan itu masih menahan pergelangan Rania, kuat namun tidak menyakiti.
Rania mengangguk pelan, napasnya tertahan. Gerakan itu... kecepatan itu... kekuatan di tangan itu... persis seperti yang ia ingat hari itu! Pahlawannya juga bergerak secepat itu, sekuat itu!
Tapi saat pandangannya beralih ke wajah Kenzy — kacamata tebal, rambut poni yang menutupi dahi — harapan itu kembali meredup. Bukan dia. Gerakan saja tidak cukup.
"Terima kasih," ucap Rania lembut, menarik tangannya perlahan. "Kau begitu cepat."
Kenzy menyadari tangannya masih memegang pergelangan Rania. Ia segera melepaskannya, sedikit menunduk seakan malu. "Maaf... aku hanya... tidak ingin kau terluka."
"Refleksmu luar biasa," kata Rania, menatapnya lekat-lekat, berusaha mencari sesuatu di matanya. "Kau pernah berlatih bela diri atau semacamnya?"
Kenzy tertegun sejenak. Pertanyaan itu sederhana, namun membuat jantungnya berdebar kencang. Ia hampir saja tergelincir dan mengaku. Namun janjinya pada orang tuanya, tekadnya untuk menyembunyikan masa lalunya — semuanya kembali terngiang. Dan masa lalu itu termasuk kejadian di sekolah lamanya, kejadian yang sudah ia coba hapus dari pikirannya.
"Dulu... sedikit saja," jawabnya akhirnya, menghindari tatapan Rania. "Tidak seberapa."
Jawaban itu singkat, namun Rania menangkap keraguan di matanya. Ia tahu Kenzy menyembunyikan sesuatu. Tapi apa? Mengapa ia menyembunyikannya?
Malam itu, Rania duduk di kamarnya, menatap langit-langit yang remang-remang. Pertanyaan-pertanyaan itu kembali berdatangan, satu demi satu.
Mengapa gerakan Kenzy begitu cepat dan kuat?
Mengapa punggungnya begitu mirip?
Mengapa setiap kali ia dalam bahaya, Kenzy selalu ada?
Apakah ini sekadar kebetulan? Atau ada sesuatu yang lebih besar dari semuanya ini?
Dan di sisi lain, di kamar yang tidak jauh dari sana, Kenzy juga terjaga sebentar sebelum akhirnya terlelap. Ia menatap pantulan dirinya di cermin — melihat rambut poninya, melihat kacamatanya, melihat bayangan dirinya yang tersembunyi di balik semua itu. Ia merasa bersalah karena menyembunyikan siapa dirinya sebenarnya dari Rania. Tapi rasa bersalah itu murni soal penyamaran identitasnya — bukan soal mengenali gadis di sampingnya. Ia sama sekali tidak menghubungkan Rania dengan gadis di halaman belakang sekolah itu. Baginya, itu adalah kejadian lama yang sudah lewat, seseorang yang ia tolong sebentar lalu dilupakan. Ia tidak pernah melihat wajah gadis itu dengan jelas, dan ia tidak pernah menanyakan namanya. Baginya, Rania adalah orang yang berbeda — gadis yang ia temui di universitas, gadis yang tulus dan baik hati, gadis yang ia cintai.
Mereka berdua berada di tempat yang sama, berjalan berdampingan setiap hari — namun Rania sendirilah yang mencari. Kenzy tidak mencari siapa-siapa. Ia sudah lama berhenti menoleh ke belakang. Ia hanya hidup di masa kini, menikmati setiap hari yang ia lalui di samping Rania, tanpa tahu bahwa gadis yang ia tolong hari itu adalah gadis yang sama yang kini berjalan di sampingnya.
Minggu berikutnya, universitas mengadakan acara olahraga tahunan. Lapangan utama dipenuhi ribuan mahasiswa, sorak-sorai bergema di mana-mana. Ada lari, lompat, lempar — dan juga pertandingan tinju antar fakultas.
Teman-teman Rania mendesaknya untuk menonton. "Ayo Rania! Di sana ada pertandingan tinju! Seru banget!"
Rania sebenarnya tidak terlalu tertarik, tapi ia ikut saja. Dan tentu saja, ia mengajak Kenzy.
"Kenzy, mau ikut menonton?" tanyanya.
Kenzy terlihat ragu sejenak. Ia menghindari segala hal yang berhubungan dengan bertarung. Mengingatkannya pada masa lalu yang ia coba tinggalkan — masa lalu yang bahkan ia sudah berusaha lupakan. Tapi melihat Rania menatapnya dengan harapan, ia tidak sanggup menolak. "Baiklah. Aku ikut."
Mereka duduk di barisan tengah. Di bawah, di atas ring, dua pemuda bertukar pukulan. Penonton bersorak keras. Rania menonton dengan minat biasa, namun matanya sesekali melirik ke arah Kenzy.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Saat salah satu petarung melancarkan serangan yang berbahaya, Rania melihat Kenzy menegang. Tubuhnya otomatis bersiap, matanya menatap gerakan petarung itu dengan ketajaman yang luar biasa — seakan ia sedang menganalisis setiap gerakan, tahu persis kapan akan menyerang, dari arah mana. Itu bukan tatapan orang awam. Itu tatapan seseorang yang sudah bertahun-tahun berada di dalam ring. Seseorang yang tahu setiap seluk-beluk pertarungan.
Rania menahan napas. Tatapan itu... tajam, percaya diri, penuh kekuatan — persis seperti tatapan pahlawannya!
Namun seketika itu juga, Kenzy menyadari dirinya. Ia menarik napas dalam, menunduk, dan tatapan tajam itu lenyap, berganti kembali menjadi tatapan lembut dan rendah hati yang biasa.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan, menoleh ke Rania.
Rania menatapnya, jantungnya berdegup kencang sekali. "Kenzy... tadi... matamu..."
"Mataku?" Kenzy terlihat bingung, namun ada kecemasan di matanya. "Ada apa?"
"Tidak... tidak ada apa-apa," Rania menggeleng, namun batinnya bergejolak hebat. Ada sesuatu. Ada sesuatu di dalam dirimu yang kau sembunyikan. Dan aku akan menemukannya.
Sore itu, setelah acara selesai, mereka berjalan pulang dalam diam. Sesuatu berubah di antara mereka. Keraguan Rania semakin kuat. Dan Kenzy... Kenzy merasa semakin terjepit. Setiap hari ia merasa semakin dekat dengan Rania, dan setiap hari ia merasa semakin takut — takut jika penyamarannya terbongkar, ia akan kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya merasa berharga.
Namun yang paling ironis dari semuanya — Kenzy sama sekali belum menyadari siapa Rania sebenarnya. Ia belum menghubungkan wajah cantik ini dengan gadis di halaman belakang sekolah yang dulu ia bela. Baginya, itu adalah masa lalu yang sudah ia coba lupakan. Ia tidak pernah menanyakan namanya, tidak pernah melihat wajahnya dengan jelas, dan tidak pernah berniat mencarinya. Dua dunia yang berbeda, dua orang yang berbeda — padahal mereka adalah satu dan sama.
Dan takdir hanya tersenyum, menunggu saat yang tepat untuk menyatukan kepingan-kepingan teka-teki ini.
Suatu hari nanti, kabut ini akan terangkat. Tatapan tajam itu, tangan yang kuat itu, punggung yang kokoh itu, dan luka berbentuk bintang yang tersembunyi di balik rambut poni itu — semuanya akan menyatu menjadi satu kebenaran.
Dan saat itu tiba... apakah cinta mereka cukup kuat menahan guncangan rahasia yang begitu besar? Atau justru rahasia itu yang akan memisahkan mereka selamanya?
Mereka belum tahu. Rania terus mencari. Kenzy tidak tahu bahwa ia yang dicari. Mereka hanya tahu satu hal — bahwa perasaan di antara mereka nyata. Dan itu saja, untuk saat ini, sudah cukup untuk membuat mereka terus berjalan berdampingan, menuju kebenaran yang entah kapan akan terungkap.