Perasaan yang Kuat

2654 Words

Arunika terbangun dengan mata yang masih terasa berat, kelopak matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar terbuka. Cahaya pagi sudah masuk dari jendela, hangat dan terang, membuatnya spontan menoleh ke arah pergelangan tangan. Detik itu juga jantungnya seperti terjatuh. Pukul sembilan. “Ya ampun…” gumamnya pelan, langsung bangkit duduk dengan rambut sedikit berantakan. Pikirannya langsung berlari ke jadwal hari ini, outbond mahasiswa baru, koordinasi panitia, evaluasi kegiatan malam tadi. Semua itu seharusnya sudah dimulai sejak pagi, dan ia… tertidur. “Duh, mana kemaren malah ilang dari sore lagi.” Namun saat kesadarannya mulai utuh, ada satu hal lain yang membuatnya berhenti. Ia tidak berada di sofa. Arunika menatap sekelilingnya. Ini kamar. Ranjang. Selimut yang r

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD