Lidah dalam Mulut

2656 Words

Pagi itu dimulai dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Arunika berdiri di dapur penthouse, rambutnya diikat asal, mengenakan pakaian santai namun rapi. Tangannya bergerak lincah di atas meja dapur, memotong bahan dengan ritme yang stabil, seolah memasak adalah satu-satunya cara untuk menata pikirannya yang sempat berantakan semalam. Ia memilih menu yang berbeda dari biasanya. Bukan sekadar makanan sederhana, tapi sesuatu yang… sedikit lebih “niat”. Pan yang panas mulai mengeluarkan aroma mentega saat ia meletakkan potongan roti sourdough, kemudian diikuti telur setengah matang dengan kuning yang masih lembut. Di sisi lain, ia menumis smoked beef tipis dengan sedikit lada hitam, lalu menambahkan salad sederhana dari sayur segar dan dressing ringan. Tidak lupa, i

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD