Mahadewan terbangun dengan napas berat dan kepala yang terasa seperti dihantam dari dalam. Denyutnya berirama, menyakitkan, menusuk hingga ke pelipis. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk dari jendela kamarnya. Beberapa detik pertama hanya diisi kebingungan. Langit-langit yang familiar. Aroma ruangan yang dingin. Dan selimut yang terasa rapi. Ia duduk perlahan di tepi ranjang, satu tangan menekan pelipis. “Sial…” gumamnya pelan. Kepalanya berdenyut lagi. Lalu ingatan itu datang… terpotong-potong, tapi cukup jelas untuk membuat rahangnya mengeras. Klub malam. Alkohol. Gelas demi gelas. Lalu… bayangan wajah. Arunika dan sesuatu yang terlalu dekat dalam mulutnya. “f**k! f**k! Bocah itu lagi!” Mahadewan langsung mengumpat pelan, napasnya tertah

