Bersamaan dengan naiknya berita itu, dunia seolah tidak memberi Arunika waktu untuk bernapas. Ponselnya yang sejak tadi berada di tangan kini terus bergetar tanpa jeda. Notifikasi dari grup angkatan, grup BEM, himpunan, bahkan chat pribadi datang bertubi-tubi seperti hujan batu. Layar itu penuh dengan potongan kalimat, link yang sama, tangkapan layar dari akun gosip kampus, sampai unggahan ulang di fanbase mahasiswa. Judul berita itu terus muncul berulang-ulang seolah sengaja dipaksa masuk ke dalam kepalanya: Mahadewan Jagat, Dekan Fakultas Hukum Berpacaran dengan Mahasiswanya Sendiri dan Diduga Melakukan Tindakan Tidak Bermoral di Tempat Umum. Kata-kata itu seperti pisau yang tidak langsung menusuk, tetapi menguliti perlahan, membuka rasa malu dan ketidakberdayaan di tempat yang sama.

