“Mungkin Pak Dewan emang orang yang sensitif… jadi burungnya bisa berdiri kapan aja. Hih, semoga aja dia nggak m***m ke gue, dan hal gila kayak sebelumnya gak terulang lagi,” gumam Arunika pelan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, wajahnya sedikit mengerut mengingat kejadian semalam yang terlalu… jelas untuk dilupakan begitu saja. Ia mendecak kesal, pipinya memanas karena marah dan kesal. Rasanya ingin sekali menyalahkan Mahadewan sepenuhnya, tapi bayangan tatapan pria itu diam, tajam, dan terlalu sadar justru membuatnya semakin tidak nyaman. Akhirnya, tanpa banyak pikir, Arunika memilih satu hal paling aman yaitu menghindar. Setelah mandi, ia mengenakan dress yang diberikan oleh Candra malam sebelumnya. Potongannya sederhana tapi elegan, dengan bahan yang jatuh lembut mengikuti

