Mahadewan tidak benar-benar memahami dirinya sendiri. Sejak keluar dari studio tadi, pikirannya terasa tidak sinkron dengan tubuhnya. Di kepalanya, ia terus mengulang satu hal yang sama, berulang-ulang seperti rekaman yang diputar paksa, yaitu meyakinkan dirinya kalau Arunika bukan tipenya. Sama sekali bukan. Terlalu sederhana. Terlalu… biasa. Tingginya bahkan hanya sebatas dadanya. Rambutnya ikal, bukan lurus berkilau seperti perempuan-perempuan yang selama ini terbiasa ia lihat. Matanya hitam legam tanpa gradasi, hidungnya kecil, bibirnya… Mahadewan menghela napas pelan, menghentikan pikirannya sendiri sebelum melangkah terlalu jauh. Ia berdiri bersandar di sisi ruangan lloby studio yang sepi, kedua tangannya masuk ke saku celana, wajahnya tetap datar seperti biasa. Di depannya, Arunik

