“Selama hampir satu bulan terakhir kondisi Noelle sudah kami stabilkan. Sel kanker dalam darahnya juga mulai merespon terapi sebelumnya dengan cukup baik. Besok kami akan memulai siklus kemoterapi berikutnya,” ujar dokter itu sambil menutup map berisi hasil pemeriksaan. “Namun kali ini kami menggunakan kombinasi obat yang berbeda. Ini bagian dari tahap terapi lanjutan untuk memastikan sel leukemianya benar-benar ditekan.”
Ruangan dokter itu terasa sunyi. Hanya suara mesin pendingin udara yang terdengar samar. Mahadewan berdiri di depan meja dokter dengan sikap tegak, kedua tangannya terlipat di daada, wajahnya tetap tenang seperti biasa. Namun dari cara matanya memperhatikan setiap lembar laporan, jelas ia tidak melewatkan satu detail pun.
“Berapa lama observasinya?”
“Biasanya sekitar lima hari setelah kemoterapi. Kami akan memantau apakah tubuh Noelle menerima kombinasi obat ini dengan baik. Jika tidak ada komplikasi seperti demam tinggi, infeksi, atau penurunan drastis sel darah maka kondisinya bisa dianggap stabil.”
“Saya ingin dia dirawat di rumah.”
“Kami memahami keinginan Bapak,” jawabnya hati-hati. “Secara psikologis memang lebih baik bagi anak jika bisa berada di lingkungan rumah. Namun untuk saat ini kami masih perlu memastikan hasil terapi besok.”
“Jika hasilnya baik?”
“Kalau respon tubuhnya stabil, kami bisa mengizinkan Noelle pulang minggu depan. Tapi tetap harus ada kontrol berkala.”
“Seberapa sering?”
“Dua minggu sekali,” jawab dokter itu. “Dia harus kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan darah dan evaluasi terapi.”
Mahadewan akhirnya menarik napas pelan. “Baik.”
Dokter itu menambahkan dengan nada sedikit lebih lembut, “Sejujurnya perkembangan Noelle cukup baik untuk ukuran leukemia anak. Kita hanya perlu memastikan terapi berikutnya berjalan lancar.”
“Terima kasih, Dokter.”
“Semoga hasilnya sesuai harapan kita.”
Mahadewan tidak menjawab lagi. Ia hanya memberi anggukan kecil sebelum berbalik meninggalkan ruangan itu.
Langkahnya tenang menyusuri koridor rumah sakit yang sudah mulai sepi. Lampu-lampu malam membuat lantai mengilap seperti kaca. Beberapa perawat berjalan pelan di ujung lorong, sementara suara monitor medis terdengar samar dari beberapa kamar pasien.
Mahadewan berhenti di depan pintu kamar VIP Noelle. Tangannya menyentuh gagang pintu, lalu perlahan membukanya.
Lampu kamar sudah diredupkan.
Cahaya bulan masuk melalui jendela besar yang menghadap kota, menciptakan bayangan lembut di dalam ruangan yang luas itu. Tempat tidur pasien berada di tengah, dikelilingi beberapa alat medis yang kini terlihat lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
Dan di atas ranjang itu… Noelle sedang tertawa keras.
Arunika duduk di sampingnya dengan buku cerita terbuka di tangan, sementara Noelle menggeliat sambil menendang selimut karena terus digelitik.
“Hahahaha! Kak Nika! Stop! Stop!”
Arunika tertawa kecil. “Kalau Noelle gak ngejek, nanti Kakak berhenti gelitiknya. Stop gak?”
“Hahaha! Aduh! Tapi Kakak lucu! Hahaahaha!” Mahadewan baru saja melangkah masuk ketika Noelle melihatnya. “Papa!”
Anak itu langsung duduk tegak dengan wajah berbinar, Arunika pun berhenti menggelitik.
“Sini baca buku hantu sama Noelle!”
Mahadewan menatap keduanya beberapa detik sebelum berjalan mendekat. “Kenapa lampunya dimatikan?”
Noelle menunjuk buku di tangan Arunika dengan semangat. “Karena kita lagi baca cerita horror!”
Arunika tersenyum canggung. “Dia yang minta.”
Noelle langsung memotong, “Tadi Kak Nika juga bisa suara kuntilanak!”
Mahadewan mengangkat alis. “Benarkah?”
Noelle mengangguk cepat. “Lucu banget! Kak Nika bilang— Hmphhhh!” Anak itu hendak menirukan suara melengking, membuat Arunika buru-buru menutup mulutnya sendiri menahan tawa. “Sudah, sudah,” ucap Arunika malu. “Jangan ditiru.”
Mahadewan tidak bisa menahan senyum kecil yang jarang sekali muncul di wajahnya.
“Papa duduk sini!”
“Oke.” Mahadewan menurut.
Namun ranjang rumah sakit itu cukup sempit. Arunika yang mencoba bergeser hampir kehilangan keseimbangan. “Ah!”
Tubuhnya hampir jatuh jika saja tangan Mahadewan tidak dengan cepat menahannya. Pria itu memegang lengannya kuat sebelum ia benar-benar terjatuh.
Arunika langsung membeku. “Terima kasih,” gumamnya pelan sambil segera menjauh.
Mahadewan menatap ranjang itu sebentar. “Tempatnya terlalu sempit.”
Noelle langsung cemberut. “Aku mau sama Papa dan Kak Nika.”
Mahadewan berpikir sebentar sebelum akhirnya menoleh ke sofa besar di sisi ruangan. “Kalau begitu kita pindah tiduran di sofa. Bagaimana? Mumpung Noelle juga bebas bergerak ‘kan? tidak ada yang menempel?”
“Mauuuu!”
Mahadewan segera memanggil pelayan pribadinya, meminta tempat disiapkan. Beberapa menit kemudian sofa panjang itu dibuka hingga berubah menjadi kasur lebar. Beberapa bantal tambahan disusun rapi, selimut juga dibentangkan.
Noelle langsung berlari kecil dari ranjangnya dengan penuh semangat.
“Wah! Kayak di rumah!” Ia langsung melompat ke tengah kasur sofa. “Papa sini! Kak Nika sini!”
Mahadewan duduk di satu sisi sementara Arunika duduk agak canggung di sisi lainnya.
Noelle tampak sangat senang. “Ini kayak teman-teman Noelle di sekolah,” katanya ceria. “Mereka bilang kalau tidur selalu di tengah Papa Mama.”
Mahadewan terkekeh pelan, tangannya merangkul bahu kecil putrinya. “Kalau begitu cepat sembuh. Supaya nanti ketemu teman-teman kamu lagi.”
Noelle mengangguk penuh semangat. “Aku mau sembuh!”
“Nah begitu harus semangat.”
“Iya! Supaya bisa kasih tahu Oma sama Opa kalau Noelle punya Mama baru.”
Arunika langsung menegang.
Mahadewan menatapnya sekilas.
Noelle melanjutkan dengan polos, “Terus nanti kita bisa ikut pernikahan Papa! Kan Noelle udah sembuh, jadi bisa ikut pesta. Iya ‘kan? Noelle ikutan disana, gak di rumah sakit.”
Arunika memaksakan senyum kecil. “Iya… tapi Noelle harus makan banyak dulu. Dan cepat sembuh.” Ia mengelus kepala Noelle. “Sekarang fokus dulu pada hal ini, oke?” tambahnya lembut.
Noelle mengangguk dan terus bercerita tentang teman-temannya, tentang boneka baru yang dijanjikan Papa, sampai akhirnya suaranya mulai pelan. Ia menguap. “Noelle ngantuk…”
Mahadewan langsung berbaring miring. “Sini Papa peluk.”
“Kak Nika juga, peluk Noelle.”
Arunika membeku. “Eh—” Noelle sudah menarik tangannya supaya memeluknya.
Dan dengan posisi ini, tangannya dengan tangan Mahadewan tumpeng tindih. Arunika merasakan tangan besar kekar dan berurat itu menutup seluruh tangannya yang kecil.
Noelle tampak sangat puas. Beberapa menit kemudian napasnya mulai teratur. Ia tertidur.
Namun Arunika yang berpelukan dengan Mahadewan tidak berani bergerak sedikit pun. Situasi ini terlalu aneh. Jantungnya berdetak cepat. ia ingin menarik tangannya tapi takut membangunkan Noelle. Dan Mahadewan juga diam saja menatap putrinya yang terlelap.
Namun kelelahan hari itu akhirnya membuat matanya perlahan menutup, Arunika pun ikut tertidur.
Mahadewan masih terjaga. Pria itu menatap kedua sosok yang kini terlelap di sisinya.
Putrinya dan ketua BEM kampusnya. Ia menghela napas pelan. “Sungguh situasi yang aneh,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.
***
Arunika merasa tubuhnya seperti terperangkap. Geraknya terbatas sekali, bahkan bernapas pun terasa sesak. Sesuatu menahan pinggangnya dengan kuat, hangat, dan terlalu dekat hingga membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Selimut terasa berat, dan ada hembusan napas yang mengenai tengkuknya.
“Apa… ini?” gumamnya setengah sadar.
Perlahan Arunika membuka mata. Beberapa detik ia hanya memandang langit-langit kamar rumah sakit yang redup, otaknya masih mencoba mengingat dimana ia berada. Lalu kesadarannya mulai kembali, satu demi satu.
Rumah sakit. Noelle. Sofa yang dijadikan tempat tidur. Dan… Mahadewan.
Mata Arunika membelalak.
Pria itu memeluknya erat dari belakang. Lengan Mahadewan melingkar di pinggangnya dengan kuat, wajahnya hampir menempel di leher Arunika. Hembusan napasnya terasa jelas di kulitnya yang sensitif. Dan…. Sesuatu mengeras tepat menekan ke bookongnya!
“Aaaaaa!”
Arunika refleks menjerit. Ia langsung berontak sekuat tenaga, panik setengah mati. Tanpa sengaja kakinya menendang keras ke arah tubuh Mahadewan.
“BUGH!” BRUK!
Mahadewan jatuh dari sofa ke lantai dengan suara keras. Arunika langsung duduk tegak dengan napas memburu.
“APA YANG BAPAK LAKUKAN?!” teriaknya dengan wajah merah padam.
Mahadewan yang baru saja jatuh langsung bangkit dengan ekspresi marah. Tangannya spontan menekan perut bagian bawahnya sambil mengumpat pelan. Sialan, Arunika menendang bagian selangkangannya!
“Kamu gila?!”
“Bapak yang gila!” balas Arunika tidak kalah emosi. “Kenapa Bapak memeluk saya?!”
Mahadewan menatapnya tajam seperti ingin mencekiknya dengan tatapan saja. “Memeluk kamu?” ulangnya dengan nada mengejek.
“IYA!”
Mahadewan mendengus kesal. “Saya tidak pernah berniat memeluk kamu. kamu pikir saya mau peluk kamu, atas dasar apa?”
Arunika mengerutkan kening.
“Lalu ini apa?!” katanya sambil menunjuk tangannya sendiri yang tadi jelas berada dalam pelukan pria itu. “Bapak tadi peluk saya erat.”
Mahadewan berdiri, menyilangkan tangan di d**a, wajahnya kembali menjadi dingin dan sinis seperti biasa sambil mencoba menahan rasa sakit. “Saya memeluk Noelle.”
“Noelle tidak ada.”
“Hei, saya bilang kamu harus mikir, mana ada saya mau peluk kamu, Arunika? Karena apa? Kamu cantik juga tidak.”
Arunika hampir meledak. “Tapi jelas-jelas tadi Bapak peluk saya.”
Mahadewan mendecakkan lidahnya. “Karena kamu yang bergerak ke tengah.”
“Apa?!”
Mahadewan menunjuk sofa dengan kesal. “Tadi malam Noelle ada di tengah. Saya memeluk anak saya. Kamu yang entah bagaimana bergeser sampai menempel ke saya. Coba lihat bagian posisi kamu duduk sekarang, mepet sekali pada saya, bukannya saya yang harusnya merasa dirugikan, kamu menjebak saya supaya saya memeluk kamu.”
Arunika langsung terdiam beberapa detik. “Tidak mungkin.”
Mahadewan menatapnya dengan ekspresi datar. “Ya kamu pikir saja, kenapa saya harus memeluk kamu.”
Nada suaranya kembali penuh ejekan.
Mereka berdua terus berdebat dengan suara setengah tertahan agar tidak terlalu keras. Mahadewan tetap dengan sikap dingin dan menyindir, sementara Arunika semakin kesal namun juga sedikit takut menghadapi pria yang jelas masih berkuasa di kampus.
“Tetap saja,” protes Arunika. “Bapak memeluk saya.”
Namun sebelum perdebatan mereka berlanjut lebih jauh… Ceklek! Pintu kamar terbuka.
Arunika dan Mahadewan langsung menoleh bersamaan. Di pintu terlihat Noelle masuk dengan kursi roda yang didorong seorang perawat. Wajah anak kecil itu cerah sekali seperti baru pulang dari petualangan besar.
“Selamat pagi!” Noelle melambaikan tangan dengan ceria.
Mahadewan langsung berubah sikap seketika. “Pagi, Nak.”
Arunika juga memaksakan senyum. “Pagi, Noelle.”
“Kamu dari mana saja? Kenapa Papa tidak menemukan Noelle dimanapun, hmmm?”
“Tadi Noelle minta jalan-jalan ke taman sebentar. Katanya bosan, Pak,” sang perawat menjawab.
Noelle langsung menyela dengan suara kecilnya penuh semangat.. “Iyaaa! Bosan liat Papa sama Kak Nika peluk-pelukan!”
Arunika langsung membeku. Mahadewan juga. Sementara Noelle melanjutkan ceritanya tanpa merasa ada yang aneh. “Tadi malam Noelle bangun, terus pipis ke kamar mandi.”
Mahadewan dan Arunika saling melirik.
“Terus Noelle mau balik lagi ke sofa,” lanjut anak itu sambil menunjuk mereka, “tapi Papa sama Kak Nika udah pelukan. Gak ada tempat untuk Noelle.”
Arunika hampir tersedak udara.
“Jadi Noelle tidur lagi aja di ranjang!” Anak itu tertawa kecil seperti menceritakan sesuatu yang sangat lucu.
Mahadewan dan Arunika saling menatap.
Beberapa detik. Lalu keduanya tersenyum kaku bersamaan.
“Iya… begitu ya,” kata Mahadewan dengan suara yang dipaksakan tenang.
Arunika ikut tertawa. “Maafkan Kakak ya, Kakak kira yang Kakak peluk itu Noelle.”
Mahadewan kemudian berjalan mendekat dan menggendong Noelle dari kursi rodanya. “Sudah jalan-jalan jauh?”
“Iya! Ada bunga! Sama burung!”
Mahadewan tersenyum tipis. “Sekarang kita siap untuk obat baru ya.”
Noelle mengangguk semangat. “Noelle berani!”
Arunika berdehem pelan, mencoba kembali bersikap normal meskipun jantungnya masih berdetak cepat karena kejadian barusan.
Namun saat Mahadewan berjalan kembali ke arah tempat tidur… Arunika memperhatikan sesuatu.
Langkah pria itu sedikit aneh, agak pincang.
Matanya langsung menyipit.
Oh. Tadi…
Arunika menahan senyum canggung, Karena beberapa menit lalu… kakinya jelas menendang sesuatu yang sangat sensitif.
Mahadewan menoleh sekilas padanya.
Arunika langsung pura-pura melihat ke arah lain, namun sudut bibirnya jelas menahan tawa dan Mahadewan tentu menyadarinya, pria itu menatapnya dengan tajam.
Arunika hanya mengangkat bahu polos. Dalam hati ia bergumam pelan, Mungkin… itu balasan kecil untuk semua kesombongannya.