Belas Kasih

1961 Words
“Ar, lo cerita gak sih, sekarang lo tinggal di mana?” tanya Vianne sambil menyandarkan punggungnya pada kursi plastik di ruang sekretariat BEM. Tangannya memegang gelas kopi dingin yang sudah hampir habis, sementara matanya menatap Arunika dengan ekspresi penasaran. Ruangan sekretariat siang itu cukup ramai. Beberapa anggota BEM lalu lalang membawa berkas, suara keyboard laptop saling bersahutan, dan papan tulis besar di dinding penuh dengan jadwal kegiatan organisasi bulan ini. Namun Arunika tampak tidak terlalu memperhatikan semua itu. Ia duduk di meja panjang dengan laptop BEM terbuka di depannya, jari-jarinya mengetik cepat tanpa berhenti. Restika yang duduk di sebelah Vianne ikut mencondongkan badan ke depan. “Serius, Ar. Lo cerita deh,” katanya dengan nada curiga. “Sampai Pak Dekan tiba-tiba kasih kesempatan lagi buat beasiswa lo yang udah ditarik.” Arunika masih tidak menoleh. “Lo gak aneh-aneh kan sama Pak Dekan?” Baru kali ini Arunika berhenti mengetik. Ia mengangkat wajahnya sebentar, menatap dua sahabatnya dengan ekspresi datar. “Mungkin beliau berubah pikiran.” Vianne langsung mendengus. “Pak Mahadewan berubah pikiran?” katanya tidak percaya. “Yang bener aja.” “Tau lah, yang penting kan kita gak rugi, guys.” Restika menyipitkan mata. “Terus lo tinggal di mana sekarang?” Arunika tidak menjawab. Ia kembali mengetik dengan fokus, seolah-olah laporan di depannya jauh lebih penting daripada dua orang yang sedang menginterogasinya. Beberapa detik kemudian Vianne menyerah sambil mengangkat tangan. “Rahasia banget.” “Terserah lo deh.” Arunika akhirnya menekan tombol enter terakhir sebelum menutup laptop itu perlahan. “Udah selesai,” gumamnya. Tepat saat itu pintu sekretariat terbuka. Johan, wakil ketua BEM, masuk dengan membawa beberapa map berisi berkas. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru berlari dari gedung lain. “Eh, lo semua di sini,” katanya sambil berjalan mendekat. Arunika langsung berdiri. “Jo, pas banget.” “Ada apa?” Arunika membuka kembali laptopnya dan memutar layar sedikit agar Johan bisa melihat. “Gue udah buat kerangka proposal untuk kegiatan LDKM tahun ini.” “Mana gue lihat. Tetep di batalyon ‘kan?” “Iyalah, Mahasiswa Baru itu harus rasain dulu gimana sekarang mereka bukan lagi siswa, tapi MahaSiswa.” Restika langsung bersiul kecil. “Wah, keren juga.” Arunika melanjutkan dengan nada serius seperti biasa. “Ini bukan cuma buat mahasiswa angkatan baru dari seluruh jurusan, tapi kita juga bakalan belajar.” Johan mengangguk perlahan. “Dan karena itu gie butuh data dari seluruh himpunan mahasiswa tingkat fakultas.” Ia menatap Johan langsung. “Tolong lo koordinasikan dengan ketua pelaksana. Minta mereka kumpulin jumlah peserta dari masing-masing jurusan.” Johan membuka mapnya. “Deadline?” “Lusa.” Vianne langsung memekik kecil. “Gila, Ar! Cepet banget.” Arunika tidak terlihat terpengaruh. “Besok malam semua data udah harus masuk ke gue, gue yang akan cek satu per satu.” Johan menghela napas. “Baik, Bu Ketua.” Arunika menutup laptopnya lagi. “Satu lagi.” Semua orang menoleh padanya. “Sore ini gue pulang lebih cepet, kalau ada apa-apa hubungi aja ya.” Restika langsung mengangkat alis. “Kenapa?” “Ada yang harus gue kerjain.” Vianne menyipitkan mata. “Kerjaan sampingan?” Arunika memasukkan laptop ke dalam tas. “Enggak.” “Jangan lupa lo itu ketua BEM,” kata Restika mengingatkan. “Masa ditinggal-tinggal mulu.” Arunika menoleh sambil tersenyum tipis. “Santai, gue gak akan lupa.” Ia lalu berhenti sebentar seperti mengingat sesuatu. “Jo.” “Nape?” “Proposal LDKM tahun lalu ada di mana?” “Di lo,” jawab Johan spontan. “Jangan suruh gue cari, lo yag waktu itu bawa dari Kak Bayu.” Arunika langsung mengerutkan kening. “Enggak ada.” “Ada,” kata Vianne sambil menunjuknya. “Lo yang bawa waktu rapat evaluasi semester lalu.” Arunika membeku beberapa detik. Lalu wajahnya berubah. “Oh.” Ia ingat sekarang. Proposal itu pernah ia bawa pulang ke rumah pamannya untuk diperiksa ulang. “Sial,” gumamnya pelan. Restika menatapnya. “Ada di mana?” Arunika mengangkat tasnya. “Gue ambil dulu.” “Di mana?” “Rumah paman.” “Halahhh, ribut lagi dah sama anomaly satu itu.” “Haahahaha, dah bias ague. Bye yaaa. Nanti gue kirim ke kalian proposalnya biar jadi perbandingan buat tahun ini.” Ia keluar dari sekretariat dengan langkah cepat. Koridor fakultas hukum menjelang sore itu cukup ramai oleh mahasiswa yang baru selesai kelas. Arunika berjalan melewati mereka tanpa benar-benar memperhatikan siapa pun. Gedung lembaga fakultas berada tidak jauh dari sekretariat BEM. Namun saat ia menaiki tangga menuju lantai dua Gedung Lembaga, Langkahnya berhenti. Rinjani hendak menuruni tangga juga. Sekretaris prodi itu menatapnya dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Arunika hanya membalasnya dengan pandangan singkat sebelum berjalan melewatinya begitu saja. Ia tidak punya waktu untuk drama kecil hari ini. Beberapa menit kemudian ia sudah berdiri di depan ruang dekan. Sekretaris pribadi Mahadewan yang berada di meja depan tersenyum tipis dan langsung mempersilahkannya, sepertinya wanita itu tahu hubungan mereka? yang terlibat sandiwara? Arunika mengetuk pintu sekali sebelum masuk. Mahadewan sedang duduk di belakang meja besar dengan beberapa dokumen terbuka di depannya. “Pak,” kata Arunika cepat. “Saya izin ke rumah lama dulu. Ambil proposal kegiatan BEM yang tertinggal.” Mahadewan mengangkat wajahnya. “Kita harus ke Rumah sakit.” “Iya, nanti saya langsung kesana kok.” Mahadewan menatapnya beberapa detik. “Jangan terlambat.” “Tidak akan, boleh kan Pak?” Mahadewan menyandarkan tubuhnya di kursi. “Kalau kamu tidak datang…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Namun Arunika sudah mengerti maksudnya. “Saya datang. Terima kasih ya, Pak, saya permisi dulu.” Ia lalu keluar dengan langkah tergesa. Mahadewan menggeleng pelan melihat pintu yang kembali tertutup. Anak itu benar-benar sibuk. Ruangan kembali sunyi. Mahadewan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memijat pelipisnya. Pagi tadi Noelle sudah menerima obat kemoterapi baru. Ia dan Arunika menemaninya sepanjang proses. Sejauh ini perawat pribadi Noelle belum menghubunginya. Artinya… belum ada hal buruk. Mahadewan menutup matanya sebentar. Ia bukan lelah karena Noelle. Ia lelah… melihat putrinya menderita. “Sial,” gumamnya pelan sambil melirik jam di dinding. “Jam segini sudah ingin minum alkohol.” **** Mahadewan akhirnya meninggalkan gedung fakultas menjelang sore. Kepalanya terasa berat sejak siang, seolah semua hal dalam hidupnya datang bersamaan tanpa jeda. Di parkiran, mobil hitam yang biasa menemaninya sudah menunggu. Kali ini bukan ia yang mengemudi. Di kursi depan duduk Arlo. Pria itu menoleh ketika Mahadewan membuka pintu belakang. “Kita langsung ke rumah sakit, Pak?” Mahadewan masuk tanpa banyak bicara, lalu menyandarkan punggungnya pada jok kulit yang dingin. “Iya.” Arlo menyalakan mesin mobil dengan tenang. Ia sudah mengenal Mahadewan sejak pria itu masih kecil, bahkan mereka tumbuh bersama karena umurnya tidak jauh beda. Dulu ayah Arlo adalah ajudan setia kakek Mahadewan, Adipati Jagat. Ketika ayahnya pensiun, Arlo yang menggantikan posisi itu. Hubungannya dengan keluarga Jagat sudah seperti bagian dari sistem yang diwariskan. Mobil mulai bergerak keluar dari area kampus. Mahadewan memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya. Arlo melirik lewat kaca spion. “Bapak kelihatan pusing sekali.” “Biasa.” “Kalau mau berhenti sebentar beli kopi—” “Tidak usah.” Jawaban itu singkat dan tegas. Arlo tidak memaksa lagi. Jalanan Jakarta sore itu mulai padat. Klakson bersahutan, motor menyelip di antara mobil, dan lampu lalu lintas berkali-kali memaksa kendaraan berhenti. Mahadewan membuka matanya, memandang keluar jendela tanpa benar-benar fokus pada apa pun. Banyak sekali hal menumpuk di kepalanya. Kakeknya, Adipati Jagat menuntutnya untuk benar-benar menguasai Yayasan keluarga. Semua sistem pendidikan, keuangan, bahkan jaringan politik yang menopangnya. Ayah dan ibunya? Tidak bisa diandalkan untuk hal-hal seperti itu. Ayahnya, Menteri Pendidikan, hampir selalu berada di luar negeri menghadiri forum internasional, konferensi pendidikan global, atau pertemuan kerja sama universitas dunia. Ibunya ikut mendampingi dalam beberapa agenda diplomasi pendidikan. Sementara itu… Putrinya sakit. Mahadewan menghembuskan napas panjang. Matanya yang kosong tiba-tiba menangkap sesuatu di pinggir jalan. Ia menyipit. “Arlo.” “Ya, Pak?” “Pelankan mobilnya.” Arlo sedikit mengurangi kecepatan mobil. Mahadewan menatap ke arah trotoar. Seorang perempuan berjalan sendirian di sisi jalan raya, membawa tas ransel di punggungnya. Langkahnya cepat, tetapi tubuhnya terlihat lelah. Mahadewan mengenali siluet itu hampir seketika. “Ada apa, Pak?” “…Itu Arunika.” Arlo mengerutkan kening dan ikut melihat ke arah yang dimaksud. “Yang itu, Pak?” “Iya.” Mahadewan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Ikuti dia. Pelan saja.” Arlo sempat terlihat bingung, tetapi ia tetap mengangguk. “Baik, Pak.” Mobil bergerak perlahan, menjaga jarak beberapa puluh meter di belakang Arunika. Beberapa saat kemudian Arlo kembali berbicara. “Itu perempuan yang sering bersama Nona Noelle, ya? Yang sekarang tinggal bersama Bapak?” Mahadewan mengangguk singkat. “jaga ucapanmu.” “Maaf, pak.” Arlo menatap jalan lagi. “Pak Cakra dan Ibu Citra selalu menelpon saya, mereka selalu menanyakan kabar Nona Noelle.” Mahadewan tidak menanggapi. “Ikuti saja perempuan itu. Saya heran kenapa dia berjalan kaki hingga tampilannya lusuh seperti itu.” “Baik, Pak.” Mobil mereka terus mengikuti Arunika yang kini berbelok menuju sebuah gang kecil di sisi jalan. Langkah Arunika melambat, ia berhenti di depan mulut gang. Dari dalam gang, seseorang keluar. Seorang perempuan. Mahadewan melihat jelas wajah itu ketika perempuan tersebut berhenti tepat di depan Arunika. Sementara itu, Arunika menatap sosok yang berdiri di hadapannya dengan ekspresi kaku. “Nisya.” Perempuan itu langsung menyilangkan tangan di d**a. “Mau ke mana lo?” Nada suaranya tajam, penuh sinis. Arunika menarik napas pelan. “Gue cuma mau ambil barang yang tertinggal.” Nisya tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih seperti ejekan. “Barang lo?” Arunika menahan emosinya. “Proposal BEM tahun lalu masih ada di rumah. Gue cuma butuh itu.” Nisya melangkah mendekat, matanya menyipit penuh kebencian. “Gak usah balik lagi jadi benalu di rumah orang tua gue.” Arunika mengatupkan rahangnya. “Gue gak akan tinggal lagi di sana.” “Iyalah, mana mungkin gue izinin.” Nisya mengangkat alis. “Karena barang lo juga udah gak ada, udah gue buang yang tersisa.” Arunika mengerutkan kening. “Maksud lo?” Nisya menunjuk ke arah samping di luar gang, Di sana berdiri sebuah bak sampah besar yang penuh dengan kantong plastik hitam. “Semua barang lo udah gue buang ke situ.” Arunika membeku. “Apa?” Nisya tersenyum puas. “Biar sekalian. Jadi lo gak punya alasan balik lagi.” Tanpa berpikir panjang Arunika langsung berlari ke arah bak sampah itu. Tangannya gemetar ketika ia membuka kantong plastik satu per satu. Bau busuk langsung menyeruak. Namun ia tidak peduli. Ia mengaduk tumpukan plastik, kardus, dan pakaian yang kotor. “Mana… mana…” Matanya akhirnya menangkap sesuatu. Map biru. Proposal BEM. Arunika hampir menangis lega saat meraihnya, Namun tiba-tiba dorongan keras menghantam punggungnya. “Ah!” Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Bruk! Arunika jatuh langsung ke dalam bak sampah besar itu. Kresek kotor menempel di pakaiannya, sisa makanan basi menempel di tangannya. Di depan sana, Nisya tertawa keras. “Ups.” Ia menutup mulut pura-pura kaget. “Gak sengaja.” Arunika mengangkat wajahnya dengan mata yang memerah. “Nisya!” Nisya malah melangkah mendekat sambil menunjuknya. “Semua kesialan gue karena lo! Sejak lo datang ke rumah itu semuanya jadi hancur!” Ia berteriak semakin keras. “Pergi dari hidup gue! Lo pembawa sial!” Tanpa mereka sadari, mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari sana menjadi saksi semuanya. Di dalam mobil, rahang Mahadewan mengeras. Tatapannya dingin. Sangat dingin. “Arlo.” “Ya, Pak.” “Cari tahu perempuan itu.” Arlo menoleh sedikit. “Yang mendorong Nona Arunika?” “Iya.” Mahadewan menatap lurus ke depan. “Kalau dia mahasiswa di kampus saya…” Suara Mahadewan berubah sangat pelan. “…keluarkan dia.” Arlo langsung mengangguk. “Baik, Pak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD