“Terima kasih karena sudah mengantarku,” kata Aiko kepada Takumi ketika mereka sudah tiba di stasiun. “Keretaku akan datang sebentar lagi. Kau tidak perlu menungguku.”
“Tidak apa-apa,” kata Takumi. Ia mengikuti Aiko masuk ke stasiun sambil menjinjing tas pakaian gadis itu. “Kau naik kereta apa?”
“Kereta Nozomi. Itu yang paling cepat,” sahut Aiko. Ia duduk di salah satu kursi dan memeriksa tas tangannya, memastikan tiketnya sudah ada.
Takumi duduk di kursi di sebelah Aiko, memperhatikan gerak-gerik gadis itu dengan tenang. Ia sempat menduga Aiko akan datang dengan koper besar, penuh barang bawaan seperti yang sering ia lihat pada orang lain ketika bepergian. Namun dugaan itu salah. Aiko hanya membawa sebuah tas tangan kecil dan satu tas jinjing berisi pakaian. Penampilan sederhana itu membuat Takumi sedikit terkejut, meski ia tidak mengomentarinya secara langsung.
Aiko kemudian menjelaskan alasannya. Ia masih memiliki banyak pakaian di rumah orang tuanya di Kyoto. Karena itu, ia merasa tidak perlu membawa terlalu banyak barang. Bahkan, menurutnya, ia sebenarnya bisa saja berangkat tanpa membawa pakaian sama sekali. Baginya, perjalanan ini bukan tentang barang bawaan, melainkan tentang tujuan yang ingin ia capai.
Takumi mendengarkan dengan seksama. Ia mulai memahami bahwa Aiko bukan tipe orang yang repot dengan hal-hal kecil. Sikap praktis itu membuat suasana di antara mereka terasa lebih ringan. Takumi merasa perjalanan ini akan berjalan dengan sederhana, tanpa banyak kerumitan, dan ia mulai menghargai cara Aiko melihat kebutuhan dengan lebih realistis.
“Jam berapa kau akan tiba di Kyoto?” tanya Takumi.
Aiko melirik jam tangannya. “Dari sini ke Kyoto hanya butuh sekitar dua jam dua puluh menit. Pokoknya hari belum gelap kalau aku tiba di Kyoto.” Ia menoleh ke arah Takumi. “Kenapa?”
“Telepon aku kalau sudah sampai.”
“Oke,” sahut Aiko ringan. Lalu ia terdiam sejenak, memiringkan kepala dan bertanya, “Tapi kenapa aku harus meneleponmu?”
“Supaya aku tahu kau sudah tiba dengan selamat.”
“Untuk apa? Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu?” protes Aiko. “Lagi pula, bukankah ponselmu sedang diperbaiki?”
“Ah, benar,” gumam Takumi sambil menepuk keningnya. “Kalau begitu, biar aku yang meneleponmu nanti.”
Aiko tidak sempat menjawab karena tiba-tiba lagu Fly High terdengar nyaring. Ia mengeluarkan ponselnya yang berkedip-kedip dari tas tangan dan membaca tulisan yang muncul di layar. Alisnya terangkat dan ia cepat-cepat menempelkan ponsel ke telinga.
“Moshi-moshi? Sensei?”
Kepala Takumi berputar cepat ke arah Aiko. Gadis itu berdiri dari kursinya dan berjalan agak menjauh. Takumi sempat mendengar Aiko berkata, “Sensei sudah menerimanya?” Lalu ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi.
Akira mungkin menelepon Aiko untuk mengucapkan terima kasih atas biskuit yang ia berikan. Sebelumnya, saat pergi ke stasiun, Aiko meminta Takumi untuk berhenti sejenak di rumah sakit tempat Akira bekerja. Ia ingin memberikan hadiah Natal langsung kepada Akira. Takumi tidak menolak, tetapi ia memilih menunggu di mobil. Ia merasa belum saatnya Akira tahu bahwa ia kenal Aiko, jadi ia membiarkan Aiko masuk sendiri.
Di dalam rumah sakit, keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Akira sedang sibuk menangani seorang pasien, sehingga Aiko tidak bisa bertemu dengannya. Ia akhirnya menitipkan biskuit itu kepada seorang suster jaga dengan pesan singkat agar disampaikan kepada Akira. Meski sederhana, Aiko tetap ingin memastikan hadiah itu sampai.
Takumi melihat Aiko kembali ke mobil dengan langkah tenang. Ia tidak tampak kecewa, hanya menerima keadaan sebagaimana adanya. Bagi Aiko, yang penting adalah niatnya tersampaikan. Takumi memahami sikap itu dan mulai melihat betapa Aiko selalu berusaha menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, meski harus dilakukan dengan cara yang sederhana.
Takumi mengangkat wajah ketika Aiko duduk kembali di kursi di sampingnya. “Si dokter cinta?” tanya Takumi datar.
“Ya. Dia menelepon karena sudah menerima biskuitnya dan ingin berterima kasih,” sahut Aiko ringan. Ia terdiam sejenak, lalu bertanya,
“Ngomong-ngomong, kenapa kau selalu menyebutnya dokter cinta?”
“Apa yang kau suka darinya?” Takumi balas bertanya. Sebenarnya ia tidak ingin tahu, tetapi rasa penasarannya tidak bisa ditahan lagi.
“Apa?”
“Apa yang membuatmu suka padanya? Kenapa dia bisa menjadi cinta pertamamu?”
“Oh, itu.” Aiko tersenyum dan merenung. “Aku menyukainya karena dulu dia pernah membantuku mencari kalungku yang terjatuh.” Ia tertawa pelan dan melanjutkan, “Kedengarannya memang konyol, tapi begitulah kenyataannya, terutama setelah dia berhasil menemukan kalungku dan tersenyum padaku.”
“Kalung?” Kening Takumi berkerut samar.
“Ya. Kalung pemberian nenekku. Aku selalu memakainya. Nah, ini dia,” kata Aiko sambil menarik kalung yang dikenakannya dari balik syal dan kerah sweter tebalnya. Kalung dengan liontin berbentuk kata “Aiko”.
Takumi mengamati kalung itu dengan saksama. Kerutan di keningnya bertambah.
‘Kalung itu ...’
Tiba-tiba terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa kereta dengan tujuan Kyoto akan segera berangkat.
“Oh, aku harus segera pergi,” kata Aiko sambil mengumpulkan barang-barangnya dan berdiri. Takumi juga ikut berdiri, walaupun masih terus sibuk menggali ingatannya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal tentang kalung itu. Di mana ia pernah melihat kalung itu. Di mana? Tiba-tiba Takumi tersentak. Ia ingat sekarang.
Takumi mengangkat wajah dan melihat Aiko yang sudah berdiri di pintu gerbong kereta. Aiko melambai ke arah Takumi dengan senyum ringan. Takumi memiliki niat untuk membalas lambaian Aiko dengan anggukan atau lambaian tangan, tetapi tiba-tiba muncul dorongan kuat dalam diri Takumi untuk melakukan sesuatu lebih dari hanya diam di tempat.
Tanpa sempat berpikir panjang, ia memanggil nama Aiko dengan suara cukup keras agar terdengar di tengah riuh stasiun. Aiko menoleh, sedikit terkejut, namun tetap menunggu di tangga pintu gerbong. Takumi berlari kecil mendekat, berusaha mengejar sebelum pintu kereta tertutup.
Langkahnya cepat, meski tidak terlalu panjang, cukup untuk menunjukkan kesungguhannya. Saat akhirnya sampai di dekat pintu, ia menatap Aiko dengan wajah serius. Ada hal yang ingin ia sampaikan, sesuatu yang tidak bisa ditunda. Aiko menatapnya balik, seolah menunggu penjelasan. Dalam momen singkat itu, Takumi merasa keputusan untuk berlari mendekat adalah hal yang tepat.
Aiko memutar tubuh dan menatap Takumi dengan tatapan heran dan kening berkerut. “Kenapa berteriak-teriak seperti itu?” katanya dengan nada rendah. “Nanti orang-orang akan berpikir aku sudah mencuri dompetmu atau semacamnya.”
Takumi tidak langsung menjawab. Ia menatap Aiko sambil tersenyum lebar. “Aiko-chan.”
“Ada apa?”
Takumi menunduk dan tertawa pelan, menertawakan sikapnya sendiri yang gegabah. Merasa heran dengan sikap Takumi, Aiko bertanya sekali lagi, “Ada apa?”
Takumi kembali menatap wajah Aiko. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang mendorongnya, tetapi ia merasa harus mengatakannya sekarang. Tidak peduli apa yang dipikirkan Aiko nantinya, pokoknya Takumi harus mengatakannya.
“Aiko-chan, ada yang ingin kutanyakan padamu.”
“Ya?” Mata Aiko melebar menunggu.
“Kau bisa melupakan Kitano Akira?”
Alis Aiko terangkat tinggi. “Apa?”
“Kau bisa melupakannya,” tanya Takumi tegas sambil menatap lurus ke dalam mata Aiko yang bingung, “Dan mulai benar-benar ... benar-benar melihatku?”