BAB 17

2055 Words
“Astaga, kita akan ke sini?” Aiko hampir tidak memercayai matanya ketika mereka berdiri di depan gedung pertunjukan besar di pusat kota. Terlihat banyak orang berbondong-bondong memasuki pintu utama gedung. Spanduk besar bergambar sepasang penari balet tergantung di bagian depan gedung, disertai tulisan PERTUNJUKAN BALET SWAN LAKE. “Ya,” sahut Takumi. “Bukankah kau ingin sekali menonton pertunjukan ini?” Aiko menoleh ke arah Takumi. Matanya berkilat-kilat gembira. “Ya. Tadinya Sensei akan mengajakku nonton dan aku sempat kecewa karena ia terpaksa membatalkannya,” katanya cepat-cepat. “Tapi, katanya tiket pertunjukannya sudah habis terjual. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” Takumi tersenyum. “Itu ... rahasia,” katanya pelan. “Tapi aku berhasil membuatmu terkesan, bukan?” Sebelah alis Aiko terangkat dan ia tersenyum. “Baiklah, kuakui kau berhasil,” katanya jujur. “Kau membuatku sangat terkesan. Aku memang sangat ingin menonton pertunjukan ini.” “Kita masuk sekarang?” ajak Takumi sambil menyodorkan sikunya. Tanpa ragu Aiko langsung menyusupkan lengannya di lengan Takumi dan tersenyum lebar. “Ayo.” Mereka baru selesai menitipkan jaket di tempat penitipan ketika seseorang menyerukan nama Takumi. Aiko menoleh ke arah suara dan melihat pria ramping bertubuh tinggi mengenakan jas resmi yang terlihat mahal. Pria itu berdiri tidak jauh dari mereka dan melambai ke arah Takumi. Takumi mengangkat tangannya dan berkata pada Aiko, “Tunggu sebentar. Aku harus menyapa kenalanku dulu.” Aiko mengangguk dan memerhatikan Takumi berjalan mendekati pria yang lebih tua itu. Takumi cepat-cepat berjalan ke arah pamannya yang sedang tersenyum penuh arti kepadanya. Ia tidak mengira bisa bertemu dengan pamannya di sini. Bagaimana ia bisa menduga kalau Kobayashi Hiroshi yang suka bermain golf, bisbol, dan bulu tangkis itu juga suka menonton pertunjukan balet? “Halo, Takumi,” sapa pamannya ramah, tapi masih menyunggingkan senyum penuh arti itu dan melirik ke balik bahu Takumi. “Senang sekali bertemu denganmu di sini. Ternyata kau suka menonton balet.” Takumi balas tersenyum. “Halo, Paman. Aku juga baru tahu Paman penggemar balet.” Pamannya terkekeh pelan. “Salah satu sponsor pertunjukan ini adalah temanku, jadi dia mengundangku ke sini. Demi menjaga hubungan baik, aku harus hadir.” Ia kembali melirik ke balik bahu Takumi. “Ngomong-ngomong, kau tidak datang sendiri.” Takumi menoleh dan melihat Aiko yang dengan tenang berdiri menunggunya di tempat penitipan jas sambil membaca selebaran yang dibagikan di pintu masuk. Lalu ia kembali menatap pamannya sambil tersenyum. “Paman datang sendiri?” Kobayashi Hiroshi mengangkat bahu. “Aku memang lebih suka sendiri,” katanya. “Kudengar tadi kau mampir ke restoranku.” Takumi tertawa. “Aku tidak akan bertanya bagaimana Paman bisa tahu.” “Jadi?” tanya pamannya. “Jadi apa?” balas Takumi pura-pura tidak mengerti. Kobayashi Hiroshi tertawa. “Kau tidak mau mengenalkannya padaku? tanyanya dengan alis terangkat. “Setelah apa yang kulakukan untuk membantumu? Tadinya aku heran kenapa kau tiba-tiba ingin meminjam mobilku. Tapi sekarang aku bisa mengerti.” “Aku akan mengenalkannya pada Paman nanti, kalau waktunya sudah tepat.” Kobayashi Hiroshi mengangguk-angguk. “Ah, jadi sekarang masih dalam tahap pengejaran?” Takumi hanya tersenyum. Pamannya melirik ke arah Aiko lagi. “Dia lumayan. Tinggi,” gumamnya, lalu mengerutkan kening. “Sepertinya wajahnya tidak asing. Dia orang terkenal?” Takumi tertawa, mengingat saudara kembar Aiko adalah model terkenal. “Bukan,” sahutnya. “Bukan?” “Paman, pertunjukannya akan segera dimulai. Aku harus kembali kepada temanku,” kata Takumi. “Mobil Paman akan kukembalikan besok sore.” “Terserah saja,” kata pamannya enteng. “Pakai saja selama kau mau.” Setelah melambai untuk yang terakhir kali kepada pamannya, Takumi bergegas kembali ke tempat Aiko berdiri. Gadis itu mengangkat kepala ketika mendengar langkah kakinya mendekat. Senyumnya cerah dan lebar. “Maaf membuatmu menunggu,” kata Takumi. Aiko menggeleng. “Tidak apa-apa,” sahutnya. “Kelihatannya temanmu itu datang sendiri. Kau tidak mengajaknya bergabung dengan kita?” Takumi menggeleng. “Biarkan saja dia. Dia lebih suka sendirian,” katanya. Tiba-tiba terdengar pengumuman melalui pengeras suara bahwa pertunjukan akan segera dimulai dan para penonton diharapkan masuk ke aula. Takumi otomatis mengulurkan tangan ke arah Aiko. “Ayo, kita masuk sekarang.” Tanpa banyak pikir, Aiko menyambut tangannya. *** Tidak diragukan lagi, malam ini adalah salah satu malam paling menyenangkan dalam hidup Aiko. Pertunjukan balet Swan Lake yang sangat ingin ditontonnya itu sama sekali tidak mengecewakan. Malah melebihi harapannya. Semuanya indah. Penari-penari yang melompat lincah dan ringan di atas panggung, dekorasinya, musiknya yang menyayat hati. Ketika pertunjukannya berakhir, ia terus bertepuk tangan sementara para penari silih berganti muncul dari balik layar untuk memberi hormat. Ia bertepuk tangan sampai kedua tangannya merah, tetapi ia tidak peduli. Ia sangat puas. “Bagaimana pendapatmu?” tanyanya penuh semangat kepada Takumi ketika mereka keluar dari aula ke arah tempat penitipan jas. Takumi berpikir sejenak. “Dulu aku tidak pernah benar-benar tertarik pada balet,” katanya jujur. “Tapi ternyata pertunjukan yang ini bagus. Sangat bagus, malah.” “Benarkah?” Mata Aiko bersinar gembira. Takumi tersenyum melihat kegembiraan Aiko, “Bisa kulihat kalau kau sangat menikmatinya.” “Oh ya, sudah pasti,” kata Aiko tegas, lalu mendesah keras. “Sebenarnya dulu aku bercita-cita menjadi penari balet.” “Lalu kenapa tidak jadi?” Aiko tertawa malu. “Tubuhku tidak cukup lentur.” Setelah mengenakan jaket dan syal, mereka berjalan mengikuti kerumunan orang ke arah pintu keluar. Aiko masih sibuk berceloteh dengan riang sementara Takumi sepertinya cukup senang dengan mendengarkan dan kadang-kadang memberikan jawaban kalau ditanya. Saat itu seseorang yang berjalan dari arah berlawanan menyenggol bahu Aiko. Aiko agak terhuyung, tetapi segera ditahan Takumi. Pria yang menyenggolnya tadi berbalik. Ia menatap Aiko dan Takumi bergantian, lalu matanya terpaksa pada Takumi. Alisnya yang tebal berkerut. Kenapa tidak meminta maaf? pikir Aiko dalam hati dengan jengkel. Jelas-jelas pria itu yang salah karena menyenggolnya, tapi kenapa dia diam saja? Tetapi ia tidak ingin memperpanjang masalah, karena sepertinya pria itu cukup galak—dengan wajah berkerut dan hidung bengkok—dan ia menatap Takumi dengan pandangan aneh. Merasa pria itu mungkin ingin mencari masalah, Aiko buru-buru membungkuk dan bergumam, “Maaf.” Lalu cepat-cepat menarik tangan Takumi untuk pergi dari sana. “Orang itu aneh sekali,” gumam Takumi heran. Ia mengikuti Aiko menuruni anakanak tangga di depan gedung. “Ya, memang aneh,” kata Aiko. Ia melirik ke balik bahunya karena penasaran dan melihat pria itu masih berdiri di sana sambil menatap mereka dengan mata disipitkan. Ada apa dengan orang itu? Ia berbisik kepada Takumi, “Jangan berbalik, ya? Tapi sepertinya dia masih memandangi kita.” “Biarkan saja. Tidak usah terlalu dipikirkan,” kata Takumi sambil menggenggam tangan Aiko lebih erat. Ia menoleh ke arah Aiko dan tersenyum. “Menurutku dia bukan salah satu penguntit yang menjadi penggemar saudara kembarmu.” Aiko mendongak menatap Takumi. Mengherankan sekali. Bagaimana laki-laki ini tahu apa yang dipikirkannya? Aiko bertanya-tanya dalam hati apakah dirinya memang bisa ditebak semudah itu. “Menurutmu begitu?” tanya Aiko penuh harap. “Ya.” Takumi mengangguk. Satu kata itu saja bisa membuat Aiko merasa lebih tenang, dan ia tidak tahu kenapa. “Lihat, salju.” seru Takumi tiba tiba. Aiko mendongakkan kepala dan salju pertama melayang turun mengenai pipinya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan tersenyum lebar. Salju turun pada malam Natal! Orang-orang yang berjalan di sekitar mereka juga berhenti sejenak dan menengadah, menyaksikan salju yang turun. Aiko mendapat kesan bahwa Natal ini akan menjadi Natal yang paling menyenangkan. “Salju pada malam Natal,” gumam Takumi. “Bagus sekali, bukan?” Aiko mengangguk, masih memandangi butiran salju yang melayang turun seperti kapas. “Aku jadi ingin melakukan sesuatu.” Aiko berpaling ke arah Takumi. “Apa?” “Ice skating.” Alis Aiko terangkat. “Ice skating?” Takumi mengangguk. “Kau bisa?” Aiko tersenyum lebar dan berkata, “Aku terlahir ahli meluncur di atas es.” *** Arena seluncur es itu masih ramai oleh pengunjung yang ingin merayakan malam Natal bersama pasangan dan keluarga. Lagu Winter Wonderland terdengar jelas melalui pengeras suara, di antara pekikan dan tawa anak-anak, menceriakan suasana. Aiko tidak bercanda ketika berkata bahwa ia jago meluncur di atas es. Ia meluncur dengan cepat di lapangan es, melesat melewati orang-orang yang meluncur santai, menantang Takumi menyusulnya. “Ternyata kau memang jago meluncur,” puji Takumi sambil meluncur di samping Aiko. Aiko menyapu sejumput rambut panjangnya dari wajah dan tersenyum cerah. “Tentu saja. Kau sendiri juga lumayan.” Takumi meluncur berputar ke hadapan Aiko. “Baikalh, kau bisa meluncur. Tapi apakah kau bisa berdansa di atas es?” Aiko tertawa. “Berdansa di atas es?” tanyanya, lalu menggeleng-geleng. “Aku belum pernah mencobanya.” “Bagaimana kalau kita mencobanya sekarang?” tantang Takumi. “Kau bisa berdansa waltz?” “Sedikit-sedikit,” jawab Aiko sambil tertawa pelan. “Kau sungguh mau kita berdansa waltz di sini? Di depan orang-orang ini?” “Mereka boleh mengikuti kita kalau mau,” kata Takumi ringan samibl mengangkat bahu. “Nah, pegang tanganku. Posisi waltz.” Aiko membiarkan Takumi menggenggam tangannya dan merangkul pinggangnya dengan ringan. Tangannya sendiri diletakkan di lengan atas Takumi. Takumi mulai meluncur dan Aiko mengikuti gerakannya dengan mulus. Sudah lama Aiko tidak merasa begitu senang dan bersemangat mencoba sesuatu yang baru. Mereka meluncur mengelilingi lapangan sambil berputar-putar. Kadang-kadang Takumi melepaskan pinggang Aiko dan memutarnya, lalu kembali menarik Aiko ke arahnya. “Astag, jangan sampai kaulepaskan aku,” kata Aiko sambil tertawa. “Aku bisa jatuh dan mempermalukan diriku sendiri.” Ia memandang berkeliling dan menyadari beberapa orang memandangi mereka sambil tersenyum-senyum. Mereka sudah menjadi tontonan yang menghibur. “Aku tidak akan melepaskanmu.” Nada suara Takumi membuat Aiko mendongak menatapnya. Apakah hanya perasaannya ataukah nada suara Takumi agak berbeda daripada biasanya? “Dan aku sudah pasti tidak akan membiarkanmu mempermalukan dirimu sendiri,” lanjut Takumi sambil tersenyum. “Tidak di depan begitu banyak orang.” Tidak. Tadi memang hanya perasaanku. Takumi terlihat sama seperti biasanya, pikir Aiko. Walaupun kini, tanpa disadarinya, ia selalu merasa gembira setiap kali laki-laki itu menatapnya dan tersenyum padanya. Seperti sekarang ini. *** Takumi kembali melirik kaca spion. Mobil hitam itu masih ada di belakang mereka. Mobil hitam itu tidak selalu tepat berada di belakang mobil Takumi, kadang-kadang ada satu atau dua mobil lain yang menyelip di antara mereka. Tetapi Takumi memerhatikan bahwa mobil itu terus mengikutinya sejak mereka meninggalkan arena seluncur es. Pertanyaannya siapa pengemudi mobil hitam itu? Kenapa ia terus mengikuti Takumi? “... Takumi-san? Sepertinya ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak mendengar panggilan Aiko. Takumi menoleh ke arah kursi penumpang. “Ya?” Kening Aiko berkerut, tetapi ia tersenyum. “Aku sudah memanggilmu tiga kali. Apa yang sedang kaupikirkan?” “Ngomong-ngomong kau naik shinkansen* atau pesawat? Ke Kyoto, maksudku,” kata Takumi ringan. Ia merasa tidak perlu membuat Aiko cemas dengan kecurigaannya terhadap mobil hitam di belakang sana. Gadis itu pasti akan panik dan mulai berpikir yang tidak-tidak. “Naik shinkansen, seperti biasa,” kata Aiko. “Bagaimana kalau kuantar ke stasiun saja? Aku bisa mengembalikan mobil ini kepada temanku setelah mengantarmu,” Takumi menawarkan. Aiko tersenyum lebar. “Terima kasih. Kau memang teman paling baik sedunia.” Takumi melirik kaca spion sekali lagi. Mobil hitam itu masih terlihat, berjarak dua mobil dari Takumi. Ketika Takumi membelok ke jalan yang mengarah ke gedung apartemen mereka, ia memperlambat laju mobil. Menunggu. Tetapi tidak ada mobil hitam yang ikut membelok. Takumi merasa agak heran, sekaligus lega karena kecurigaannya tidak terbukti. Mobil hitam itu tidak mengikutinya. Kemungkinan besar mobil itu hanya kebetulan searah dengannya sejak dari arena seluncur es, tetapi jelas mobil itu tidak mengikutinya. Tiba-tiba ia teringat kepada pria aneh di gedung pertunjukan tadi. Mungkinkah...? Tapi apa alasannya? Bagaimanapun juga, pria itu sepertinya tidak asing. Takumi merasa pernah melihat wajah itu entah di mana. Ia mendapat firasat yang tidak enak. “Takumi-san, kau baik-baik saja? Kau sakit?” Nada suara yang cemas menyentakkan kepala Takumi ke arah gadis itu. “Tidak, aku baik-baik saja,” sahutnya cepat, lalu tersenyum. “Kurasa aku terlalu capek karena berusaha membuatmu terpesona padaku malam ini.” Aiko mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke dagunya sambil memasang raut wajah seperti sedang berpikir keras. Lalu ia menoleh menatap Takumi. “Kurasa,” katanya pelan. “Kau cukup berhasil.” Takumi ikut tertawa bersama gadis yang duduk di sampingnya itu. Ia berusaha mengenyahkan firasat buruk yang menyelimuti hatinya. Tidak ada masalah. Pikirannya sendiri yang terlalu berlebihan. Semuanya akan baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD