BAB 16

1880 Words
Denting bel pintu membuat Aiko mengalihkan perhatiannya dari kesibukannya membungkus biskuit-biskuit cokelat yang akan diberikannya kepada Takumi sebagai hadiah Natal. Aiko mengelap tangan di handuk yang tergantung di dekat lemari dan beranjak ke pintu. “Bukankah dia bilang satu jam lagi?” gumamnya pada diri sendiri. Tetapi begitu membuka pintu, ia tidak melihat siapa pun di sana. “Siapa yang membunyikan bel pintu?” tanyanya heran. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Orang iseng? Tetapi tidak terdengar suara atau bunyi apa pun di luar sana. Jangan-jangan ... Jangan-jangan ... Tidak, tidak. Aiko memejamkan mata dan menggeleng cepat. Ia tidak akan berpikir tentang hantu atau semacamnya. Tidak ... Ketika ia membuka mata kembali, barulah ia melihat sebuah kantong kertas merah muda berhias pita merah yang diletakkan di lantai di depan pintunya. “Oh? Apa itu?” Ia membungkuk dan memungut kantong itu. Sebuah kartu kecil tergantung di pegangan talinya. Senyum Aiko merekah begitu membaca tulisan di sana. Hadiah Natal untukmu, Nakamura Aiko. Semoga kau merasa hangat pada Hari Natal ini. Matsumoto Takumi. Mata Aiko menangkap secarik lain kertas kecil yang ditempelkan di kantong kertas itu. Aku pergi mengambil kereta kuda untuk menjemputmu. Tunggu saja di sini. Masih tetap tersenyum, Aiko menutup pintu dan masuk kembali ke apartemennya. Ia meletakkan kantong kertas itu di meja dan membuka pita merahnya dengan hati-hati. Dengan penasaran ia mengeluarkan sebuah kotak putih dan membuka tutupnya. Matanya melebar melihat isi kotak itu. Sepasang sarung tangan wol merah, topi wol merah, syal merah, dan penghangat telinga yang juga berwarna merah. Masing-masing memiliki nama Aiko yang dijahit dengan benang berwarna emas. Aiko mengenakan sarung tangan merah itu dan mengacungkan tangannya untuk mengagumi rasanya yang lembut dan hangat. Ia juga mencoba topi, syal, dan penghangat telinganya, lalu berlari ke kamar tidur dengan gembira untuk mematut diri di depan cermin. Takumi memiliki selera yang bagus, puji Aiko dalam hati. Ia menepuk-nepuk pipinya dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan sambil tersenyum. “Bagaimana penampilanku?” tanya Aiko ketika Takumi datang menjemputnya satu jam kemudian. Ia memutuskan mengenakan topi, syal, dan sarung tangan pemberian Takumi, dan memadukan semuanya dengan jaket panjang putih. Takumi memandanginya dari ujung kepala ke ujun gkaki dan tersenyum. “Sejauh ini, di antara semua teman kencanku di Jepang, kau yang paling cantik,” pujinya. Aiko meringis. “Sejauh ini memang hanya aku satu-satunya orang yang pernah berkencan denganmu di Jepang,” balasnya. Lalu ia menambahkan, “Hadiah Natalnya ... terima kasih.” “Aku senang kau menyukainya,” sahut Takumi ringan. Kemudian ia membawa Aiko ke sedan putih yang diparkir di depan gedung apartemen. “Masuklah,” katanya. Alis Aiko terangkat. “Kau punya mobil?” “Aku ingin bilang begitu,” sahut Takumi, “Tapi bukan, aku meminjam mobil temanku.” Aiko masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman. Ketika Takumi juga sudah duduk di balik kemudi, Aiko mengacungkan kantong kain bermotif hiasan Natal berwarna merah dan putih ke depan wajah Takumi. “Apa ini?” tanya Takumi. “Hadiah Natal,” sahut Aiko sambil tersenyum lebar. Takumi tertawa dan menerima kantong itu. Ia membaca kartu yang tergantung dari tali kantong itu dengan suara keras, “Untuk orang yang berkata ada banyak hal indah akan terlihat sewaktu gelap. Dari tetangga yang paling manis sedunia.” Ia mengangkat wajah menatap Aiko dengan alis terangkat. “Tetangga paling manis sedunia?” “Begitulah kenyataannya,” kata Aiko, lalu tertawa. “Ayo, bukalah. Aku membuatnya sendiri.” Takumi membuka kantong itu dan melihat isinya. Ternyata Aiko membuat biskuit cokelat dengan berbagai bentuk dan berhias gula-gula, termasuk biskuit berbentuk pohon Natal yang bertuliskan Merry Christmas dan orang-orangan salju bertuliskan nama Takumi. “Kau bisa membuat kue?” tanya Takumi sambil mengagumi bentuk-bentuk biskuit di dalam kantong itu. Aiko mengangguk. “Sedikit-sedikit,” sahutnya. “Aku juga akan memberikan satu kantong untuk Sensei.” Kepala Takumi berputar ke arah Aiko. “Kau akan memberinya biskuit yang sama?” “Ya. Aku membuat banyak biskuit,” kata Aiko polos. “Aku juga akan memberikannya kepada Hikari Oneesan, Itsuki-kun, Kakek dan Nenek Osawa, dan rekan-rekan kerjaku di perpustakaan.” Takumi memalingkan wajah dan mendesah. “Kau juga menuliskanpesan-pesan pribadi seperti ini?” tanyanya sambil mengacungkan kartu dan potongan biskuit bertuliskan namanya. Aiko diam sejenak, lalu berkata agak malu, “Tidak. Tidak sempat. Kurasa aku menghabiskan terlalu banyak waktu menghias biskuitmu sampai tidak sempat menghias biskuit yang lain. Jadi aku hanya memberi mereka biskuit polos dengan kartu ucapan Hari Natal.” Mendengar itu Takumi tersenyum, lalu mengangguk. “Bagus, setidaknya biskuitku lebih bagus daripada biskuit yang lain.” Alis Aiko terangkat, tetapi ia diam saja. Takumi segera menyalakan mesin mobil dan mereka pun melaju meninggalkan gedung apartemen. Mereka melaju mulus di jalan raya. Aiko mengamati tangan Takumi yang memegang roda kemudi dengan ringan namun mantap. “Baru kali ini aku melihatmu menyetir,” komentar Aiko. “Aku juga baru tahu kau bisa menyetir.” Takumi tersenyum. “Ha! Kau terkesan padaku.” Ia mengalihkan perhatiannya dari jalanan untuk sesaat, menoleh ke arah Aiko. “Benar, kan? Benar?” Aiko tertawa dan memukul pelan lengan Takumi dengan punggung tangannya. “Perhatikan jalanan,” katanya. “Dan untuk menjawab pertanyaanmu, tidak, aku tidak terkesan padamu.” “Oh, ya?” Takumi memiringkan kepalanya. “Padahal aku meminjam mobil ini untuk membuatmu terkesan. Tidak berhasil ya?” Aiko mengacungkan tangan dan menempelkan jari telunjuk dengan ibu jarinya. “Sedikiiiit terkesan.” Ia tertawa lagi dan Takumi ikut tertawa. “Setidaknya kita tidak perlu naik kereta bawah tanah dan berdesak-desakan.” “Baiklah,” kata Takumi mantap. “Mari kita lihat apakah kita bisa memperbaikinya.” Aiko mengangkat alis tidak mengerti, tetapi Takumi tidak menjelaskan lebih lanjut. *** “Sungguh, kau tidak perlu membawaku ke tempat seperti ini,” kata Aiko dengan wajah berseri-seri dan senyum lebar ketika menyadari Takumi membawanya ke salah satu restoran terkenal di Tokyo, salah satu restoran kesukaan Aiko sendiri. Takumi meliriknya dan berkata, “Tapi melihat wajahmu sekarang, sepertinya pilihanku benar.” Seorang pelayan pria menempatkan mereka di salah satu meja di tengah ruangan. Aiko memandang sekelilingnya dengan kagum. Restoran itu bagus dengan interior bergaya pedesaan Inggris yang nyaman dan hangat. Pohon Natal besar penuh hiasan diletakkan di sudut ruangan. Lagu Natal lembut mengalun di udara. Aiko hanya pernah satu kali ke sini sebelumnya, bersama Ayaka, dan restoran ini langsung menjadi salah satu restoran favorit mereka. Ia menyukai lantai kayunya, taplak mejanya yang berwarna hijau, tirainya yang tebal, lilin kecil dalam gelas, dan setangkai mawar yang diletakkan di setiap meja. Aiko mendesah senang dan kembali menatap Takumi yang duduk di hadapannya. “Restoran ini memang kelihatannya nyaman, tapi makanan di sini mahal sekali. Percayalah padaku,” bisiknya dengan nada penuh rahasia. “Kau pernah datang ke sini?” tanya Takumi. Aiko mengacungkan jari telunjuknya. “Cuma satu kali, ketika restoran ini baru dibuka.” Pelayan yang tadi kembali membawakan menu. Setelah melihat sekilas daftar makanan dan harga yang tercantum di sana, Aiko melirik Takumi dengan pandangan was-was, lalu melirik pelayan yang sedang menunggu, dan kembali ke Takumi. Aiko mencondongkan tubuhnya ke depan dan menutupi sisi wajahnya yang menghadap si pelayan dengan buku menu. “Takumi-san,” bisiknya pelan, supaya si pelayan tidak mendengar. “Kau yang traktir, bukan?” Takumi menangkat wajah dari menu dan tersenyum. Ia juga ikut mencondongkan tubuhnya dan berbisik, “Tenang saja, aku punya kartu diskon di sini.” Mata Aiko melebar heran. “Kartu diskon?” Takumi mengangguk, lalu mulai menyebutkan pesanannya kepada si pelayan yang mencatat dengan patuh. Sebenarnya pemilik restoran ini adalah pamannya, Kobayashi Hiroshi, karena itu Takumi boleh menggunakan hak istimewanya setiap kali ia makan di sana. Tetapi ia merasa tidak perlu memberitahu Aiko tentang fakta kecil itu. Setelah si pelayan pergi dengan daftar pesanan mereka, Aiko kembali mendesah dan memandang berkeliling. “Aku suka sekali tempat ini. Sangat romantis. Lihat, orang-orang yang datang ke sini semuanya berpasangan.” “Kudengar restoran ini memang dijalankan dengan konsep seperti itu,” kata Takumi. “Pemiliknya memang berjiwa romantis walaupun sampai sekarang belum menikah.” “Kau kenal dengan pemiliknya?” Takumi mengangkat wajah. “Oh, tidak. Aku hanya pernah mendengar gosip tentang dia,” sahutnya cepat. Sebelum Aiko sempat berkomentar, Takumi mengalihkan pembicaraan, “Aku juga mendengar banyak orang mengajukan lamaran pernikahan di tempat ini.” “Oh, ya?” “Ya. Kalau kau datang ke sini pada Hari Valentine, kemungkinan besar kau akan melihat seorang pria berlutut di hadapan kekasihnya sambil mengacungkan cincin berlian.” Mata Aiko melebar senang. “Aku ingin sekali melihatnya,” katanya, lalu tiba-tiba bertanya, “Takumi-san, kartu diskonmu itu berlaku sampai kapan?” “Kartu diskon? Memangnya kenapa?” “Berlaku sampai kapan?” desak Aiko. “Masalahnya bukan berlaku sampai kapan,” elak Takumi buru-buru memutar otak mengarang alasan. “Kartu diskonku hanya bisa dipakai pada malam Natal ini, lalu ... malam Tahun Baru, lalu ...” Aiko berpikir-pikir. “Tahun Baru nanti aku ada di Kyoto. Hmm ... Bagaimana dengan Hari Valentine?” “Hari Valentine?” “Kau bilang restoran ini dibuat dengan konsep romantis. Jadi kupikir kartu diskonmu bisa dipakai pada Hari Valentine. Benar?” desak Aiko. Takumi mengangkat bahu. “Kurasa begitu.” Mendengar itu Aiko tersenyum manis dan bertanya, “Takumi-san, kau mau mengajakku ke sini lagi pada Hari Valentine nanti?” Takumi menatap gadis di hadapannya dengan mata disipitkan. “Kenapa? Jangan katakan kau ingin aku melamarmu di sini pada Hari Valentine?” Aiko tertawa. “Aku tidak berani memimpikannya,” katanya ringan. “Hanya saja kita harus memanfaatkan kartu diskonmu, bukan? Lagi pula siapa tahu aku bisa menjadi saksi acara lamaran pernikahan. Bagaimana? Oke? Kau akan mengajakku ke sini lagi?” Setelah berpikir-pikir sejenak, Takumi mencondongkan tubuhnya ke depan. “Oke, aku akan mengajakmu,” katanya. “Dengan satu syarat.” Alis Aiko terangkat. “Apa syaratnya?” “Aku ingin kau menemaniku ke suatu acara tanggal sepuluh Januari nanti.” “Acara apa?” Takumi tersenyum. “Reuni SMP-ku. Acaranya tidak berlebihan. Aku harus hadir dan aku sedang tidak ingin pergi sendiri.” “Aah, aku mengerti,” gumam Aiko sambil mengangguk-angguk. “Kalau acaranya ternyata membosankan, setidaknya masih ada aku yang bisa kau ajak bicara. Bukankah itu yang kau pikirkan?” Takumi mengangkat bahu. “Seperti itulah. Bagaimana? Setuju?” Aiko mengangguk mantap. “Setuju.” “Tanggal sepuluh Januari.” “Tidak masalah.” “Kau tidak akan membuat janji lain pada hari itu?” “Tidak akan.” “Walaupun si dokter cinta mengajakmu keluar?” “Dokter cinta siapa?” “Cinta pertamamu itu.” “Ooh ...” Aiko terdiam sejenak, berpikir-pikir, seakan ia baru teringat soal Kitano Akira. Setelah beberapa detik yang dirasa Takumi mencekam, Aiko membuka suara, “Baiklah.” Takumi mengembuskan napas pelan, baru sadar kalau ia menahan napas. Pundaknya tiba-tiba terasa ringan. “Kalau begitu, aku akan mengajakmu ke sini lagi pada Hari Valentine nanti.” “Kau memang tetangga paling baik sedunia,” puji Aiko sambil menangkupkan kedua tangan dengan gembira. “Tentu saja,” sahut Takumi, tepat ketika pelayan datang membawakan pesanan mereka. “Sebaiknya kita cepat makan, karena kita harus pergi ke tempat lain setelah ini. Dan kita tidak boleh terlambat.” “Oh?” Wajah Aiko berseri-seri. “Kita mau ke mana lagi?” Takumi menatap Aiko dan tersenyum. “Itu kejutan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD