Takumi tidak bermaksud memulai perdebatan tentang berat badan. Sebenarnya topik itu juga bukan topik yang suka dibicarakannya. Terlebih lagi dengan wanita. Tetapi lebih baik berdebat tidak jelas tentang berat badan daripada mendengarkan gadis itu bercerita tentang cinta pertama yang baru dijumpainya setelah bertahun-tahun.
“Ngomong-ngomong, foto yang kaukirimkan padaku itu foto apa?” tanya Aiko.
Takumi tersenyum kecil mengingat foto yang dikirimkan ke ponsel Aiko tadi siang. “Kau tidak tahu?” ia balas bertanya. “Belum tahu?”
“Sepertinya foto Iangit malam dan bintang,” jawab Aiko ragu-ragu.
“Kau akan tahu saat kau akan tidur nanti. Tapi kau harus memadamkan lampu. Kau bahkan tidak boleh menyalakan lampu kecil di samping tempat tidurmu itu.”
“Kenapa?”
“Karena sesuatu yang indah akan terlihat saat gelap,” sahut Takumi penuh teka-teki.
“Aku masih tidak mengerti,” gerutu Aiko.
Takumi tertawa dan mengalihkan pembicaraan. “Semua lampu di apartemenmu sudah bisa menyala, bukan?”
“Sudah,” sahut Aiko lega.
“Berarti kau tidak akan bermalam di tempatku lagi hari ini?” tanya Takumi ketika mereka tiba di depan pintu apartemen Kakek dan Nenek Osawa.
“Bermalam ...?” Aiko terdengar kaget. “Apa maksudmu? Kau membuatnya terdengar seperti ...” Lalu gadis itu mulai mengomel dalam bahasa ibunya sambil mengguncang-guncang bahu Takumi sekali lagi.
“Aduh, tunggu ...,” kata Takumi susah payah di sela-sela tawanya.
Tepat pada saat itu pintu apartemen 101 terbuka dan Okada Hikari berdiri di sana sambil memandangi mereka dengan mata lebar dan alis terangkat heran.
“Turunkan aku,” gumam Aiko kaku dan buru-buru turun dari gendongan.
Takumi menurutinya, walaupun ia tidak mengerti kenapa sikap Aiko tiba-tiba berubah.
“Oneesan, aku sudah membawa Takumi-san dan juga sake-nya,” kata Aiko riang begitu kakinya kembali menginjak Iantai. Ia bergegas menghampiri Hikari sambil menyodorkan botol sake Takumi.
“Oh ya, bagus,” kata Hikari sambil memandang Takumi dengan senyum lebar penuh arti. “Ayo, masuk, Takumi-san. Semua sudah berkumpul dan sedang mengobrol di dalam. Mungkin kau bisa menyumbang obrolan menarik?”
***
“Siapa yang kaupilih?”
Aiko sedang membantu Nenek Osawa di dapur ketika Hikari menghampirinya dan berbisik dengan nada mendesak. Aiko menoleh dan melihat mata tetangganya berkilat—kilat penasaran.
“Apa maksud Oneesan?” gerutu Aiko salah tingkah, lalu kembali berkonsentrasi pada tugasnya memotong sayur.
“Kau sangat mengerti maksudku,” sela Hikari tanpa ampun, masih dengan suara berbisik mengingat Nenek Osawa sedang mencuci sayur tidak jauh dari mereka.
Hikari menyiku Aiko. “Tadi saat menelepon, kau bercerita panjang-lebar padaku tentang cinta pertamamu yang sudah jadi dokter itu. Kau begitu gembira dan tersenyum begitu lebar sampai kukira mulutmu bakal robek. Lalu tiba-tiba kau tertangkap basah sedang gendong-gendongan dengan Takumi-san.”
Mata Aiko melebar kaget. “Gendong-gen...?” Teringat Nenek Osawa ada di dekat mereka, ia merendahkan suara. “Oneesan!”
Hikari menatapnya dengan mata disipitkan. “Kau suka yang mana?”
Aiko membuka mulut ingin membela diri, tapi tidak jadi. Tidak ada gunanya mengikuti permainan Hikari. Jadi ia hanya mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala.
“Tapi menurutku Aiko-chan dan Takumi cocok sekali.”
Aiko dan Hikari serentak menoleh ke arah suara bernada kecil dan ramah itu. Nenek Osawa memandang mereka berdua sambil tersenyum cerah. Matanya berkilat-kilat senang.
“Bukankah begitu?”
“Tapi,” Aiko mencoba menyela, “Kami sungguh tidak ada hubungan apa-apa.”
“Ada hubungan juga tidak apa-apa,” timpal Hikari cepat.
“Benar sekali,” dukung Nenek Osawa. “Senang sekali melihat kalian berdua bersama.”
Aiko mengerjap-ngerjapkan mata. “Tapi ... tidak, maksudku ...”
Kenapa dua orang itu tiba-tiba berkomplot melawannya?
“Tentu saja kau tetap harus memilih salah satu,” tambah Hikari, mengingatkan Aiko pada topik awal.
“Menurutku Takumi itu anak baik,” kata Nenek Osawa ringan sambil mengangkat bahu. Aiko mengembuskan napas dan menggeleng-geleng lagi.
“Tapi aku tidak punya perasaan apa pun padanya. Aku tidak ... menyukainya.”
“Siapa? Takumi-san?”
Sebelum Aiko sempat menjawab pertanyaan Hikari itu, terdengar suara Nenek Osawa menyela, “Jangan berkata begitu kalau kau sendiri tidak yakin, Aiko-chan.”
Aiko tertegun. ‘Nah, apa maksudnya?’
Nenek Osawa memandangnya dengan ramah dan senyum yang seakan menyatakan ia tahu lebih banyak daripada Aiko sendiri. “Kita tidak mau mengatakan sesuatu yang nantinya akan kita sesali, bukan?”
Untungnya Aiko tidak perlu menjawab karena tepat pada saat itu lagu Fly High-nya Hamasaki Ayumi terdengar.
***
Sementara para wanita sibuk di dapur, para pria duduk mengobrol diruang duduk. Kakek Osawa sedang bercerita tentang masa mudanya dulu ketika ia masih bekerja sebagai petugas keamanan di sekolah menengah, salah satu topik yang paling disenanginya.
Takumi berpikir tidak mungkin semua kejadian yang diceritakan orang tua itu benar. Mungkin ada beberapa bagian yang dilebih-lebihkan. Tetapi baik ia maupun Itsuki tidak keberatan karena Kakek Osawa pintar bercerita dan selalu berhasil membuat mereka semua terhibur.
“Hari Natal selalu membuat anak-anak senang. Anak-anak perempuan sibuk merajut syal atau topi untuk anak-anak laki-laki yang mereka sukai. Bahkan dulu ada satu anak perempuan yang merajutkan syal hangat untukku,” kenang Kakek Osawa.
“Mungkin sebenarnya syal itu dirajutnya untuk anak laki-laki yang disukainya, tapi ternyata anak laki-laki itu menolak hadiahnya. Akhirnya karena tidak tega membuang syal itu, anak perempuan itu memberikannya kepada Kakek,” gurau Itsuki.
Takumi tertawa.
“Kalian ini,” gerutu Kakek Osawa sambil mendecakkan lidah, lalu ia ikut tertawa kecil dan bertanya, “Lalu apakah kalian punya rencana istimewa pada Hari Natal tahun ini?”
Itsuki mengangkat bahu. “Kalau aku tidak ada yang benar-benar istimewa. Paling-paling hanya berkumpul dengan beberapa temanku.”
“Tidak ada kencan istimewa?” Kakek Osawa terkekeh. “Tidak ada gadis yang cukup cantik untuk menarik perhatianmu di kampus?”
Itsuki mendesah dan menggeleng kecewa.
“Bagaimana denganmu?” Kakek Osawa beralih ke Takumi. “Ada kencan istimewa?”
Takumi mengangkat wajah. “Aku? Hmm, aku belum tahu.”
“Belum tahu?” tanya Itsuki. “Kenapa?”
“Aku belum mengajaknya.” Takumi berhenti sejenak, lalu meralat, “Sebenarnya sudah, hanya saja tidak secara langsung. Dia juga tidak menanggapi dengan serius.”
“Oniisan seharusnya bertanya langsung,” kata Itsuki memberi saran. “Zaman sekarang ini semuanya harus serba langsung. To the point. Benar tidak, Kakek? Oniisan harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Lagi pula cewek juga tidak berbasabasi kalau mau menolak kita.”
“Jadi kau pernah ditolak mentah-mentah?” tanya Kakek Osawa.
Sementara Itsuki menceritakan salah satu kisah cintanya, Takumi berpaling ke arah dapur. Ia melihat Aiko sedang memotong-motong sayur sambil mengobrol dengan Hikari dan Nenek Osawa. Bertanya langsung, ya? Bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Hmm ...
Takumi masih tetap mengamati Aiko ketika gadis itu tiba-tiba merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel yang berbunyi nyaring. Lalu gadis itu sedikit terkesiap dan menjauh dari Hikari dan Nenek Osawa. Takumi tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Aiko, tapi ia berhasil menangkap satu patah kata ketika Aiko menjawab telepon.
Sensei.
Kemudian pandangan Takumi terhalang ketika Hikari menghampiri meja sambil membawa piring dan sayuran.
“Sayuran sudah siap. Kita bisa mulai makan,” kata Nenek Osawa yang menyusul dari belakang.
“Di mana Aiko-chan?” tanya Kakek Osawa.
“Oh, dia sedang menerima telepon di dapur,” kata Hikari sambil tersenyum lebar. “Telepon dari si dokter cinta.”
“Dari siapa?” Takumi bahkan tidak menyadari ia mengucapkan kata-kata itu dengan lantang dan jelas.
“Si dokter cinta,” Hikari mengulangi. “Cinta pertamanya yang sekarang sudah menjadi dokter. Sepertinya si dokter berencana mengajaknya kencan. Menyenangkan sekali.”
Takumi menoleh kembali ke dapur. Ia teringat kata-kata Itsuki tadi. Oniisan harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain.
***
“Terima kasih banyak,” kata Aiko riang sambil menepuk-nepuk pundak Takumi ketika laki-laki itu menurunkannya di depan pintu apartemennya.
Takumi menegakkan tubuh dan mendesah. “Kau bertambah berat setelah makan.”
Aiko tersenyum lebar. “Itu wajar, bukan? Lagi pula aku memang makan banyak tadi.”
Takumi mengangkat alis. “Aneh sekali. Kau tidak uring-uringan walaupun kubilang bertambah berat.” Ia menatap Aiko sejenak. “Sepertinya kau sedang gembira.”
“Aku memang gembira.”
“Karena mendapat telepon dari si dokter cinta?”
“Dokter apa?” Aiko memandangnya tidak mengerti.
“Cinta pertamamu itu.”
Aiko mengangkat bahu, kembali tersenyum. “Ya, itu salah satu alasannya.” Ia menunduk menatap kaki kirinya, lalu kembali menatap Takumi sambil tersenyum. “Ia menanyakan keadaan kakiku.”
Takumi diam sejenak, seakan sedang berpikir-pikir. “Cepatlah masuk,” katanya tiba-tiba. “Nanti flumu bertambah parah.”
Agak heran, Aiko mengiyakan dan membuka pintu.
“Aiko?”
Kepala Aiko berputar. “Apa?”
Dengan tangan memegang pegangan pintu apartemennya sendiri, Takumi menoleh menatap Aiko. “Jangan lupa matikan semua lampu saat kau tidur nanti.”
Kening Aiko berkerut samar. “Kau tahu aku tidak suka gelap.”
Takumi mengangkat bahu. “Coba saja dan kau akan lihat nanti.”
“Lihat apa?”
“Kalau kau tidak mencoba kau tidak akan tahu, bukan?” kata Takumi sambil tersenyum, lalu masuk ke apartemennya, meninggalkan Aiko yang kebingungan sendiri.
Tiba-tiba lagu Fly High terdengar dan membuat Aiko tersentak. Ia menggigil, lalu bergegas masuk ke apartemennya sendiri sebelum mengeluarkan ponsel.
“Moshi-moshi?”
“Aiko?”
Mendengar suara ibunya di ujung sana, Aiko secara otomatisc angsung berbicara dalam bahasa Indonesia. “Halo, Ma!” Ia mengenakan sandal rumah dan mengempaskan diri ke sofa empuk, bersiap-siap mengobrol panjang-lebar dengan ibunya.
Dua jam kemudian, ketika ia keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka, bersiap-siap tidur, Aiko baru teringat kata-kata Takumi tadi.
“Matikan lampu?” gumamnya pada diri sendiri sambil berdiri di kamar tidurnya. Aiko berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu. “Tidak ada salahnya dicoba.”
Ia berjalan ke sakelar lampu. Sebelah tangannya memegang dinding supaya ia tidak merasa tersesat dan tangan yang satu lagi menggapai sakelar lampu. Dengan sekali jentikan, lampu kamar tidurnya pun padam. Seketika itu juga Aiko mengerjap-ngerjapkan mata dan terkesiap.
Langit-langit kamar tidurnya bertabur bintang! Bintang-bintang besar dan kecil memancarkan nyala kuning kehijauan yang samar.
“Astaga,” gumamnya pelan.
Perlahan-lahan tangannya terlepas dari dinding dan ia melangkah ke tengah—tengah kamar, masih tetap mendongak menatap langit-langit kamar tidurnya dengan takjub.
“Bagaimana ...? Astaga,” gumamnya sekali lagi.
Kemudian ia menyadari foto yang dikirimkan Takumi ke ponselnya adalah foto langit-langit kamarnya. Ternyata sementara mengawasi tukang listrik memperbaiki kabel, Takumi melukis langit-langit kamar tidurnya menjadi langit bertabur bintang dengan cat khusus yang bisa menyala dalam gelap. Siapa yang menyangka laki-laki itu juga pandai melukis?
Aiko teringat tulisan yang tertera di bawah foto yang dikirimkan Takumi tadi siang: Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?
Aiko masih tercengang. Kemudian ia meraih ponsel dan menekan beberapa tombol. Setelah menunggu sesaat, hubungan tersambung.
“Takumi-san?” Ia mendongak menatap bintang-bintang yang menghiasi langit-langit kamarnya. “Kau apakah langit-langit kamarku?” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum. “Indah sekali. Terima kasih.”