Sambil duduk bersandar di sofa, Takumi terpekur menatap layar laptop di hadapannya. Ia sudah terlalu sering memandangi foto-foto yang muncul silih berganti memenuhi seluruh layar laptop itu. Foto-foto yang dipotret dengan tangan dan kameranya sendiri. Foto-foto dengan objek yang sama. Foto-foto wanita itu.
Ia tahu seharusnya ia tidak boleh lagi membenamkan diri dalam kenangan tentang wanita di foto itu. Ia tahu ia tidak pantas, tetapi ia merasa belum sanggup menghapus bayangan wanita itu dari pikiran, ataupun menghapus foto-fotonya dari laptop. Sampai sekarang.
Lamunannya buyar ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Tangannya otomatis menurunkan layar laptop, lalu bangkit dan berjalan ke pintu.
“Halo.”
Takumi mengerjapkan mata melihat Nakamura Aiko berdiri di hadapannya dengan senyum lebar tersungging di wajah.
“Oh, halo.” Takumi minggir sedikit ketika gadis itu berjalan masuk ke apartemennya sambil menggigil. “Kau sudah pulang?” Biasanya Aiko belum pulang pada jam-jam segini.
“Ya, aku diizinkan pulang cepat karena flu. Biarkan aku masuk dulu. Dingin sekali di koridor ini.” Aiko melepaskan sepatunya dan berganti mengenakan sandal Hello Kitty yang tersedia di jajaran sepatu dan sandal di samping pintu. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, Aiko mampir lagi untuk menaruh sepasang sandal yang sudah lama tidak dipakainya di apartemen Takumi. Biar praktis saja, ia punya sandal ganti di apartemen tetangganya itu.
Takumi menyadari suara Aiko yang sengau dan baru teringat gadis itu sedang flu. Ia cepat-cepat menutup pintu dan mengikuti Aiko ke ruang tengah. Ia juga menyadari langkah gadis itu agak timpang.
“Hari ini kita tidak jadi makan gado-gado,” kata Aiko sambil berputar ke arah Takumi. Tanpa menunggu jawaban ia melanjutkan, “Tadi aku ketemu Nenek Osawa di bawah. Beliau masak shabu-shabu dan kita disuruh ikut makan bersama. Dan ngomong-ngomong, kau punya sake? Persediaan sake Kakek sudah habis. Aku disuruh minta padamu, makanya langsung ke sini begitu pulang.”
“Punya,” sahut Takumi setelah mencoba mengingat-ingat. Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan. “Kau sudah menuruti saranku dan pergi ke dokter?”
Aiko mengangkat sebelah alis. “Sebelum aku menyebarkan virus ke mana-mana?” Ia tertawa kecil. “Tentu saja sudah. Ayo cepat cari sake-nya dan kita turun. Aku sudah lapar nih.”
Takumi tertegun. Ia menatap gadis di depannya dengan bingung. Tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu. Tiba-tiba saja ia tahu kenapa kini ia sanggup melepaskan kenangan masa lalu itu.
***
Aiko menatap Takumi berjalan ke lemari dapur dan mulai mencari-cari sake simpanannya. Ternyata tetangganya itu tidak memerhatikan kakinya yang diperban. Yah, tentu saja Takumi tidak menyadarinya karena pergelangan kaki Aiko sendiri tertutup celana panjang. Tapi memangnya Takumi tidak menyadari langkahnya agak timpang? Sebenarnya Aiko ingin laki-laki itu bertanya, sehingga ia bisa menceritakan kejadian di rumah sakit tadi siang. Memikirkannya saja sudah membuat Aiko tersenyum-senyum. Nah, siapa yang menyangka ia bisa bertemu kembali dengan cinta pertamanya setelah tiga belas tahun?
Laptop yang setengah tertutup di meja menarik perhatiannya. Karena tidak tahu apa yang mesti dilakukannya sambil menunggu Takumi, Aiko iseng-iseng menegakkan layar laptop dan melihat apa yang sedang dikerjakan laki-laki itu sebelum ia membunyikan bel pintu. Foto seorang wanita berambut panjang sebahu terpampang jelas di layar. Wanita yang tersenyum lebar ke arah kamera itu jelas orang Asia, tetapi di latar belakang foto itu terlihat patung Liberty.
Siapa wanita itu?
Sebelum Aiko sempat berpikir lebih jauh, fotonya lenyap dari layar dan digantikan foto Iain. Masih wanita yang sama, namun di lokasi yang berbeda. Aiko mulai heran ketika melihat foto-foto selanjutnya juga menampilkan wanita yang sama.
Apakah wanita ini model?
Lalu foto berikutnya muncul dan Aiko tertegun. Kali ini wanita itu tidak sendirian di dalam foto. Matsumoto Takumi juga ada di sana. Sepertinya foto itu diambil di restoran. Mereka berdua duduk berdampingan dan tersenyum. Hanya saja si wanita tersenyum ke arah kamera seperti foto-foto sebelumnya, sedangkan Takumi tersenyum memandang wanita itu. Dan itu bukan senyum biasa. Di dalam foto itu Takumi tersenyum seakan-akan ...
“Ketemu!”
Aiko tersentak mendengar suara Takumi. Wajahnya terasa panas dan ia merasa seakan ia tertangkap basah mengintip rahasia orang lain. Perasaannya tidak enak.
“Hanya ada satu botol,” kata Takumi sambil berjalan mendekatinya.
“Tidak apaapa, bukan?”
“Tentu,” kata Aiko tergagap. Ia melirik laptop di meja dengan pandangan bersalah.
Takumi mengikuti arah pandang Aiko dan melihat layar laptop-nya sudah terangkat. Ia tersenyum. “Kau sudah melihatnya, ya?” tanyanya.
Aiko mengangkat bahu serba salah. Sebaiknya ia tidak berpura-pura .kbego. “Siapa wanita itu?” tanyanya.
Takumi menghampiri laptop dan mematikannya. “Wanita yang pernah kusukai,” jawabnya.
“Oh.”
“Tapi dia lebih menyukai sahabatku.”
“Oh ...?”
“Mereka akan menikah,” kata Takumi lagi.
Aiko membuka mulut ingin menanyakan sesuatu, tapi tidak jadi. Ia tidak tahu apakah pertanyaan yang ingin ditanyakannya itu terlalu pribadi.
“Kau benar,” gumam Takumi tiba-tiba sambil tersenyum samar, seakan bisa membaca pikiran Aiko. “Karena itulah aku datang ke Tokyo. Konyol sekali, bukan?”
Aiko menggeleng. “Entahlah.” Ia berhenti sejenak, lalu bertanya ragu, “Lalu bagaimana sekarang?”
Jeda sesaat sementara Takumi berpikir-pikir. “Semenjak aku datang ke Tokyo, aku jarang memikirkannya. Dan akhir-akhir ini aku hampir tidak pernah memikirkannya.”
“Bukankah itu bagus.”
“Ya, kurasa itu bagus,” gumam Takumi dengan nada melamun.
Melihat laki-laki itu agak murung, Aiko buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Baiklah. Ayo, kita turun sekarang. Mereka pasti sudah menunggu kita.”
Ketika Aiko akan berjalan ke pintu, ia mendengar Takumi bertanya, “Kakimu kenapa?”
Akhirnya! Aiko tersenyum dan berputar kembali menghadap Takumi, lalu menunduk dan menarik ujung celana panjangnya ke atas, memperlihatkan pergelangan kaki kirinya yang diperban.
“Terkilir sewaktu di rumah sakit,” sahutnya dengan nada gembira.
“Tidak parah.”
Takumi mengamati kaki Aiko yang diperban. Kali ini keningnya berkerut. “Tidak sakit?”
“Tentu saja sakit. “
“Bagaimana kakimu bisa terkilir?” tanya Takumi. Matanya kembali ke wajah Aiko.
Aku menabrak seseorang di rumah sakit,” jawab Aiko cepat dan penuh semangat. “Hei, kau mau tahu siapa yang kutabrak?”
“Siapa?”
“Cinta perta-ma-ku.”
“Oh?” Hanya itu reaksi Takumi, tapi Aiko tidak peduli. Ia sedang bersemangat dan ingin bercerita.
“Dia sudah banyak berubah ... Yah, itu memang sudah pasti. Lagi pula aku sendiri sudah lupa wajahnya tiga belas tahun yang lalu itu. Aku hanya ingat dia memakai topi biru.” Aiko terdiam sejenak, seperti sedang melamun. “Aku tidak akan mengenalinya kalau perawat itu tidak memanggil namanya.”
Takumi membuka pintu dan Aiko mengikutinya keluar. “Kau yakin memang dia orangnya?” tanya Takumi sambil menutup pintu.
“Ya, sudah kutanyakan lp0angsung padanya.”
“Dia juga masih ingat padamu?”
Aiko tertawa pelan. “Tidak, dia tidak ingat. Kami dulu memang bukan teman sepermainan dan dia memang tidak mengenalku. Aku tahu tentang dia karena dulu dia pernah membantuku dan aku terpesona. Dia sangat ramah.”
Takumi tidak berkomentar.
“Lihat.” Aiko mengayunkan kaki kirinya ke depan. “Dia juga yang membalut kakiku. Dia dokter! Keren, kan?”
Takumi menatap kaki kiri yang diacungkan itu, lalu beralih menatap tangga di depannya. Setelah berpikir sejenak, ia menyerahkan botol sake kepada Aiko, lalu berjalan ke tangga dan duduk di anak tangga teratas, memunggungi Aiko.
“Apa?” tanya Aiko tidak mengerti.
Takumi rnenoleh dan menepuk punggungnya sendiri. “Ayo, biar kugendong sampai ke bawah. Kau pasti susah naik-turun tangga dengan kaki seperti itu.”
Aiko ragu-ragu. Alisnya terangkat. “Kau yakin?”
“Tentu.”
“Aku lumayan berat.”
“Kelihatannya memang begitu.”
Aiko berkacak pinggang. “Nah, apa maksudmu sebenarnya?”
“Oh, ayolah. Aku hanya bercanda,” sela Takumi sambil tertawa kecil.
“Aku mulai kedinginan, jadi tolong cepat.”
Aiko menarik napas. “Sebaiknya kau tidak menyesal,” gumamnya sambil berdoa dalam hati semoga laki-laki itu tidak ambruk karena berat badannya. Setelah memantapkan hati, Aiko merangkulkan kedua lengannya di leher Takumi dan membiarkan laki-laki itu menggendongnya.
“Wah, ternyata kau ...”
Aiko memukul bahunya. “Sudah kubilang!”
Takumi tertawa dan berdiri tanpa kesulitan. “Aku hanya ingin bilang ternyata kau tidak seberat yang kuduga.”
“Tidak seberat yang kau duga?” tanya Aiko sambil mengerutkan kening. “Jadi maksudmu aku terlihat gemuk?” Suaranya agak melengking.
Takumi menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan menuruni anak tangga dengan hati-hati.
“Apa katamu?” tanya Aiko sambil bergerak-gerak ingin melihat wajah Takumi.
Takumi memperbaiki posisi Aiko di punggungnya sambil mendesah, “Kau sadar aku sedang menggendongmu turun tangga? Kalau kau tidak mau kita jatuh terguling sepanjang jalan, sebaiknya kau tidak bergerak-gerak.”
“Tadi kau bilang aku tidak berat,” protes Aiko.
“Kau memang tidak berat. Setidaknya tidak seberat yang kuduga.”
Aiko kembali mengernyitkan kening tidak mengerti. “Lalu kenapa kaubilang kita bisa jatuh terguling kalau aku memang tidak berat?”
“Karena kalau kau bergerak-gerak, aku bisa kehilangan keseimbangan. Itu masalahnya,” sahut Takumi dengan nada seperti sedang menjelaskan kepada anak kecil berumur lima tahun kenapa manusia tidak bisa terbang seperti burung.
“Tidak mungkin,” balas Aiko, masih tidak puas. “Kalau aku memang seringan bulu, meskipun sekarang aku berjumpalitan, kau tidak mungkin jatuh.”
Takumi tertawa. “Siapa bilang kau seringan bulu?”
Aiko mengguncang-guncang bahu Takumi. “Jadi menurutmu aku gemuk?” pekiknya. “Ayo, bicara yang jelas!”
Tawa Takumi semakin keras. “Aduh, kau mencekikku.”
Aiko tidak bisa menahan diri untuk ikut tertawa, tapi ia tetap merangkul leher Takumi erat-erat dan mengancam, “Jadilah pria sejati dan bicara yang jelas. Aku gemuk atau tidak?”
Dan pembicaraan tentang cinta pertama Aiko pun untuk sementara terlupakan.