BAB 10

2044 Words
Itsuki hampir tidak memercayai matanya sewaktu ia melihat Aiko keluar dari apartemen Takumi keesokan paginya. Ketika akan masuk ke apartemennya sendiri, gadis itu baru menyadari keberadaan Itsuki di tengah tangga. “Oh, Itsuki-kun, selamat pagi,” sapa Aiko dengan senyum salah tingkah. Dan kalau Itsuki tidak salah Iihat, wajah Aiko merona. “Kau mau pergi kuliah?” Itsuki mengangguk. “Aku baru mau ke tempat Takumi Oniisan,” sahutnya, masih heran. “Mau meminjam...,” ia terdiam sejenak, sudah lupa apa yang ingin dipinjamnya dari Takumi. “Aiko Oneesan ...?” Aiko buru-buru menyela, “Kalau begitu, sampai jumpa. Aku masuk dulu.” Begitu pintu apartemen Aiko tertutup, Itsuki berbalik menuruni tangga, tidak jadi pergi ke apartemen Takumi. *** Hikari terkejut mendengar pintu apartemennya terbuka dengan suara keras. “Ada apa? Ada apa?” “Oneechan! Dengar, aku baru melihat Aiko Oneesan keluar dari apartemen Takumi Oniisan,” Itsuki melaporkan dengan nada mendesak. “Apa?” Hikari mengangkat alis dan melirik jam dinding. Jam enam. “Sepagi ini?” Itsuki mengerutkan kening dan berpikir-pikir. “Oneechan, menurutmu mereka ...” Hikari memukul kepala adiknya. “Jangan berpikir sembarangan. Aiko gadis baik-baik.” “Aku kan tidak bilang apa-apa,” gerutu Itsuki sambil mengusap-usap kepalanya. “Tapi kenapa dia keluar dari apartemen Takumi pagi-pagi begini?” gumam Hikari pada diri sendiri. “Mungkinkah Aiko Oneesan berada di apartemen itu semalaman?” celetuk Itsuki. Hikari menatap adiknya dan mengerjap-ngerjapkan mata. “Yah, mereka berdua memang cukup dekat. Selalu bersama-sama. Tapi masa ...?” “Aiko Oneesan memang gadis polos. Mungkin saja Takumi Oniisan yang mengambil kesempatan dengan ...” Hikari kembali memukul kepala adiknya. “Sebaiknya kau pergi kuliah sekarang. Heran, kau ini laki-laki tapi suka sekali bergosip.” Itsuki mengangkat bahu tidak peduli. “Bukankah aku belajar dari Oneechan?” Lalu ia melesat keluar sebelum Hikari sempat memukulnya lagi. *** ‘Memalukan. Kenapa aku bisa sampai tertidur di apartemen Takumi?’ Aiko mengembuskan napas sambil menyeberangi jalan. Hari ini banyak sekali yang harus dilakukannya di perpustakaan dan kesibukan mengalihkan pikirannya dari kejadian memalukan tadi pagi untuk sementara. Tapi sekarang dalam perjalannya ke rumah sakit karena flu yang tidak kunjung membaik, ia jadi teringat pada kejadian tadi pagi ketika ia terbangun di sofa ruang tamu Takumi. “Aku tidur di sini semalaman?” tanya Aiko tidak percaya. Takumi mengangguk. “Tidurmu nyenyak sekali, jadi tidak kubangunkan. Lagi pula aku tidak keberatan.” Laki-laki itu memang tidak keberatan, tapi Aiko merasa malu. Ditambah lagi ia bertemu dengan Itsuki ketika ia keluar dari apartemen Takumi tadi pagi. Tindaktanduknya pasti terlihat mencurigakan. Aiko menggeleng-gelengkan kepala untuk menjernihkan pikiran. Tiba-tiba lagu Fly High terdengar nyaring. Aiko mengeluarkan ponsel dari tas tangan dan membaca tulisan yang menari-nari di layar. Takumi. “Moshi-moshi? Takumi-san?” “Lampu ruang dudukmu sudah bisa menyala.” Terdengar suara Takumi di seberang sana. Aiko tersenyum. Tadi pagi ia memang sudah melapor kepada Kakek Osawa dan menelepon tukang listrik untuk memperbaiki kabel listriknya yang bermasalah. Karena ia harus pergi bekerja dan tidak mungkin membiarkan si tukang listrik sendirian di apartemen, Aiko akhirnya meminta Takumi—tetangganya itu punya banyak waktu luang—menemani Kakek Osawa mengawasi apartemennya selama kabel listriknya diperbaiki. “Kau memang tetangga paling baik sedunia,” kata Aiko melebih-lebihkan. “Kau sudah menyelamatkan hidupku.” “Kalau kau mau berterima kasih, traktir aku makan.” “Oke, kutraktir makan gado-gado.” “Gado... apa? Apa itu?” Takumi terclengar ragu, tapi lalu cepat-cepat menambahkan, “Tapi aku mau saja, asal memang bisa dimakan.” Aiko tertawa sumbang—benar-benar sumbang, karena ia memang sedang flu. “Jam tujuh, kalau begitu.” Tidak lama setelah ia menutup ponsel, ponselnya berdering tiga kali. Ada pesan masuk. Alisnya terangkat heran melihat pesan itu dari Takumi. Bukankah laki-laki itu baru saja bicara dengannya? Begitu melihat isi pesan itu, alis Aiko pun berkerut samar. Sebuah foto. Sepertinya hasil jepretan Takumi. Aiko tidak terlalu paham, tapi kalau tidak salah foto itu menampilkan langit malam penuh bintang. Di bawah foto itu ada sebaris kalimat: Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap? Sementara ia masih memandangi foto itu dengan bingung mencoba memahami maksud Takumi, ponselnya kembali berdering tiga kali. Ada pesan lagi. Kali ini tidak ada foto, hanya pesan tertulis dari Takumi: Jangan lupa ke dokter sebelum kau menyebarkan virus flu ke mana-mana. “Ini juga sedang ke rumah sakit,” Aiko menggerutu pada ponsel yang dipegangnya. *** Ternyata Aiko harus menunggu 45 menit sebelum perawat memanggil namanya. Proses pemeriksaannya sendiri tidak lama. Dokter tua langganannya itu hanya memeriksanya sebentar lalu menuliskan resep obat yang harus ditebus di apotek rumah sakit. “Semoga aku membawa cukup uang,” gumam Aiko pada diri sendiri ketika melewati meja perawat dalam perjalanannya ke apotek. Ia mengeluarkan dompet dan memeriksa isinya. Karena asyik menghitung uang, ia tidak memerhatikan jalan dan menabrak seseorang yang berjalan terburu-buru ke arah meja perawat. Berhubung tabrakan itu cukup keras dan yang ditabrak adalah laki-laki, Aiko kehilangan keseimbangan dan membentur dinding koridor. Dompetnya terlepas dari pegangan dan uang logamnya yang banyak jatuh bergemerencing di lantai. “Maafkan saya. Maaf.” Aiko merasa ada tangan yang membantunya berdiri tegak. Ia mendongak ke arah suara bernada khawatir itu. Pria yang ditabraknya itu mengenakan jubah putih clengan stetoskop tergantung di leher. Rupanya dokter. Usianya masih muda dan wajah kurusnya terlihat cemas. “Tidak apa-apa?” tanya dokter muda itu sambil mengamati Aiko dari atas ke bawah. “Tidak, tidak apa-apa,” sahut Aiko cepat sambil berjongkok memunguti uang logamnya. Pipinya memanas. Ia tidak terlalu memikirkan tabrakan tadi, tapi ia malu karena uang logamnya berjatuhan di lantai dengan bunyi berisik. Koridor itu tidak sepi, banyak yang berlalu lalang, dan sekarang ia harus memunguti semua koinnya satu per satu. Belum lagi kalau ada uang logam yang menggelinding entah ke mana. Si dokter muda menggumamkan permintaan maaf sekali lagi, lalu ikut berjongkok membantu Aiko memunguti uang logamnya. “Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri,” kata Aiko berusaha menahannya. “Sensei* pasti sibuk.” Dokter itu tersenyum dan berkata ringan, “Aku yang menabrakmu, jadi tentu saja aku harus membantu. Jangan khawatir. Saat ini aku tidak sibuk.” Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan semua logam di lantai. Dokter itu menyerahkan hasil kumpulannya kepada Aiko. “Terima kasih,” gumam Aiko dengan kepala tertunduk. Ketika bergegas berdiri, barulah ia menyadari pergelangan kaki kirinya terkilir. “Kenapa?” tanya si dokter begitu melihat Aiko meringis kesakitan. “Kakimu sakit? Biar kuperiksa.” Menggelikan. Ini sudah seperti adegan dalam film-film, pikir Aiko dengan wajah panas. Tetapi kalau dalam film kaki si tokoh utama wanita terkilir di depan seorang pangeran tampan, maka kaki Aiko terkilir di depan seorang dokter yang walaupun berwajah lumayan, tidak bisa disamakan dengan pangeran tampan. Kalau dalam film si tokoh utama wanita akan digendong oleh si pangeran tampan dengan penuh kasih, maka Aiko sudah pasti tidak akan mengalami yang seperti itu. Ia berhadapan dengan dokter, jadi sudah hampir bisa dipastikan kakinya akan dibebat tanpa ampun dan ia harus berjalan dengan tongkat. Sama sekali tidak romantis. Sebelum Aiko sempat menjawab, terdengar seseorang berseru, “Kitano Sensei, telepon untuk Anda!” Mereka berdua serentak menoleh ke arah meja perawat tempat seorang perawat sedang mengacungkan gagang telepon ke arah mereka. ‘Dokter siapa katanya tadi? Kitano?’ “Ya, terima kasih,” si dokter muda yang berdiri di hadapan Aiko membalas. Ia berpaling kembali kepada Aiko dan berkata, “Tunggu di sini sebentar, ya? Sebentar saja.” Ia mendudukkan Aiko di salah satu kursi yang ada di koridor. “Aku akan segera kembali.” Aiko mengangguk dan memandangi dokter muda itu berlari-lari kecil ke arah meja perawat dan menerima telepon. Ternyata pembicaraan itu tidak lama. Dokter itu baru saja meletakkan gagang telepon ketika seorang dokter yang terlihat jauh lebih senior menghampiri dan menepuk punggungnya. “Oh, Akira, baguslah kau sudah datang. Kami butuh pendapatmu tentang pasien kamar 1502. Bisa ke ruanganku setelah ini?” Mata Aiko melebar dan ia terpana. Sakit di pergelangan kakinya terlupakan sejenak. ‘Dokter itu ... Dokter Kitano ...? Akira ...? Kitano Akira? Kitano Akira yang itu?!’ Aiko tidak mendengar pembicaraan kedua dokter itu selanjutnya, karena tepat pada saat itu perawat yang tadi memanggil si dokter muda untuk menerima telepon lewat di depannya. Aiko cepat-cepat menahan si perawat. “Permisi, ada yang ingin saya tanyakan.” “Ya?” Perawat itu tersenyum kepadanya dengan ramah. Dengan ragu-ragu Aiko menunjuk ke arah si dokter muda yang sedang berbicara di dekat meja perawat. “Apakah benar dokter yang di sana itu Kitano Akira?” Si perawat memandang ke arah yang ditunjuk, lalu mengangguk. “Benar, Kitano Sensei adalah salah satu dokter di sini.” Aiko mengangguk-angguk setengah sadar. Tetapi benarkah Kitano Akira Sensei yang ini adalah Kitano Akira yang membantu Aiko mencari kalung yang jatuh tiga belas tahun yang lalu? Aiko tidak yakin. Ia ragu-ragu sejenak sebelum bertanya lagi, “Apakah Anda kebetulan tahu di mana Kitano Sensei bersekolah sewaktu SD?” Si perawat mengangkat sebelah alisnya dan menatap Aiko dengan tatapan heran. “Itu ...” Aiko sadar pertanyaannya pasti terdengar aneh dan ia memaksakan tawa sumbang. “Saya hanya ingin memastikan apakah Kitano Sensei itu teman lama saya. Wajahnya terlihat tidak asing,” katanya mencari-cari alasan, lalu tertawa lagi. “Tidak apa-apa kalau Anda tidak tahu. Terima kasih.” Aiko membungkukkan badan dalam-dalam dan si perawat pun berlalu dengan ekspresi heran masih tertera di Wajahnya. “Nah, sekarang mari kuperiksa kakimu.” Kepala Aiko berputar cepat. Ternyata Kitano Akira sudah kembali berdiri di sampingnya. Sesaat Aiko tidak bisa berkata-kata karena terlalu tegang. “Kakiku baik-baik saja,” sahutnya pelan. “Sensei tidak perlu repot-repot.” Kitano Akira berkacak pinggang dan memandang Aiko dengan ramah. “Aku yang menabrakmu dan membuat kakimu terkilir. Setidaknya biarkan aku memeriksanya sehingga aku tidak terlalu merasa bersalah.” Akhirnya Aiko menyerah, hanya karena ia ingin berbicara lebih banyak dengan dokter itu. Kitano Akira mengajak Aiko masuk ruang periksa lalu memeriksa kaki Aiko sebentar. Ternyata kaki Aiko hanya terkilir ringan. Tidak ada masalah serius. Setelah itu pergelangan kaki Aiko diolesi obat dan diperban dengan hati-hati. “Selesai,” kata Kitano Akira sambil tersenyum kepada Aiko. “Beberapa hari lagi pasti sembuh. Kalau ada apa-apa, jangan ragu-ragu datang mencariku.” Aiko mengangguk. Ia mengamati dokter yang sedang membereskan peralatannya itu. Ia harus bertanya. Ia harus memastikan. “Sensei ... Nama Sensei ... Kitano Akira?” Si dokter menoleh dan mengangguk. “Benar. Apakah kita pernah bertemu?” Sulit mencari kalimat yang tepat. “ Mungkin ini terdengar agak aneh,” kata Aiko sambil tersenyum salah tingkah, “Tapi sepertinya Sensei adalah kakak kelasku sewaktu SD. Masih ingat nama sekolah Sensei sewaktu SD?” Begitu Dokter Kitano menyebut nama SD-nya, Aiko pun membelalak. “Benar,” bisiknya gembira. “Jadi kita pernah satu sekolah?” tanya Kitano Akira terkejut. “Dan kita saling mengenal?” Aiko menggeleng. “Kita tidak benar-benar saling mengenal. Kita malah belum berkenalan. Aku mengenal Sensei karena Sensei membantuku mencari kalung yang terjatuh.” Kitano Akira berusaha mengingat-ingat selama beberapa saat, lalu ia tersenyum menyesal. “Maaf, sudah lama sekali, aku hampir tidak ingat.” “Memang kejadian itu sudah tiga belas tahun yang lalu,” kata Aiko sambil mengangkat bahu. “Tentu saja Sensei sudah tidak ingat. Sewaktu kita bertemu, Sensei sudah SMP dan Sensei datang ke sekolahku untuk menemui salah satu guru, kurasa.” Kitano Akira kembali mengingat-ingat. “Ingatanku tentang masa kecil sudah agak buram, tapi samar-samar aku ingat ada kejadian seperti itu.” Ternyata laki-laki itu tidak ingat padaku, pikir Aiko sedikit menyesal. Namun ia bisa maklum. Tiga belas tahun bukan waktu yang singkat. Ia sendiri sudah melupakan banyak hal yang pernah terjadi selama tiga belas tahun terakhir ini. Ia tentu saja masih ingat pada Kitano Akira karena laki-laki itu adalah cinta pertamanya. Sedangkan bagi Kitano Akira, Aiko mungkin hanya seorang gadis kecil yang butuh bantuan dalam mencari kalungnya yang hilang. Sama sekali bukan sesuatu yang penting untuk diingat. Kitano Akira menatap Aiko sambil tersenyum ramah. “Tadi kaubilang kita dulu belum berkenalan. Kalau begitu ...” Ia mengulurkan tangan kanannya. “Namaku Kitano Akira. Senang berkenalan denganmu.” Aiko ragu sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan pria itu. Ia pun balas tersenyum dan berkata, “Nakamura Aiko. Senang bertemu lagi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD