BAB 9

1803 Words
Aiko berjalan cepat sambil mencoba bersiul untuk menghibur diri, tetapi tidak berhasil. Cuaca yang dingin dan flu membuat siulannya seperti bunyi balon kempes. Ia sudah hampir sampai di halte bus yang dimaksud Takumi. Tepat di belokan jalan itu. “Nah, itu Takumi-san,” gumam Aiko pada diri sendiri ketika membelok dan melihat sosok Takumi yang berdiri di halte bus. Oh, ternyata Takumi tidak sendirian. Ia asyik mengobrol dengan seorang laki-laki bermantel cokelat panjang sambil tertawa-tawa akrab. Namun sebelum Aiko sempat menghampiri mereka untuk melihat dan mendengar lebih jelas, laki-laki bermantel cokelat itu menjabat tangan Takumi, membuka payungnya dan berjalan menembus hujan, meninggalkan Takumi sendirian di halte bus. Aiko melihat Takumi mendongak memandangi hujan yang terus turun. Laki-laki itu bahkan tidak sadar ketika Aiko menghampirinya. “Aku sudah datang.” Takumi menoleh dengan cepat. Alisnya terangkat begitu menyadari Aiko sudah berdiri di dekatnya. Senyumnya mengembang. “Kau benar-benar datang! Kau baik sekali. Sungguh!” Aiko mengulurkan payung lipat yang dibawanya untuk Takumi. “Memangnya kau pikir aku tidak akan datang?” “Aku tidak tahu kalau kau benar-benar ingin menghabiskan malam Natal bersamaku,” gurau Takumi riang. “Terserah apa yang kaupikirkan,” sela Aiko ringan, sudah terbiasa dengan Takumi yang suka bercanda dan berbicara seenaknya. Takumi menerima payung lipat yang disodorkan dan mengerutkan kening. “Sepertinya flumu lebih parah daripada yang kukira.” “Aku sudah minum obat. Besok juga sembuh,” Aiko membantah sambil mengamati Takumi yang membuka lipatan payungnya. “Ngomong-ngomong, tadi aku melihatmu berbicara dengan seseorang. Temanmu?” Takumi mengangguk. “Teman sekolahku dulu. Kami kebetulan bertemu di sini. Hebat sekali, bukan?” katanya gembira. “Kami tidak sempat berbicara banyak karena dia harus mengunjungi pasiennya yang tinggal di sekitar sini. Oh ya, sekarang dia sudah menjadi dokter. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengannya setelah sekian lama. Dan dia yang mengenaliku lebih dulu.” Aiko menarik lengan Takumi. “Ayo, kita mengobrol sambil jalan saja. Dingin sekali,” katanya. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah supaya Takumi bisa memasang bola lampu untuknya. “Lalu kau sudah menanyakan nomor teleponnya?” “Ya. Kami juga sudah berencana bertemu besok,” sahut Takumi puas. Ia menoleh menatap Aiko yang berjalan di sampingnya. “Ngomong-ngomong soal dokter, kalau besok flumu belum sembuh, sebaiknya kau ke dokter.” Aiko mendesah. “Sudah kubilang, aku punya obat dan sudah kuminum. Besok juga sembuh.” “Kau mau kukenalkan kepada temanku yang tadi itu? Dia kan dokter.” “Tidak perlu. Aku sudah punya dokter langganan.” Tiba-tiba Takumi memegang siku Aiko dan menariknya menepi tepat ketika sebuah mobil melewati mereka. Aiko agak heran mendapat perlakuan seperti itu dari Takumi. Lebih heran lagi ketika ia menyadari laki-laki itu secara tidak mencolok telah bertukar posisi dengannya, sehingga kini Aiko berjalan di bagian dalam jalan dan Takumi berjalan di sebelah luar. Menurut Aiko sikap seperti itu sangat sopan dan penuh perhatian. Sejak Takumi pindah ke apartemen 201 dua minggu yang lalu, Aiko sudah memerhatikan bahwa Takumi selalu bersikap sopan walaupun gaya bicaranya asal asalan. Ia juga tetangga dan teman yang baik. Di samping itu, mereka sering menghabiskan waktu bersama. Takumi sering mampir ke perpustakaan tempat Aiko bekerja dan mengajaknya makan bersama. Karena sering menghabiskan waktu bersama, Aiko yakin sikap Takumi yang sopan itu bukan karena laki-laki itu ingin memamerkan diri, tapi karena memang sudah terbiasa melakukannya sehingga ia sendiri pun tidak menyadarinya. Takumi selalu membuka dan menahan pintu untuk Aiko setiap kali mereka masuk dan keluar dari ruangan. Kalau mereka berjalan bersama seperti sekarang ini, Takumi selalu berjalan tepat di sampingnya, tidak pernah di depan atau di belakangnya. Tindakan kecil itu membuat Aiko sangat terkesan. Zaman sekarang jarang sekali ada pria yang bersikap seperti itu. Mungkinkah sikap seperti itu didapat Takumi dari Amerika? Tetapi semua sopan santun itu tidak terlalu berarti kalau seorang laki-laki tidak bisa melakukan satu hal yang paling penting. Aiko mendongak menatap Takumi sambil tersenyum manis. “Ngomong-ngomong, Takumi-san, kau bisa memasang bola lampu?” *** “Lihat? Tinggal diputar begini saja,” kata Takumi sambil menunjukkan cara memasang bola lampu di ruang duduk apartemen Aiko. “Kau benar-benar harus belajar. Masa pekerjaan segampang ini tidak bisa dilakukan? Harus menunggu orang lain melakukannya untukmu?” Aiko yang memegangi senter cemberut saja. “Aku takut kesetrum,” gerutunya pelan. “Tidak akan kesetrum kalau kau hati-hati.” Aiko mencibir. “Nah, selesai,” kata Takumi sambil turun dari tangga. “Coba nyalakan.” Aiko menjentikkan sakelar lampu. Tidak ada yang terjadi. Ruangan tetap gelap. “Takumi-san, sebenarnya kau bisa memasang bola lampu atau tidak?” tanya Aiko curiga. Takumi mendongak menatap bola lampu yang baru dipasangnya dengan kening berkerut. “Sepertinya ini bukan masalah bola lampu yang rusak,” katanya. “Ada masalah dengan kabel listrikmu.” “Lalu?” “Kalau memang itu masalahnya, aku tidak bisa membantu.” “Ha?” Takumi mengangkat bahu. “Aku bukan tukang listrik. Sebaiknya kau memberitahu Kakek Osawa dan menelepon tukang listrik besok. Biar mereka yang memeriksa kerusakannya.” “Tapi ... Tapi ...” “Kenapa?” Takumi berbalik menghadap Aiko. “Bagaimana denganku?” “Bagaimana denganmu?” “Itu ...” Aiko menautkan jari-jarinya di depan d**a dan tersenyum salah tingkah. “Aku tidak suka gelap.” Walaupun ruangan itu hanya disinari lampu senter yang remang-remang, Aiko bisa melihat senyum yang tersungging di bibir Takumi. Sudah pasti laki-laki itu menertawakannya. “Kalau kau takut gelap, diam di kamar tidur saja. Di sana kan lampunya masih bisa menyala,” kata Takumi sambil menahan tawa. “Tapi aku kan sering mondar-mandir di sini,” Aiko membela diri sambil menggerakkan tangannya ke sekeliling ruang tamu. “Perasaanku tetap tidak enak kalau gelap gulita.” “Nyalakan lilin.” “Sama saja.” “Jadi kau mau bagaimana?” Aiko memiringkan kepala. “Aku bisa menumpang di tempat Hikari Oneesan, tapi kebetulan dia sedang tidak ada di rumah. Dan aku tidak mau merepotkan Kakek dan Nenek.” “Kau mau aku menemanimu di sini?” tanya Takumi setelah memikirkan arah pembicaraan Aiko. Aiko menggeleng. “Sudah kubilang aku tidak suka gelap. Tidak peduli ada yang menemani atau tidak, pokoknya aku tidak suka gelap.” Takumi mendesah. “Jadi aku tidak bisa mengajakmu nonton film di bioskop ya?” “Apa?” tanya Aiko sambil mengerjapkan mata. Apa hubungan film bioskop dengan pembicaraan mereka? “Di bioskop, kan gelap.” “Aah, itu.” Aiko paham. “Tapi itu berbeda.” “Berbeda bagaimana? Sama-sama gelap.” “Kalau di bioskop perhatianku sepenuhnya tertuju ke film yang diputar dan aku tidak merasa gelap.” “Berarti kau mau kalau kuajak nonton?” Bagaimana pembicaraan mereka bisa sampai ke masalah nonton? “Tentu saja,” sahut Aiko, lalu menambahkan, “Kalau kau yang bayar.” Takumi tersenyum. “Baiklah, jadi bagaimana sekarang? Kau tidak mau tetap di sini. Mau menunggu di tempatku?” Wajah Aiko berseri-seri. “Ya!” “Tunggu dulu.” Takumi mengangkat sebelah tangan dan mengerutkan kening. “Kau selalu seperti ini? Begitu bersemangat karena akan masuk ke apartemen laki-laki?” “Tidak!” Aiko mendorong bahu Takumi sambil tertawa. “Kalau begitu kau sedang berusaha merayuku?” gurau Takumi sementara dirinya didorong ke pintu. “Kau harus tahu bahwa aku bukan laki-laki yang mudah dirayu.” “Aku bahkan tidak akan bermimpi merayumu,” bantah Aiko di sela-sela tawanya. “Bagiku kau hanya tetanggaku yang usil dan banyak omong.” “Jadi kau tidak menganggapku laki-laki? Ah, aku tersinggung,” kata Takumi sambil memegangi d**a dengan ekspresi terluka. Ini bukan pertama kalinya Aiko masuk ke apartemen 201 setelah ditempati Takumi. Seperti biasanya, apartemen itu tidak berantakan, malah terkesan kosong. “Sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu,” kata Aiko sambil duduk di sofa empuk di ruang tamu sementara Takumi menyalakan pemanas. Hujan di luar masih belum berhenti. “Apartemenmu terlihat kosong, kau tahu?” “Memang,” sahut Takumi. “Aku jarang di rumah, jadi untuk apa membeli barang-barang yang tidak berguna? Kau mau minum?” Aiko mengangguk. “Teh juga boleh,” katanya. “Ngomong-ngomong, Takumi-san, kau fotografer, bukan?” “Ya. Kenapa?” “Kenapa aku tidak melihat satu lembar foto pun di sini?” tanya Aiko sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Maksudku, foto hasil jepretanmu.” “Biasanya aku menyimpan foto-fotoku di komputer. Aku jarang mencetaknya, apalagi memajangnya,” terdengar suara Takumi dari dapur. “Padahal aku ingin melihat foto-foto yang kauambil,” gumam Aiko dengan nada menyesal. Takumi muncul sambil membawa dua cangkir teh. “Lain kali akan kutunjukkan padamu.” Aiko mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila di sofa. Ia menyesap tehnya dan berkata, “Kau juga bekerja sebagai fotografer sewaktu tinggal di Amerika?” Takumi mengembuskan napas pelan, meletakkan cangkir tehnya di meja, dan menyandarkan punggung ke sandaran sofa. “Ya,” sahutnya pelan. “Kau senang di sana?” “Tentu.” Aiko mengangkat alis, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa dan menguap kecil. “Lalu sekarang kau ingin bekerja di Tokyo?” “Ya,” sahut Takumi, mengingat kalau ia memang pernah menyebut-nyebut tentang keinginannya untuk menetap di Tokyo. “Kenapa? Takumi mengangkat bahu acuh tak acuh. “Menjadi fotografer itu bisa di mana saja. Tidak harus terikat di satu tempat, bukan? Aku ingin mencari suasana baru dan menurutku Tokyo kota yang sangat menarik.” “Suasana baru?” Kepala Aiko berpindah ke lengan sofa. Ia tersenyum kecil. “Orang yang membutuhkan perubahan suasana biasanya ingin melupakan sesuatu. Bukankah begitu?” Takumi tidak menjawab. Hanya mengangkat alis dan tersenyum samar. “Aku jadi ingin tahu apa yang ingin kaulupakan. Atau siapa.” Takumi tidak langsung menjawab pertanyaan Aiko karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Beberapa saat kemudian ia menoleh dan mendapati gadis itu tengah berbaring di sofa dengan mata terpejam. Tidur? Ia bangkit dan menghampiri Aiko untuk memastikan. Benar, gadis itu sudah pulas. Flu membuat orang gampang mengantuk. Tanpa suara Takumi pergi ke kamar tidur dan keluar dengan membawa selimut tebal. Ia menyelimuti Aiko dengan hati-hati, lalu berdiri di sana dan merenung. Setelah beberapa saat ia mengeluarkan ponsel dan berjalan kembali ke kamar tidur. Ia menutup pintu kamar dan menempelkan ponsel ke telinga. Menunggu hubungan tersambung. “Halo, Ibu? Ini aku.” Takumi tersenyum mendengar rentetan omelan ibunya di ujung sana. “Baiklah, aku minta maaf karena baru menelepon Ibu sekarang, tapi aku yakin Ibu bisa mengerti.” Kali ini suara ibunya terdengar lebih tenang. Takumi melanjutkan, “Apa kabar Ayah? ... Baguslah ... Aku baik-baik saja. Ibu tidak usah khawatir ... Aku tahu, Bu. Aku mengerti.” Ibunya menanyakan sesuatu di ujung sana. Nada suaranya hati-hati. Takumi mengerutkan kening, tersenyum tipis, lalu bergumam pelan, “Wanita itu? ... Aneh sekali. Aku baru sadar aku jarang sekali memikirkannya sejak aku tiba di Jepang.” Takumi mendengar kata-kata ibunya di ujung sana, lalu berkata lagi, “Ya, itu bagus, bukan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD