“Makan apa ya malam ini?” gumam Aiko pada diri sendiri. Ia berdiri menghadap rak bahan makanan sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk. “Spageti? Atau kari? Mmm ...”
Takumi yang bertugas mendorong troli menghampirinya dan berhenti di belakangnya. “Kari saja,” celetuknya dan menjulurkan tangan melewati kepala Aiko untuk meraih sekotak bumbu kari. “Aku sudah bosan dengan makanan Barat. Kita makan makanan Jepang saja malam ini.”
Alis Aiko terangkat dan ia berputar menghadap Takumi. “Kita?” ulangnya sambil menggerakkan tangannya menunjuk dirinya dan Takumi. “Memangnya aku pernah mengajakmu makan bersama?”
Takumi menyunggingkan seulas senyum manis. “Kau akan mengajakku makan malam di tempatmu, bukan? Kau tahu, sebenarnya aku sama sekali tidak bisa memasak dan sejak kemarin aku sama sekali belum menikmati makanan yang sesungguhnya,” bujuknya. Ketika ia melihat Aiko masih menatapnya dengan sebelah alis terangkat, ia cepat-cepat menambahkan, “Begini saja, bagaimana kalau sebagai gantinya siang ini kutraktir makan? Oke?”
Aiko mengangkat bahu. “Kurasa cukup adil.”
Aiko tahu benar dirinya orang yang mudah bergaul, tapi jarang sekali ia bisa langsung merasa akrab dengan seseorang. Matsumoto Takumi kelihatannya sangat percaya diri dan pandai berbicara.
Selama makan siang mereka mengobrol banyak. Bersama laki-laki itu membuat Aiko menceritakan hal-hal yang sebenarnya tidak terpikir untuk diceritakan. Ia bercerita tentang tetangga-tetangga mereka juga tentang dirinya sendiri, seperti tentang ibunya yang saat ini sedang berada di Jakarta karena kakeknya sedang tidak sehat. Takumi sepertinya tertarik pada semua yang diceritakan Aiko.
“Giliranmu,” kata Aiko.
Takumi sendiri mengaku tidak banyak yang bisa diceritakan kepada Aiko. Katanya ia anak bungsu dalam keluarganya dan kakak laki-lakinya sudah berkeluarga. Semua keluarganya tinggal di Amerika Serikat, kecuali seorang paman yang menetap di Tokyo. Keluarganya sama sekali tidak istimewa. Ayahnya pekerja kantoran dan ibunya ibu rumah tangga biasa.
“Kenapa kau kembali ke Jepang?” tanya Aiko ketika mereka berdiri dalam kerumunan pejalan kaki di pinggir persimpangan Shibuya yang terkenal ramai, menunggu lampu lalu lintas berubah warna.
Takumi sedang sibuk membidikkan kameranya ke arah iklan-iklan neon dan layar video raksasa yang bertaburan di persimpangan itu. Wajahnya berseri-seri penuh semangat.
“Hm? Maaf, kau bilang apa tadi?” tanyanya sambil berpaling ke arah Aiko.
“Kenapa kau kembali ke Jepang?” Aiko mengulangi pertanyaannya.
“Mencari suasana baru,” jawab Takumi singkat, tanpa berusaha menjelaskan.
Tepat pada saat itu lampu tanda menyeberang menyala dan kerumunan besar orang mulai menyeberang jalan. Aiko tahu mereka harus berjalan dengan cepat namun hati-hati dalam lautan manusia yang berjalan hilir-mudik ini. Ia ingin memperingatkan Takumi. Ia menoleh, tapi Takumi tidak ada di sampingnya. Ia menoleh ke kanan-kiri. Tidak ada. Hanya ada kerumunan orang yang berlalu-lalang. Ke mana laki-laki itu?
Begitu menyadari Takumi tidak ada di dekatnya, langkah Aiko otomatis terhenti. Dengan segera ada seseorang yang menabraknya dari belakang. Sebelum Aiko sempat menggumamkan permintaan maaf, seseorang yang berjalan dari arah berlawan menyenggol bahunya. Aiko terdorong mundur beberapa langkah dan nyaris terjatuh kalau punggungnya tidak tertahan sesuatu.
“Sebenarnya kau orang Tokyo atau bukan? Menyeberang jalan saja tidak bisa.”
Mendengar suara itu Aiko mendongak dan melihat wajah Takumi. Ternyata Takumi yang menahannya supaya tidak terjatuh. Takumi memegang sikunya dan membimbingnya menyeberang jalan.
“Tadi aku sedang mencarimu,” kata Aiko berusaha menjelaskan begitu mereka menyeberang dengan selamat dan berhenti sejenak di dekat patung Hachiko yang terkenal sebagai tempat pertemuan penduduk Tokyo. Setiap hari banyak sekali orang yang berkumpul di sana, terlebih lagi hari Minggu.
“Dari tadi aku ada di belakangmu,” kata Takumi ringan.
“Jangan tiba-tiba menghilang seperti itu,” gerutu Aiko. “Membuat orang lain bingung. Apalagi di tengah jalan.”
“Baiklah, maafkan aku,” kata Takumi dengan nada bergurau. “Lain kali aku akan menempel terus padamu.”
Aiko membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. “Akira!”
Kepala Aiko langsung berputar ke arah suara wanita itu. Takumi juga ikut berpaling. Mereka melihat seorang wanita menghampiri anak laki-laki yang sedang mengulum lolipop. Usia anak itu pasti tidak lebih dari tiga tahun.
“Akira, sudah Ibu bilang jangan berkeliaran sembarangan,” si Ibu mengomel. Ia menggandeng tangan si anak yang hanya mendongak memandang wajah kesal ibunya.
“Kalau tidak, lain kali Ibu tidak akan belikan permen lagi. Mengerti?”
Aiko memerhatikan kejadian singkat itu sambil memikirkan hal lain. Hari ini ia bertemu dua orang yang bernama Akira, tapi dua-duanya bukan Akira yang dicarinya.
“Ada apa?” tanya Takumi ketika melihat Aiko yang merenung.
Aiko menggeleng pelan. Matanya masih tertuju pada anak laki-laki dan ibunya itu. “Nama anak itu Akira,” gumamnya pelan.
Takumi mengangguk, tapi tidak mengerti. “Lalu?”
“Nama yang bagus,” gumam Aiko lagi setengah melamun.
“Bagus bagaimana?”
Aiko mengangguk. “Nama itu mengingatkanku pada seseorang.”
“Siapa?
Aiko mendesah. “Anak laki-laki pertama yang kusukai.”
“Oh, ya?”
“Takumi-san, siapa nama cinta pertamamu?”
Alis Takumi terangkat. “Cinta pertamaku?”
Aiko menoleh ke arahnya dan bertanya sekali lagi, “Kau masih ingat nama cinta pertamamu?”
“Namanya? Mmm ...” Takumi memasang tampang seakan sedang berpikir keras, lalu ia tersenyum lebar dan mengangguk. “Kyoko,” jawabnya, lalu memiringkan kepala. “Atau Aiko?”
Mata Aiko menyipit. Laki-laki itu mulai bercanda lagi. Ia menarik napas dan mengembuskannya dengan dramatis. “Lupakan saja,” gumamnya dengan nada pasrah.
“Serius,” tegas Takumi, namun senyumnya semakin lebar. “Memangnya kaupikir hanya kau sendiri yang bernama Aiko di seluruh Jepang ini? Dan ngomong-ngomong soal nama ...”
“Baiklah, terserah,” Aiko memotong ucapan Takumi sambil mengangkat sebelah tangannya yang tidak menjinjing kantong belanjaan dengan gerakan mengalah. “Aku percaya padamu. Ayo, jalan. Bukankah kau bilang ingin melihat-lihat Shibuya?” Ia melihat kantong belanjaannya, lalu pandangannya beralih ke Takumi yang juga menjinjing kantong belanjaan. “Seharusnya kita tidak belanja dulu. Sekarang kita terpaksa harus membawa barang-barang ini ke mana-mana.”
Mereka kembali melanjutkan langkah. Tadi Takumi ingin berkata bahwa ia mengenal seseorang bernama Akira. Salah satu teman sekelas dan teman dekatnya juga bernama Akira. Gara-gara Aiko bertanya tentang cinta pertamanya, Takumi jadi teringat pada masa kecilnya ketika ia masih tinggal di Tokyo. Ia juga teringat pada teman-teman sepermainannya dan bertanya-tanya bagaimana keadaan mereka sekarang. Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan mereka. Sudah lama sekali. Apakah mereka sudah berubah? Takumi masih ingat nama-nama mereka yang sering bermain dengannya. Taguchi Emi, Yamada Makoto, Kawakubo Eiji, dan Kitano Akira. Apakah mereka semua masih tinggal di Tokyo?