“Kau sudah menelepon ibumu?”
Takumi mengalihkan perhatian dari kameranya lalu memandang pria berusia empat puluhan dan berpenampilan rapi yang berdiri di sampingnya. Ia tersenyum samar dan menggeleng.
Kobayashi Hiroshi mendesah memandang keponakannya yang kelihatan tidak peduli itu. Takumi sudah tinggal di New York lebih dari sepuluh tahun dan selama itu ia tidak pernah kembali ke Jepang. Sepanjang pengetahuan sang Paman, kehidupan Takumi di New York sangat baik.
Anak itu sudah menjadi salah satu fotografer profesional yang cukup terkenal. Karena itu ia agak heran ketika Takumi meneleponnya seminggu yang lalu dan berkata ia akan kembali tinggal di Tokyo. Tetapi keponakannya itu tidak mau tinggal di apartemen pribadi yang disediakan untuknya di Roppongi yang trendi. Ia malah menyewa apartemen kecil di pinggiran kota.
Kobayashi Hiroshi sudah bertanya pada kakak perempuannya—ibu Takumi— tentang apa yang sebenarnya diinginkan Takumi karena anak itu sendiri tidak mau menjelaskan, tetapi ibu Takumi juga tidak bisa membantu banyak. Apalagi setelah tiba di Tokyo, Takumi sama sekali belum menelepon keluarganya di New York.
“Bagaimana kalau nanti ibumu khawatir?” Kobayashi Hiroshi berusaha membujuk keponakannya. “Kau tidak memberitahunya di mana kau tinggal, apa yang kaulakukan, bagaimana keadaanmu ...”
“Ibu tidak punya alasan untuk khawatir. Sudah kubilang padanya aku datang ke sini untuk berlibur. Bukankah Paman juga sudah memberitahunya bahwa Paman melihatku tiba di Tokyo dengan selamat,” gumam Takumi ringan. “Kita tidak perlu memberitahu Ibu tentang hal selebihnya.”
Ia mengangkat kameranya dan memandang sekelilingnya dari balik lensa, berusaha mencari objek yang cukup menarik untuk dipotret. Harajuku benar-benar mengesankan, penuh warna dan inovatif. Sumber inspirasi.
Sebaliknya, Kobayashi Hiroshi tidak terlalu suka Harajuku. Tentu saja karena kawasan itu adalah kawasan yang dikuasai para remaja. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah para remaja yang berdandan seronok. Kobayashi Hiroshi termasuk aliran konservatif. Ia lebih suka penampilan yang bersih dan rapi. Sambil melihat ke sekelilingnya, ia bersyukur dalam hati karena ia belum menikah dan belum punya anak.
Seandainya saja anak laki-laki yang berdiri di bawah tiang lampu itu adalah anaknya, ia akan menderita tekanan darah tinggi. Bagaimana tidak? Lihat saja anak itu. Usianya pasti tidak lebih dari tujuh belas tahun, rambutnya dicukur habis dan hanya menyisakan tiga garis tipis di tengah-tengah kepalanya, pakaiannya sobek di sana-sini yang katanya adalah gaya masa kini, dan bukan hanya telinganya yang ditindik, tapi alis dan hidungnya juga.
Melihat kening pamannya yang berkerut, Takumi tertawa kecil dan berkata, “Paman jangan mengkhianatiku ya? Ibu hanya perlu tahu aku sudah tiba di Tokyo dengan selamat. Hanya itu. Paman juga tidak boleh melapor tentang apa pun kepadanya. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan kalau Paman mau tahu, keadaanku sangat baik sekarang ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Kobayashi Hiroshi kembali menatap keponakannya dan menyadari tinggi badan Takumi sudah menyamai tingginya. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jas dan mengulurkannya kepada Takumi. “Pakai ini,” katanya. “Ini ponsel baru.”
Takumi menerimanya dengan alis terangkat. “Untukku? Supaya Paman bisa merecokiku setiap hari dan melapor pada Ibu?”
Kobayashi Hiroshi mendesah dengan berlebihan, lalu tersenyum dan berkata, “Aku tidak akan mengatakan apa pun pada ibumu dan aku tidak akan merecokimu. Kau tidak akan sering menerima teleponku. Mungkin hanya sesekali, saat aku merasa perlu mengecek apakah kau masih hidup atau tidak.”
Takumi memasukkan ponsel itu ke saku mantel dan tersenyum. “Terima kasih, Paman.”
“Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Ketika pamannya berbalik dan mulai berjalan, Takumi berseru, “Paman mau ke mana?”
Pamannya menoleh. “Pergi main bulu tangkis dengan teman. Aku tahu kau tidak suka bulu tangkis, jadi aku tidak mengajakmu.”
Takumi mengamati kepergian pamannya sejenak, lalu berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Ia menyusuri Omotesando sambil mencari inspirasi, sesekali membidik dan memotret objek-objek yang dianggapnya menarik. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Lensa kameranya menangkap sosok seorang wanita. Takumi mengangkat kepala dari kamera untuk melihat dengan mata kepala sendiri, seakan tidak memercayai lensa kameranya.
Wanita itu duduk di salah satu kafe yang berderet di sepanjang jalan. Ia menempati meja untuk berdua tepat di sudut dan di samping jendela kaca besar. Wanita itu menunduk ke arah buku yang terbuka di meja sambil bertopang dagu dengan sebelah tangan. Kelihatannya ia sedang membaca, tapi Takumi memerhatikan mata wanita itu tidak bergerak. Pandangan wanita itu memang terarah ke buku, tapi perhatiannya tidak tercurah ke sana. Sepertinya ia sedang melamun. Rambut panjangnya dijepit ke atas dengan asal-asalan dan Takumi bisa melihat dengan jelas telinga kanan gadis itu yang ditindik. Bukan hanya satu, tapi tiga tindikan.
Tanpa sadar seulas senyum tersungging di wajah Takumi. Tidak salah lagi, gadis itu Nakamura Aiko, tetangga sebelah apartemennya. Dan tidak salah lagi, Aiko sedang melamun. Ia pasti sedang melamun karena sama sekali tidak menyadari Takumi yang berdiri tidak jauh di sampingnya, hanya dipisahkan oleh jendela kaca besar. Takumi memandangi wajah yang sedang melamun itu dan tiba-tiba merasa ingin tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu.
Ia mengangkat kameranya dan membidik. Aiko masih bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak menyadari dunia sekelilingnya, dan tidak menyadari bahwa Takumi sedang memotretnya. Ia juga tidak menyadari setelah itu Takumi tetap memandanginya.
Takumi tidak tahu berapa lama ia memandangi Aiko, tapi ia yakin tidak lama walaupun rasanya cukup lama. Ia baru tersadar ketika Aiko bergerak, seakan juga baru tersadar dari lamunannya. Gadis itu mengerjapkan mata dan menutup bukunya. Ia meraih jaketnya dan berdiri. Saat itu Takumi maju selangkah dan mengetuk kaca jendela.
Aiko mendengar ketukan itu dan berpaling. Takumi memerhatikan mata gadis itu melebar dan alisnya terangkat ketika bertemu pandang dengan Takumi. Takumi tersenyum dan mengangkat sebelah tangan. Kemudian raut wajah Aiko berubah begitu mengenali siapa yang menyapanya dari balik jendela kaca dan ia balas tersenyum.
***
“Matsumoto-san, sedang apa di sini?” tanya Aiko ketika ia sudah keluar dari kafe dan menghampiri Takumi.
Tadi ia terkejut melihat Takumi yang mengetuk kaca jendela. Ia sama sekali tidak menyangka bisa bertemu secara kebetulan dengan tetangga barunya itu, tapi ini kejutan yang menyenangkan.
Takumi mengangkat kameranya. “Mencari inspirasi,” sahutnya ringan.
Aiko mengangguk-angguk kecil. “Hikari Oneesan bilang kau fotografer. Fotografer apa? Fashion?”
Takumi menggeleng cepat. “Bukan,” katanya. “Kurasa aku kurang berbakat dalam bidang itu. Pernah mendengar istilah street photography? Itu bidangku. Aku memotret apa pun yang kuanggap menarik di sekitarku. Kadang-kadang aku juga suka melakukan sedikit fine art dan landscape photography, walaupun kurasa aku masih punya banyak kekurangan dalam kedua bidang itu.”
Aiko tidak paham dengan istilah-istilah yang dikatakan Takumi, tetapi mungkin ia bisa mencari beberapa buku petunjuk tentang fotografi di perpustakaan.
Takumi menggerakkan kepalanya ke arah kafe di samping mereka dan bertanya, “Kenapa kau duduk sendirian di dalam?”
“Tadi aku bersama Hikari Oneesan. Dia memintaku menemaninya berbelanja untuk keperluan Natal. Lalu dia harus kembali ke salon untuk bekerja,” jelas Aiko. “Kau mau ke mana?”
Takumi mengangkat bahu, lalu balas bertanya, “Kau sendiri mau ke mana?”
“Aku? Sekarang aku mau membeli bahan makanan,” jawab Aiko. “Persediaan di rumah sudah habis.”
“Kalau begitu, aku ikut denganmu,” cetus Takumi.
“Untuk apa?” tanya Aiko langsung.
“Karena aku sedang tidak punya kesibukan. Kenapa? Kau ada janji dengan orang lain?”
“Tidak,” sahut Aiko. Lalu karena melihat Takumi masih menunggu jawabannya, akhirnya ia berkata, “Baiklah, kau boleh ikut.”
Takumi tersenyum senang. “Bagaimana kalau kita ke persimpangan Shibuya yang terkenal itu?”
“Kenapa?”
“Aku ingin ke sana dan melihat-lihat. Pasti sudah banyak yang berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.”
“Tapi kau kan bisa pergi ke sana sendiri,” gumam Aiko. “Kenapa harus ditemani?”
Takumi tersenyum Iebar. “Aku takut tersesat.”
“Apa?” Aiko yakin ia salah dengar.
“Sudah lama aku tidak pulang ke Jepang. Aku nyaris tidak mengenali jalan-jalan yang ada sekarang,” lanjut Takumi.
Aiko tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Ia hanya melongo menatap Takumi, berusaha melihat apakah laki-laki itu sedang bercanda atau serius. Akhirnya ia menyerah dan mendesah. “Ayo, kita pergi.”