BAB 5

1005 Words
“Dia bilang kau gadis yang menarik?” Hikari menegaskan sekali lagi. “Ya,” jawab Aiko. Ia mengerutkan kening dan menggigit bibir sambil berpikir-pikir. “Oneesan, menurutmu apa maksudnya?” Mereka duduk berseberangan di salah satu kafe di jalan Omotesando, Harajuku. Suasana kafe cukup ramai, wajar saja karena hari itu hari Minggu. Anak-anak muda memenuhi meja, sebagian sibuk mengobrol, sebagian lagi hanya beristirahat setelah berbelanja. Natal tinggal tiga minggu lagi, dan sejak awal Desember toko-toko di sepanjang jalan Tokyo sudah penuh dengan hiasan khas musim itu. Pohon kecil dengan lampu warna-warni dipajang di depan toko, sementara etalase dihiasi pita merah dan emas. Lagu-lagu Natal terdengar dari pengeras suara, menambah suasana meriah yang menyelimuti seluruh kawasan perbelanjaan. Aiko memperhatikan keramaian itu dengan tenang. “Menurutku dia tidak bermaksud apa-apa,” sahut Hikari ringan sambil mengangkat bahu. “Hanya basa-basi.” “Begitukah?” “Tentu saja. Jangan terlalu dipikirkan,” sahut Hikari. “Pelukis memang suka bertingkah aneh-aneh.” “Dia pelukis?” tanya Aiko heran. Kemarin Aiko lupa menanyakan apa pekerjaan laki-laki itu. Matsumoto Takumi tidak terlihat seperti pelukis. Yah, tentu saja, Aiko sendiri belum pernah bertemu dengan pelukis mana pun, jadi ia tidak bisa benar-benar yakin. Namun, ia merasa Takumi lebih cocok berprofesi sebagai sesuatu yang lain. Entahlah, yang jelas bukan pelukis. Pelukis, dalam bayangan Aiko, biasanya tampak kacau. Rambut berantakan, pakaian lusuh, dan wajah yang jarang terurus. Tapi tunggu dulu. Bukankah itu justru penampilan Takumi saat pertama kali mereka bertemu? Aiko masih ingat jelas sosok Takumi yang berdiri di ambang pintu apartemen. Rambutnya dicat kepirangan, sedikit acak-acakan, dan pakaiannya tampak seadanya. Sekilas, ia memang menyerupai gambaran pelukis yang ada di kepala Aiko. Namun setelah beberapa kali berinteraksi, Aiko mulai melihat sisi lain dari Takumi. Senyumnya hangat, sikapnya sopan, dan caranya berbicara membuat orang merasa nyaman. Ia bukan tipe orang yang kacau seperti yang Aiko bayangkan. Justru ada ketenangan dalam dirinya, meski penampilannya kadang terlihat tidak rapi. Aiko mulai penasaran. Apa sebenarnya pekerjaan Takumi? Mengapa ia memilih tinggal di Tokyo? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, seolah menunggu waktu yang tepat untuk ia tanyakan langsung. “Siapa? Matsumoto Takumi?” Hikari menyela lamunannya, lalu mengibaskan tangan. “Bukan, bukan. Dia fotografer. Dia sendiri yang bilang begitu.” Aiko langsung menghentikan imajinasinya yang mulai melantur ke mana-mana. “Tapi tadi Oneesan bilang dia itu pelukis.” Hikari mengernyit dan menggeleng. “Tidak. Maksudku tadi seniman. Pelukis dan fotografer sama-sama disebut seniman, bukan?” Aiko membuka mulut hendak membantah, tapi kemudian mengurungkan niat. Kadang-kadang ucapan Hikari memang sulit dipahami dan Aiko sudah terbiasa. Akhirnya ia hanya bergumam, “Kurasa memang begitu.” “Aku heran kenapa dia tiba-tiba datang ke Jepang,” kata Hikari. “Dia sangat terkenal di Amerika, kau tahu? Bahkan di Tokyo ini dia sudah dibanjiri tawaran pekerjaan, tapi katanya dia tidak ingin bekerja dulu untuk sementara ini. Dia mau berlibur.” Aiko menatap Hikari dengan kagum. “Bagaimana Oneesan bisa tahu semua itu?” Hikari hanya mengangkat bahu dan tersenyum. “Aku pintar menggabung-gabungkan informasi yang kuterima.” “Akira!” Kepala Aiko menoleh cepat mengikuti suara melengking itu. Pandangannya langsung jatuh pada seorang gadis remaja bertubuh ramping dengan rambut panjang dicat oranye. Gadis itu berdiri sambil melambai penuh semangat ke arah seorang anak laki-laki yang duduk di meja tak jauh dari tempat Aiko. Anak laki-laki itu memiliki rambut berdiri seperti landak, dan teman-temannya memanggilnya Akira. Ia membalas lambaian itu dengan senyum lebar, terlihat akrab dan tanpa ragu. Aiko memperhatikan interaksi singkat mereka, merasa seolah sedang melihat potongan kecil kehidupan remaja yang begitu sederhana namun penuh energi. “Sudah menunggu lama?” Aiko mendengar gadis itu bertanya lagi dan temannya menggeleng. Perhatian Aiko kembali ke Hikari ketika mendengar tetangganya itu mendecakkan lidah. “Dasar anak muda zaman sekarang,” gerutu Hikari. “Apa maksudnya memakai rok mini pada musim dingin begini?” Aiko tersenyum dan mengangkat bahu. Sebenarnya pemandangan seperti itu—para remaja dengan dandanan aneh, yang biasa disebut Cosplay-zoku—adalah pemandangan sehari-hari di Harajuku. Remaja-remaja itu tampak menikmati perhatian. Rambut mereka dicat dengan warna terang, ada yang oranye, biru, bahkan hijau. Pakaian yang dikenakan pun beragam, mulai dari jaket oversized dengan corak mencolok hingga celana robek yang sengaja dipamerkan. Rias wajah mereka tebal, lengkap dengan eyeliner tajam dan lipstik berwarna berani. Orang-orang yang lewat sering menoleh, sebagian menggelengkan kepala, terutama orang tua seperti Kakek Osawa yang merasa gaya mereka berlebihan. Namun bagi para remaja itu, berdandan seperti ini adalah cara untuk menunjukkan diri. Mereka tidak sedang menghadiri acara khusus, hanya duduk santai di jalanan sambil bercanda. “Bisa kulihat kau masih mengingat anak laki-laki itu,” celetuk Hikari tiba-tiba. Aiko mengangkat alis. “Siapa?” “Siapa lagi kalau bukan cinta pertamamu? Kitano Akira, bukan?” Aiko menunduk dan menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya. Hikari melipat kedua tangan di atas meja. “Menurutmu si Landak itu Akira yang kaucari-cari?” Aiko mendengus dan tertawa. “Astaga, Oneesan! Tentu saja tidak. Anak itu masih kecil. Umurnya paling-paling baru tujuh belas tahun.” Hikari mendesah. “Kau hebat sekali. Masih tetap menunggu cinta pertamamu walaupun sudah belasan tahun.” “Aku tidak menunggunya,” bantah Aiko. Hikari mencibir. “Kepalamu berputar begitu cepat sampai nyaris putus hanya karena mendengar seseorang menyebut nama Akira.” Aiko kembali menunduk dan mengaduk-aduk tehnya dengan pelan. Hikari memiringkan kepala. “Aku jadi berpikir-pikir. Memangnya kau masih bisa mengenalinya? Bagaimanapun juga sudah tiga belas tahun. Wajah orang bisa berubah, kau tahu? Bagaimana kalau kalian berpapasan di jalan dan kau tidak mengenalinya?” Aiko hanya mengangkat bahu, lalu menoleh ke luar jendela kafe. Pandangannya jatuh pada deretan pohon gundul di tepi jalan, membuat pikirannya kembali ke masa lalu. Tiga belas tahun lalu, ia masih anak kecil yang canggung, dan di saat itulah ia bertemu dengan seorang anak laki-laki bertopi wol biru. Senyumnya ramah, sederhana, namun cukup untuk membuat hati Aiko berdebar-debar. Nama itu masih melekat jelas di ingatannya, Kitano Akira. Sejak pertemuan singkat itu, Aiko menyebutnya cinta pertama. Walau wajahnya semakin samar, perasaan yang muncul saat itu tetap terasa nyata hingga kini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD