BAB 4

1335 Words
“Tunggu aku,” kata laki-laki itu di sela-sela tawanya dan menyusul Aiko. “Menurutmu ini lucu?” tanya Aiko dengan alis terangkat. “Kau tadi membuatku ketakutan. Kukira kau perampok. Atau penguntit. Atau ... semacam itu.” “Penguntit?” Aiko ragu sejenak. Lalu, “Ya. Memangnya kenapa? Banyak penguntit di Tokyo, kau tahu? Ngomong-ngomong, kau baru minum-minum bersama Hikari Oneesan dan Itsuki, bukan?” “Ya, benar,” sahut Takumi. Ia tahu Aiko sedang mengalihkan pembicaraan, tapi ia tidak ingin mempermasalahkannya walaupun sebenarnya ia ingin tahu alasan di baliknya. “Setelah makan malam bersama Kakek dan Nenek Osawa, mereka mengajakku minum-minum di izakaya* langganan rnereka.” “Aku minta maaf karena tidak bisa ikut,” kata Aiko sambil menoleh ke arah Takumi. Takumi tersenyum. “Tidak apa-apa. Itsuki tadi bilang kau ikut merayakan ulang tahun rekan kerjamu.” “Mm,” gumam Aiko, lalu bertanya, “Lalu kenapa kalian bertiga tidak pulang bersama?” Takumi mengangkat bahu. “Sepertinya mereka punya acara lain dengan teman-teman mereka.” Aiko mengangguk-angguk. Hikari dan Itsuki memang sering berkumpul bersama teman-teman mereka setiap akhir pekan. Mereka tidak akan pulang sebelum lewat tengah malam. Mereka berjalan bersama dalam keheningan selama beberapa detik, lalu Takumi membuka suara, “Kurasa Tokyo sudah banyak berubah.” Aiko meliriknya sekilas dengan alis terangkat. Takumi tersenyum melihat raut wajah tetangganya yang heran. “Keluargaku pindah ke New York lebih dari sepuluh tahun yang lalu,” jelasnya. “Ini pertama kalinya aku kembali ke Tokyo sejak kami pindah.” “Oh, New York?” gumam Aiko. “Kenapa?” tanya Takumi. “Kau pernah ke sana?” Aiko menggeleng-geleng dan tertawa pelan. “Tidak, tidak. New York kedengarannya jauh sekali.” Kemudian ia melirik teman seperjalanannya dan tidak bisa menahan diri untuk berkomentar, “Tapi bahasa Jepang-mu bagus.” “Tentu saja,” kata Takumi tegas. “Walaupun tinggal di luar negeri, kami masih berkomunikasi dalam bahasa Jepang.” Aiko tersenyum mengerti. “Sama seperti keluargaku.” Melihat Takumi tidak mengerti maksudnya, ia menjelaskan, “Aku berbicara dalam bahasa Indonesia dengan ibuku.” “Ibumu orang Indonesia?” tanya Takumi. Ia sudah menduga gadis itu tidak terlalu mirip orang Jepang. Apalagi ketika mereka pertama kali bertemu, gadis itu mengucapkan serentetan kata yang tidak dipahaminya. Aiko mengangguk. “Nenekku dari pihak Ibu adalah orang Indonesia dan kakekku orang Jepang. Ibuku dilahirkan dai dibesarkan di Indonesia. Lalu Ibu pindah ke Jepang setelah menikah dengan Ayah, jadi aku lahir di sini. Tapi aku sangat lancar berbahasa Indonesia, kau tahu? Ibuku mengajariku sejak kecil.” Mereka tiba di gedung apartemen dan berjalan menaiki tangga. Ketika Aiko sudah sampai di depan pintu apartemennya, ia berbalik menghadap Takumi yang ada di belakangnya. “Bahumu ... sakit tidak?” Takumi menggerak-gerakkan bahunya sejenak, lalu tersenyum lebar. “Kurasa tidak apa-apa,” sahutnya ceria, “Aku tidak akan lumpuh walaupun tadi kau menghajarku keras sekali dengan tasmu yang berat itu. Apa isinya? Batu?” Aiko tersenyum malu dan mengeluarkan buku tebal dari dalam tasnya. Alis Takumi terangkat. “Oh, Les Miserablés,” katanya, menyebut judul aslinya setelah membaca judul dalam tulisan Jepang yang tercetak di buku yang dipegang Aiko. “Kau tahu buku ini?” tanya Aiko heran. Tidak banyak orang yang tahu dan membaca karya sastra klasik. Takumi mengabil buku itu dari tangan Aiko dan membuka-buka halamannya. “Aku pernah membacanya,” katanya. “Tapi aku baru tahu buku itu juga dijemahkan ke dalam bahasa Jepang.” “Kau membaca versi aslinya?” tanya Aiko kagum. Takumi mengangkat wajah dari buku itu. “Apa? Oh, tidak. Yang k****a adalah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku tidak bisa berbahasa Prancis.” Ia mengembalikan buku itu kepada Aiko. “Kau?” Aiko menggeleng. “Bahasa Prancis-ku sangat payah. Dulu masih ada Tatsuya-san yang bisa mengajariku bahasa Prancis. Sekarang aku terpaksa belajar sendiri, dan sering kali aku tidak punya waktu untuk itu.” “Tatsuya-san?” “Dia orang yang dulu tinggal di apartemen yang kau tempati sekarang. Orang yang sangat baik. Dia sudah beberapa kali pergi ke Paris dan selalu membawakan kami hadiah kalau pulang dari sana. Sewaktu terakhir kali kembali dari Paris, dia juga membawakan CD lagu Prancis untukku, walaupun saat itu dia sedang punya banyak masalah,” kata Aiko sambil melamun. Lalu ia mendesah keras, “Kadang-kadang aku merindukannya.” “Kalian berdua sangat dekat? Mata Aiko beralih ke wajah Takumi. “Dekat? Maksudmu seperti ...? Oh, tidak. Hubungan kami tidak seperti itu.” Lalu ia mengucapkan kalimat berikut dalam bahasa ibunya tanpa sadar. “Jalan pikirannya aneh sekali, orang ini.” “Lagi-lagi mengomel dalam bahasa asing,” gumam Takumi sambil tersenyum. Kemudian ia menatap langsung ke mata Aiko dan berkata, “Kau gadis yang menarik, Nakamura Aiko.” Mata Aiko melebar menatap laki-laki yang berdiri di depannya. Pasti ia salah dengar. Takumi bilang apa tadi? Dia gadis yang menarik? Menarik dalam arti apa? Menarik dalam arti ‘menyenangkan’? Atau ...? Tetapi mereka baru saling mengenal, jadi tidak mungkin menarik dalam arti yang lebih dalam dan rumit dan membingungkan, bukan? Kemudian Takumi memiringkan kepala dan keningnya berkerut samar. “Sepertinya aku pernah melihatmu sebelum ini,” gumamnya. Seketika itu juga ekspresi wajah Aiko berubah santai dan ia tersenyum mengerti. “Aah ... Aku tahu maksudmu.” “Apa?” “Sepertinya aku pernah melihatmu sebelum ini,” ulang Aiko, lalu menoleh ke arah Takumi. “Sudah ribuan kali aku mendengar kalimat itu. Yang kaumaksud pasti Ayaka.” Alis Takumi terangkat tidak mengerti. “Ayaka?” “Ayaka model yang lumayan terkenal di sini. Kau pasti pernah melihatnya di majalah dan televisi,” jelas Aiko. Takumi tertawa kecil. “Maksudmu, wajahmu mirip model terkenal?” tanyanya geli. “Apa? Bukan, bukan!” Aiko tertawa. “Ayaka itu saudara kembarku. Orang-orang sering salah mengenaliku sebagai Ayaka. Pemabuk yang dulu menguntitku juga begitu.” “Oh? Kau punya saudara kembar?” gumam Takumi heran, lalu terdiam sejenak dan menambahkan, “Apa maksudmu dengan pemabuk yang menguntitmu?” Wajah Aiko memerah. Ia menjawab agak tergagap. “Kejadiannya sudah cukup lama. Dia salah mengenaliku sebagai Ayaka.” Sebelum Takumi sempat bertanya lebih jauh, ia buru-buru menambahkan, “Tapi semuanya baik-baik saja, jadi tidak ada yang perlu dibesar-besarkan.” Sejenak Takumi tidak berkata apa-apa, seakan sedang berpikir, lalu ia berkata pelan, “Jadi kau punya saudara kembar?” Aiko mengembuskan napas, merasa lega karena Takumi tidak mendesaknya. “Ya. Dia lahir lebih dulu, aku lima menit kemudian. Wajah kami sama persis, hanya gaya rambut kami yang berbeda, lalu dia punya t**i lalat kecil di hidung dan dia sedikit lebih tinggi dariku. Sifat kami berdua memang tidak sama, tapi juga tidak benar-benar bertolak belakang. Kami tinggal bersama di sini sampai dia pindah ke luar negeri musim panas tahun lalu karena ada kontrak kerja,” jelasnya tanpa ditanya. Ia sudah terlalu sering menjawab berbagai pertanyaan dari orang-orang yang salah mengenalinya sebagai Ayaka. Karena sudah tahu pertanyaan-pertanyaan yang selalu ditanyakan, kini ia cenderung langsung mengatakan segalanya sebelum ditanya. “Oh, sebelum kau bertanya, tidak, kami tidak bisa bertelepati atau semacamnya, walaupun kami memang dekat. Kadang-kadang aku bisa merasakan apa yang dia rasakan dan begitu juga sebaliknya, tapi hanya sebatas itu. Kami bukan cenayang. Dan satu lagi, aku tidak ikut menjadi model karena aku memang tidak bercita-cita menjadi model.” Takumi tersenyum mendengar penjelasan panjang-lebar itu. Punggungnya disandarkan ke pintu dan kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket. Kemudian ia tertawa. “Jadi kau bukan cenayang dan kau tidak mau menjadi model. Ada lagi yang harus kuketahui?” Sesaat Aiko menatap laki-laki di hadapannya dengan bingung, lalu wajahnya memerah. “Tidak ada. Maafkan aku karena sudah terlalu banyak bicara.” Ia menggigil dan baru menyadari mereka sudah terlalu lama berdiri di luar pintu seperti ini. “Dingin sekali,” katanya cepat. “Kalau begitu, selamat malam.” Takumi tersenyum. “Selamat malam.” Sebenarnya kemungkinan Takumi pernah melihat Ayaka di majalah atau televisi sangat kecil. Takumi sudah tinggal di luar negeri selama hampir separo hidupnya dan ia sama sekali tidak tahu-menahu tentang artis atau model Jepang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD