Aiko berdiri di koridor lantai dua gedung perpustakaan tempatnya bekerja, di samping mesin penjual kopi yang—mengikuti tema bulan Desember—tiba-tiba saja sudah dipenuhi hiasan Natal. Aiko memegang cangkir kertas berisi kopi panas dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga.
“Ya, aku akan pulang pada Hari Natal,” katanya di ponsel sambil memandang ke luar jendela kaca besar yang menghadap halaman depan gedung perpustakaan.
“Kau akan tinggal di sini sampai setelah Tahun Baru, bukan?” Suara berat ayahnya terdengar di ujung sana.
“Tentu saja,” sahut Aiko sambil menyesap pelan kopinya. “Ngomong-ngomong, Pa, Mama masih di Jakarta?”
Sejak kecil ia selalu memanggil orangtuanya dengan Papa dan Mama, bukan Otousan* dan Okaasan*. Ia juga tidak yakin kenapa. Mungkin karena didikan ibunya yang orang Indonesia, tetapi ayahnya juga tidak keberatan.
Sebenarnya ibunya sendiri juga blasteran Indonesia-Jepang. Kakeknya dari pihak ibu adalah orang Indonesia dan neneknya orang Jepang. Sedangkan ayah dan ibu Aiko awalnya tinggal di Tokyo, lalu tiga tahun lalu mereka pindah ke Kyoto, kampung halaman ayahnya, untuk mencari suasana yang lebih tenang. Ayahnya memang tidak pernah terbiasa dengan hiruk-pikuk kota Tokyo.
“Ya, tapi ibumu akan pulang minggu ini,” sahut ayahnya. “Katanya kesehatan kakekmu sudah membaik.”
“Baguslah,” kata Aiko sambil mengangguk-angguk.
Minggu lalu ibunya pulang ke Jakarta karena mendengar kakek Aiko harus menjalani operasi usus buntu, tetapi operasinya berhasil dengan baik dan kakeknya sudah sehat kembali. Setelah meyakinkan ayahnya bahwa ia akan melewatkan Tahun Baru di Kyoto, Aiko menutup ponsel dan mengantonginya. Baru saja ia hendak menyesap kopinya, ponselnya bergetar. Ia mengeluarkannya dan melihat tulisan yang muncul di layar.
“Moshimoshi? Itsuki-kun, ada apa?” kata Aiko begitu ponsel ditempelkan ke telinga.
“Aiko Oneesan, punya waktu malam ini?” Terdengar suara ceria Itsuki di ujung sana.
“Memangnya ada apa malam ini?”
“Hikari Oneechan, aku, dan Takumi Oniisan* mau pergi minum-minum malam ini,” jelas Itsuki. “Anggap saja sebagai pesta kecil-kecilan menyambut tetangga baru. Sebelum itu kita akan makan malam bersama di tempat Kakek dan Nenek Osawa.”
Mendengar nama Matsumoto Takumi, pikiran Aiko langsung melayang ke kejadian kemarin malam dan tiba-tiba pipinya terasa panas. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berusaha mengusir kenangan memalukan itu. Astaga! Tetangga barunya pasti menganggap dirinya semacam penguntit psycho atau tukang intip ...
“Oneesan?”
Lamunannya buyar dan Aiko berusaha memusatkan perhatiannya kepada Itsuki. “Ya? Maaf, apa katamu tadi?”
“Jadi bagaimana? Oneesan bisa ikut?”
“Malam ini tidak bisa,” kata Aiko setelah berpikir sesaat. “Seorang rekan kerjaku berulang tahun dan dia mengajak kami pergi makan dan karaoke. Aku sudah janji akan ikut.”
“Oh?” Suara Itsuki terdengar agak kecewa.
“Ishida-san.”
Aiko menoleh ke arah suara wanita yang memanggilnya. Ia melihat salah seorang rekan kerjanya melambai ke arahnya. Di sampingnya berdiri seorang wanita berambut pirang. Orang asing, pikir Aiko langsung. Di perpustakaan itu hanya Aiko satu-satunya karyawan yang bisa berbahasa Inggris, jadi secara tidak langsung ia yang selalu diminta melayani pelanggan asing yang tidak bisa berbahasa Jepang.
“Maaf, Itsuki-kun, aku harus kembali bekerja sekarang,” kata Aiko cepat. “Kalian saja yang pergi hari ini. Mungkin aku akan ikut lain kali. Maaf ya?”
Setelah berkata begitu, ia menutup ponsel, membuang cangkir kertas bekas kopinya ke tong sampah di dekat sana, lalu berlari-lari kecil menghampiri rekan kerjanya yang sudah menunggu.
***
Aiko menggigil. Uap putih keluar dari mulutnya setiap kali ia mengembuskan napas. Ia melirik jam tangan. Sudah hampir tengah malam. Ternyata ia dan rekan-rekan kerjanya sudah menyanyi berjam-jam di karaoke. Ia berdeham. Kerongkongannya agak sakit karena terlalu banyak menyanyi. Sewaktu sedang sibuk menyanyi ia tidak merasa lelah, tetapi sekarang tubuhnya terasa pegal dan matanya berat.
Ia hanya ingin cepat-cepat sampai di rumah dan tidur. Sambil bersenandung pelan, ia menyusuri jalan kecil yang agak menanjak menuju gedung apartemennya. Jalan kecil itu sepi dan hanya diterangi lampu jalan yang remang-remang.
Lalu ia mendengar suara itu. Suara Langkah kaki di belakangnya. Aiko terkesiap pelan dan menelan ludah. Ia berusaha menenangkan diri. Mungkin ia salah dengar. Aiko tetap berjalan—walaupun langkahnya tanpa sadar semakin cepat—dan memasang telinga. Benar! Ada orang di belakangnya!
Lalu memangnya kenapa kalau ada orang Lain yang juga berjalan di jalan itu? Memangnya jalan itu milikku sendiri? Aiko menggerutu dalam hati, menyesali sifatnya yang mudah panik. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Yakinkan diri terlebih dahulu.
Diam-diam Aiko berusaha melirik ke balik bahunya. Ia tidak berhasil melihat banyak. Ia hanya menangkap sosok seseorang yang berjalan tidak jauh di belakangnya. Bulu kuduknya meremang. Rasa panik mulai menyerang tanpa memedulikan bantahan akal sehat. Sementara ia mempercepat langkah, napasnya mulai memburu dan pikiran-pikiran buruk mulai berseliweran di benaknya. Langkah kaki orang di belakangnya juga terdengar semakin cepat.
Orang jahat? pikir Aiko panik. Pemabuk? Atau lebih buruk lagi, p*******a?! Ya Tuhan, lindungilah diriku. Kejahatan di jalan-jalan sepi bukan hal baru lagi di kota besar seperti Tokyo. Aiko langsung memanjatkan doa dalam hati. Kemungkinan lain terselip di otaknya. Jangan-jangan ... penguntit? Ini bukan pertama kalinya Aiko dikuntit. Pengalaman itu membuatnya trauma.
Itu dia! Gedung apartemennya sudah terlihat. Aiko lega sekali. Ia nyaris berlari, tapi kakinya terlalu kaku untuk bergerak lebih cepat lagi. Tiba-tiba ...
“Hei ...” Terdengar suara rendah seorang laki-laki di belakangnya dan Aiko merasa bahunya dipegang. Kepanikannya meledak. Ia berputar dengan cepat sambil mengayunkan tas tangannya ke arah orang itu. Ia juga tidak lupa menjerit keras.
Tas tangannya mengenai sisi tubuh orang itu dengan bunyi gedebuk keras. Aiko mengayunkan tasnya sekali lagi dan ...
“Tunggu sebentar ... Ini aku. Ini aku!”
Aiko menghentikan ayunan lengannya dan melotot galak ke arah laki-laki yang mengangkat kedua tangan ke depan wajah untuk melindungi diri. Perlahan-lahan orang itu menurunkan tangan dan Aiko baru melihat wajahnya dengan jelas.
“Matsumoto-san?” kata Aiko dengan suara tercekik. Matanya terbelalak. Walaupun tetangga barunya itu masih tergolong orang asing, tapi setidaknya Aiko mengenalnya. Debar jantungnya yang liar pun agak mereda. “Astaga, kenapa kau mengendap-endap begitu?”
Matsumoto Takumi terlihat berbeda hari ini. Penampilannya lebih rapi daripada kemarin. Dan ia sudah bercukur. Aiko jadi menyadari sebenarnya Takumi masih muda. Wajahnya menarik dan berkesan kebarat-baratan.
Matsumoto Takumi memasukkan kedua tangan ke saku jaket panjangnya. Ia balas menatap Aiko dengan raut wajah kaget. “Aku tidak mengendap-endap. Bukankah tadi aku memanggilmu? Justru kau yang langsung menghantamku dengan tas,” katanya, membuat wajah Aiko terasa panas karena malu.
Suara pria itu terdengar lebih jelas hari ini, tidak serak seperti kemarin. Ia mengeluarkan sebelah tangan dari saku jaket dan menunjuk tas tangan Aiko. “Ngomong-ngomong, kurasa kau sudah boleh menurunkan tasmu itu.”
Kepala Aiko berputar ke samping, ke arah tangannya yang masih mengacungkan tasnya tinggi-tinggi. Ia yakin wajahnya sudah berubah merah padam. Ia cepat-cepat menurunkan tangan dan berkata dengan gelagapan, “Tapi kau tadi memang mengendap-endap. Kau tahu ...”
Saat itu pintu rumah di sebelah kanan mereka terbuka dan seorang wanita tua melongokkan kepalanya ke luar. Ia menatap Aiko dan Takumi bergantian lalu bertanya dengan kening berkerut, “Kalian baik-baik saja? Tadi aku mendengar ada yang menjerit.”
“Tidak apa-apa. Maafkan kami karena sudah mengganggu,” kata Takumi cepat sambil membungkuk. Aiko juga buru-buru melakukan hal yang sama sambil meminta maaf.
Wanita tua itu berdecak pelan. “Ada-ada saja anak muda zaman sekarang.” lalu pintu kembali tertutup.
Aiko memejamkan mata, menarik napas panjang, dan mengembuskannya dengan pelan untuk menenangkan diri. Kemudian ia berbalik dan berjalan tegak meninggalkan Takumi yang tertawa pelan.
Takumi berhenti tertawa dan menatap punggung Aiko yang menjauh. “Aiko-san...” suaranya pelan, nyaris seperti gumaman. “Aku merasa kita pernah bertemu sebelumnya.”
Langkah Aiko terhenti. Ia menoleh setengah, tapi tidak sanggup berkata apa-apa.