Delapan Puluh

204 Words
*Author Pov* "Pertandingan babak penyisihan kedua akan di adakan satu Minggu lagi. Selama masa istirahat ini kalian sudah banyak berkembang di setiap latihan kalian. Ingat, jangan pernah meremehkan lawan mu, siapa pun itu." ucap Alvan pada anak-anak muridnya. Setelah mendengar satu dua kalimat dari Alvan, mereka kembali berlatih. Saat ini mereka memutuskan untuk berlatih lebih banyak di gedung olahraga sekolah agar tidak terlalu jauh dari sini. Bahkan sesekali Sena datang ke sekolah mereka saat pulang sekolah dan hendak pergi ke ruang klub. "Lo gak sekolah apa gimana?" tanya Genta saat melihat Juna datang bersama Sena. "Bolos gw hari ini." "Ngaco lo." Sena tertawa kencang. "Bercanda gw. Kebetulan sekolah gw lagi libur, jadi pas Rio minta gw buat bantuin dia untuk latihan tanding lagi sama kalian, gw langsung mau karena kapan lagi gw bisa jadi mata-mata secara terang-terangan begini." Ucapnya sambil terkekeh. Satu handuk mendarat tepat di muka Sena yang sedang tertawa. "Sombong amat." "Oh iya dong, karena gw punya hal untuk di sombong kan." jawabnya. Juna hanya mendengus geli dan menggelengkan kepalanya. Selesai berganti baju, mereka semua pun berkumpul di ruangan olahraga. Lalu setelahnya mereka semua melakukan pemanasan dan berlari lima putaran di lapangan Indoors ini. Suara Rio pun menggema meneriaki mereka satu persatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD