Sembilan Puluh Dua

204 Words

*Author Pov* Suara pluit pertandingan sejak tadi. Seperti yang di perkiraan oleh Rio. Yang menjadi lawan mereka bukanlah pemain pemula seperti mereka. Di babak pertama, mereka bertiga terlihat sekali kalau kesulitan. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Juna, Genta juga Radi terlihat sangat kelelahan hanya untuk mengejar poin yang tertinggal. "Apa ini keputusan yang tepat, Kak?" tanya Riri pada Rio. Rio mengangguk mantap. "Saat ini justru yang paling baik. Bukan begitu, Van?" Alvan Pun ikut menganggukan kepalanya. "Di babak pertama mereka memang terlihat kesulitan, tetapi akhirnya mereka tetap bertahan bukan?" ucap Alvan. "Di babak kedua ini, mereka bertiga kelihatannya sudah mulai terbiasa dengan absennya kehadiran kalian." Rio mengangguk setuju dengan perkataan nya. Per

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD