Aira menepis semua ucapan Nadia tadi pagi. Ia merasa ragu untuk percaya bahwa dirinya hamil. Malam ini, ia hanya duduk di kursi pantry. Tatapannya kosong. Eric sudah tidur beberapa menit yang lalu. Kondisinya yang belum benar-benar pulih membuat pria itu harus lebih banyak istirahat. Secangkir cokelat panas itu disesap pelan. Suhu panasnya terasa membakar bibir. Aira berdesis. Memegangi telinga cangkir dan mengusapnya berulang kali. “Tapi, aku sama Mas Eric kan, baru sekali melakukannya. Masa langsung hamil.” “Justru doa itu yang sedang Bunda langitkan, Aira.” Sahutan dari arah belakang membuat Aira tersadar. Ia menoleh. Tangannya yang memegang cangkir menyingkir. Senyum tipis mengembang di wajahnya yang sedang tidak memakai cadar. “Bunda?” Aira turun dari kursi. Matanya berbinar

