"Kak Nat. Bantuin aku ngerjain soal ini dong. Aku males banget baca cerita. Pusing yang ada," keluh Naomi suatu sore. Naomi sore itu sedang mengerjakan PR Bahasa Indonesia di ruang keluarga, dan Nathalie yang asyik menikmati kentang goreng yang digoreng Denok, mama dari dua gadis cantik itu.
"Sini coba aku liatin."
"Jangan diliatin doang, dikerjain juga dong, Kak."
"Iya iya, maksudku juga bakal ngerjain PR kamu, Omiii. Tapi aku liat-liat dulu."
Nathalie memang kakak yang baik, dan menyayangi Naomi, meskipun sesekali terlihat galak ketika menginginkan Naomi berbuat sesuatu untuknya. Lucunya, Naomi juga kerap memanfaatkan sikap baik kakaknya itu, bahkan bermanja-manja, dan Nathalie yang tetap meladeninya.
Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Nathalie.
"Eh tunggu, Mi ... ada yang nelfon. Bentar ya?" ujar Nathalie, dia bangkit dari duduknya, dan berlalu dari ruang keluarga.
Melihat punggung kakaknya ke luar dari ruang keluarga, ada yang aneh menurut Naomi. Biasanya Natahalie tidak pernah menerima telfon dengan bersungut-sungut seperti itu. Ada yang disembunyikan deh, pikirnya, dan Naomi pun memutuskan untuk membuntuti Nathalie yang kini sedang berdiri di balik salah satu tiang teras belakang rumahnya.
"Nggak. Aku lagi santai kok. Ngobrol aja, nggak papa. Haha ... aku sukanya makan sate, seblak, apa lagi ya ... haha."
Duh, ada yang PDKT kayaknya, batin Naomi. Nathalie memang pernah curhat ke Naomi suatu malam bahwa dia yang ingin punya pacar. Tapi belum ada yang klik di hati, lagi pula papa dan mama mereka yang belum mengizinkan. Naomi sedikit kaget saat mendengar keinginan kakaknya malam itu. "Aku mau punya pacar, Omi. 'Kan sebentar lagi kuliah. Papa dan mama pasti mengizinkan. Hm, jadi nggak salah aku punya sekarang, tapi nanti ngakunya pas kuliah aja. Lagian, tiga bulan lagi nih." Begitu curhat Nathalie dan Naomi senyum-senyum mendengar ucapan kakaknya.
Nathalie memang belum mengetahui bahwa Naomi yang sudah punya pacar sejak SMP, karena sekolah mereka yang berbeda. lagi pula, Naomi sangat pandai menjaga rahasianya.
"Ha ... masa sih? Yang bener. Aku nggak pernah tau tuh. Kalo gitu makasih lo informasinya, Rik."
Dada Naomi berdesir hebat, Rik? Dia langsung memasang telinganya baik-baik, mendengar percakapan kakaknya melalui ponse dengan seksama. Sekujur tubuhnya sedikit bergetar, tapi dia belum yakin.
"Iya ... haha, kok gitu sih? Ah, masa sih. Kita baru saling kenal. Coba? Haha ... hmmm ... gimana ya? Ah kamu bisa aja deh, Rikooo."
Naomi langsung berbalik menuju ruang keluarganya, meraih ponselnya, menghubungi Riko.
Nada sibuk di telinga, dan Nathalie yang belum muncul juga dari taman belakang.
Naomi mencoba menghubungi Riko dan masih nada sibuk.
Naomi lemas, dan dia langsung mengerjakan PRnya sore itu sendiri. Hanya ada lima soal lagi yang harus dia selesaikan.
Tak lama kemudian, Nathalie muncul lagi di ruang keluarga.
"Lo? Ngerjain sendiri? Katanya butuh bantuan." Nathalie mengusap-ngusap kepala Naomi, dan Naomi yang diam saja.
Naomi tersenyum kecut. Riko? Dia nelfon Nat barusan? Masih terngiang suara senang Nathalie barusan saat menerima panggilan Riko.
Naomi sudah menyelesaikan PRnya, dia merebahkan tubuhnya di sofa dengan perasaan sebal.
"Lo? Nggak diberesin dulu buku-bukunya?" tanya Nathalie.
"Ntar aja, Kak. Lagi males," balas Naomi, dan dia malah memainkan ponselnya.
"Ampuun!" decak Nathalie sambil membereskan buku-buku dan alat-alat tulis Naomi yang bertebaran di atas lantai beralas karpet. Dia lalu meletakkannya dengan rapi di atas meja kecil di samping televisi.
Nathalie duduk santai di kursi santai setelah meraih remot dan menyalakan televisi.
Naomi : Riko, kok sibuk tadi, lagi nelepon siapa?
Riko : Oh, telepon dari Pekanbaru, Tante Ima. mau gue hubungi lu?
Naomi : Nggak ah, gue lagi di toilet
Riko : Ih jorok, gue boleh intip nggak?
Naomi merasa sangat gamang, dan Riko yang selalu menyebalkan, tapi kadang memberinya kesenangan dan kebahagiaan.
Naomi : Haha, ntar mata lu bintitan.
Setelah itu senyum pahit tersungging di sudut-sudut bibir Naomi.
Malamnya Naomi tidak bisa tidur memikirkan Riko dan kakaknya, air mata terus saja mengalir. Hampir empat tahun dia menjalin kasih dengan Riko, dan Riko yang memang seringkali membuatnya sebal. Tapi dia mengaku lebih banyak merasakan senang selama berpacaran dengan cowok ganteng romantis itu dari pada merasa sedih dan kecewa. Apa sanggup dia melepas Riko begitu saja? Ah, tapi bisa-bisanya Riko sekejam itu kepadanya. Naomi masih bisa marah jika Riko punya skandal dengan perempuan lain, dia masih bisa memaafkan atau berbaikan seperti biasa. Tapi kali ini Nathalie, kakaknya sendiri yang sangat Naomi sayang. Anehnya, kenapa baru sekarang? Kenapa tidak sedari dulu, dia yang sudah mengenal Nathalie dari cerita-cerita Naomi.
Ah Riko, Naomi bingung dan tidak habis pikir.
***
Paginya Naomi tetap bangun di awal pagi, dan dia yang tampak bersemangat dan sudah melupakan perasaan sedihnya.
"Bu. Aku mau buat SIM," ujar Naomi tiba-tiba di sela-sela sarapan paginya. Denok terkejut mendengar keinginan Naomi. Tirta, papanya, juga terkejut, apalagi Nathalie, dia tersenyum lebar membayangkan Naomi yang menyetir.
"Ah? Omi? Apa gara-gara aku yang suruh kamu bawa mobil kemarin?" tanya Nathalie.
"Ho oh. Takut ditilang soalnya." Mata Naomi mengerling malas mendengar suara kakaknya saat bertanya.
"Mau kapan?" sela Tirta.
"Secepatnya, Pak, kalo bisa. SIM motor aja. Aku mau bawa motor kayak Wilma. Biar nggak kejebak macet."
Nathalie terkesiap. Padahal dia sudah senang membayangkan adiknya yang bakal menyetir mobil mini morisnya, dan dia yang bisa lebih santai.
"Nggak sekalian SIM mobil?" tanya Tirta.
"Motor aja dulu. Biar lebih fokus pas latihan dan tes. Ntar aku pake motor Ibu aja ke sekolah. Kan jarang dipake tuh."
"Lo? Masa berangkat sekolah misah-misah gitu?" Denok ikut menimpali, dia mengambil piring kotor dari meja makan.
"Soalnya Kak Nat bakal sering pulang telat, 'kan mau lulusan, bakal sering rapat-rapat juga. Trus, kalo udah selesai, percuma sendiri naik mobil. Kak Nat pasti ada urusan ke sana ke mari urus kuliah. Dia lebih butuh, lagian kak Nat nggak bisa bawa motor," kilah Naomi, dan itu alasan yang sangat tepat untuk menghindar mengendarai mobil.
"Ok. Hari ini kamu izin sekolah. Kita urus SIM hari ini. Nanti jadwal tes bisa Bapak rundingkan. Bila memungkinkan segala urusan bisa selesai segera."
Naomi menghela lega setelah mendengar ucapan bapaknya. Sebaliknya, Nathalie memandangnya sinis, kesal dengan Naomi yang senyum-senyum mengejek ke arahnya.
Bersambung