Bab 2. Kenalin, Gue Riko

975 Words
Naomi tentu saja sebal dengan kakaknya. Bawa mobil pulang? Sementara dia belum punya SIM? Duh, Nathalie benar-benar membuat hati Naomi sangat kesal. Tapi untung kekesalannya tidak berlangsung lama. Saat pelajaran di kelas berlangsung, diam-diam Naomi melirik ponsel kecilnya di saku bagian dalam tasnya. Riko : gue di toilet, Meet me, Your Riko Sontak Naomi berdiri dari duduknya dan meminta izin gurunya untuk ke luar dari kelas. Karena mimik wajah Naomi yang meyakinkan, Bu guru pun mengangguk mengizinkan. Tapi Wilma, teman sebangku Naomi, yang hafal dengan jadwal 'pipis' Naomi mencibir sinis saat melihat punggung Naomi menuju pintu ke luar kelas. Dia tahu Naomi yang pasti ke toilet untuk menemui Riko. Naomi mengatur deru napasnya saat masuk di toilet guru, karena toilet guru jauh lebih bersih dan nyaman. Dia langsung memeluk Riko yang sudah berada di dalam. "Gue liat muka lu bete pagi ini," ujar Riko yang sudah siap mengangkat tubuh Naomi, lalu memeluknya erat. Naomi menyilangkan kakinya di pinggang Riko, dan dia yang sudah siap melumat bibir Riko. "Hmmph, iya bete gue. Soalnya harus bawa mobil pulang. Gue belum punya SIM, kakak gue rapat OSIS di jam sehabis pulang sekolah siang ini." Riko kembali membalas lumatan bibir Naomi. "Kangen elu. Banget," desahnya tanpa peduli penjelasan Naomi. Riko dan Naomi benar-benar melepaskan hasrat cinta di toilet saat itu. Mulut dan lidah mereka lumayan lama menyatu. "Udah dua menit. Cukup untuk hari ini," desah Naomi. Riko menurunkan tubuh semok Naomi perlahan, mengecup ubun-ubun dan mengusap-ngusapnya. "Sayang kamu, Omi," ucapnya sambil menggigit bibirnya gemas melihat tubuh Naomi yang memang sedikit berlemak. Sekilas diremasnya b****g Naomi dan membiarkan Naomi berjalan cepat ke luar dari toilet. Wajah Naomi cerah sekarang, secerah perasaannya. Dia jadi bersemangat saat mengikuti pelajaran Bu Yuli di kelas. Kadang-kadang dia bahkan mengangkat tangannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Bu Yuli. Bu Yuli senang melihat semangat Naomi hari ini. Wilma lagi-lagi mencibir melihat tingkah Naomi. Sambil mencolek pinggang Naomi, dia memonyongkan bibirnya ke Naomi. Naomi tersenyum melihatnya. "Makanya punya pacar dong," bisik Naomi dengan gaya soknya. "Alaaah, bentar lagi juga mewek," balas Wilma, dan Naomi yang hanya tersenyum simpul. Wilma yang selalu hafal dengan ritme dan gaya pacaran Naomi dan Riko. *** "Lu urus dong SIM, Omi. Gue aja udah. Nih," omel Wilma di jam istirahat singkat. Dia menunjukkan SIM C nya ke Naomi. "Kalo diikuti prosedurnya pasti lulus. Pelan-pelan aja pas ikut tes. Harus yakin," nasehat Wilma. Wilma memang mengendarai motor ke sekolah. "Beda kali kalo motor. Gue juga bisa," decak Naomi yang memang lihai mengendarai motor. "Lu bisa naik motor, ok, lu bisa ngebut, gue tau, tapi tetep lu belum punya SIM, 'kan? intinya lu musti punya SIM, Omiii." Wilma menggelengkan kepalanya karena merasa aneh dengan sahabatnya yang satu ini, yang terkadang susah diberi nasihat. "Om! SIM, Om!" godanya lagi. Naomi mendengus sebal. Naomi memang sudah bisa mengendarai motor dan mobil, tapi dia belum punya SIM. Sudah beberapa kali papa dan mamanya menyuruhnya bersiap-siap untuk mengikuti ujian untuk mendapatkan SIM, berulang kali pula dia menolak. Naomi memang sedikit mempunyai mental block yang aneh. Yaitu perasaan gugup yang sangat hebat jika menghadapi sesuatu yang berhubungan dengan tes, padahal sebenarnya dia mampu melakukannya, terutama menghadapi tes yang diamati orang lain. Kalau sudah begini, susah membujuknya. "Gue tau lu tuh gampang gugup. Nggak ada alesan lu banding-bandingin antara motor ma mobil. Menurut gue sama aja gampang or susahnya. Suatu saat lu pasti butuh SIM," ujar Wilma seraya menepuk-nepuk pundak Naomi. Setelahnya terdengar bunyi bel masuk kelas, dan keduanya pun kembali masuk ke kelas. *** Nathalie terlihat gelisah ketika mengikuti rapat OSIS siang setelah jam sekolah. Ada yang memperhatikannya, yakni seorang cowok berbadan tegap dan wajahnya yang tampan. Mata cowok itu sesekali meliriknya, ingin mendapatkan kesempatan agar Nathalie juga menyadari lirikannya. Begitu Nathalie tidak sengaja melihatnya, cowok itu langsung menatap wajah Nathalie tajam dengan senyum misteriusnya. Rapat OSIS berakhir. "Hai, aku antar pulang." Nathalie memandang cowok yang menawarkan tumpangannya ke atas motor besarnya takut-takut. "Aku tau rumah kamu. Ayo, kalo naik taksi, kan macet. Naik ojek? Nggak yakin kamu akan merasa nyaman. Ayolah." Nathalie menelan ludahnya. Ragu. Dia juga tidak mengenal cowok keren itu. "Aku Riko. Kelas dua belas A, kamu Nathalie kan?" ujar cowok itu. "Iya." Nathalie menjawab, dan dia sedikit kaget karena ternyata cowok itu mengenal namanya. Entah kenapa Nathalie mau saja menerima tumpangan cowok yang bernama Riko itu, dia pun naik dan duduk di belakang punggung besar Riko di atas motor besarnya. "Kok kamu tau rumahku?" tanya Nathalie saat motor sudah berada di jalan. "Iya, karena informasi cewek cantik itu pasti cepat tersebar ke mana-mana, termasuk ke aku." Nathalie tersanjung mendengar pujian Riko. Dia memang cantik, pintar, dan sikapnya yang manis sekali. Banyak cowok-cowok yang naksir dengannya, dari cowok yang tidak begitu jelas jati dirinya sampai idola sekolah, dan dia yang beberapa kali menolak halus ajakan mereka untuk jadi kekasih. "Maaf, aku nggak dibolehin pacaran sama papa dan mamaku. Aku harus fokus belajar ... Makasiiih," begitu kata-kata Naomi ke cowok-cowok yang ingin 'meminang'nya. Anehnya, mereka pun tidak kecewa mendengar kata-kata yang meluncur manis dari mulut mungil Nat, karena sikap Nat yang sangat manis, dia yang memang membuktikan kata-katanya bahwa dia benar-benar ingin fokus belajar dan tidak berpacaran dengan siapapun di dunia ini. "Riko ... di sini saja. Nggak usah sampe ke dalam. Takut mamaku marah dan nanya-nanya nanti." Riko lalu memberhentikan motornya perlahan. "Makasih banget," ucap Nathalie sambil menyerahkan helem ke Riko. "Besok aku antar lagi?" Nathalie menggeleng. "Ah ... iya kamu kan, 'bawa moris biasanya, sori." Nathalie tersenyum hangat, ternyata Riko telah memperhatikannya selama ini yang biasanya mengendarai mobil moris mungilnya ke sekolah. Setelahnya, Riko meletakkan tangannya dekat telinganya, memberi kode ingin mengetahui nomor kontak Nathalie. Tahu maksud Riko, Nat merogoh tas sekolah dan meraih sebuah pena, lalu mencatat nomor ponselnya di telapak tangan Riko. "Makasih, Nathalie," ucap Riko. Nat tersenyum malu-malu. Wajah ganteng Riko membuatnya terbuai ketika berjalan menyusuri lorong menuju rumahnya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD