Bab 6. Tinggal Kenangan

1123 Words
"Eh, ngapain lu, Om." Naomi langsung memperbaiki posisi ponselnya agar Wilma bisa melihat apa yang dia lakukan malam ini. "Nyantai, lagi bebasss, orang-orang rumah pada kondangan." "Kondangan kok malam-malam? "Horang kayah mah bebas, mau ngatain acara pagi, siang, malam subuh. Tetangga gue, Wil. Itu yang rumahnya gede kayak mall. Pesugihan kali ya?" "Hush!" "Soalnya nggak pernah keliatan orangnya, eh tiba-tiba ngundang keluarga gue ke sana." "Acara apaan?" "Tunangan anaknya." "Oh, trus Kak Nat melu?" "Ah dia mah penurut. Kata ibu gue harus dapat horang kayah ... makanya dipamerin sana sini." "Ih lu mah. Ntar gue laporin ke Nat nih." "La emang kenyataannya begitu. Kak Nat juga nyadar kok. Tapi mau gimana lagi. Dia bilang nggak papa, nyenengin orang tua. Pahalanya gede." "Ih trus Riko? Mau dikemanain secara dia kan bukan horang kayaaah." "Yah ... Riko lumayan kayalah, walopun nggak sekaya tetangga gue, biarin aja si Nat senang-senang dulu ama Riko." "Lu nggak niat cari lagi?" "La lu sendiri? nyobain sono, Jomblo akut lu ntar." Wilma tertawa-tawa membayangkan wajah Naomi yang sewot. "Nggak ah, belum berhasrat," tanggapnya. "Ya. Anggap aja gue juga gitu. Udah eneg pacaran lama-lama. Udah puaslah gue ma Riko. Hahaha," tawa Naomi. Terdengar bunyi pagar luar rumah berderit, dan Naomi langsung turun dari ranjang dan melihat keluarganya sudah pulang. "Eh, udah ya, Wil. Udah pada pulang. Besok lanjut kita ngobrol," ujar Naomi. "Okeee." Naomi langsung ke luar kamar, dan duduk di sofa di ruang tengah dengan sikap santainya seolah dia yang sudah lama santai di sana. Tak lama kemudian, muncul Denok lebih dulu, wajahnya sangat sumringah pulang dari rumah megah tetangga sebelah. "Ampuun ganteng banget ya? Nggak nyangka kecilnya dulu, suka jajan sama kakaknya di warung depan. Ganteng, kaya raya, pinter lagi. Beruntung banget itu calon istrinya. Nah, kalo cari calon suami itu yang kayak gitu, Nathalie. Tau dulu gitu, Ibu jodohin aja dia sama kamu, Nat." "Idih, Ibu, apa-apaan sih," kilah Nathalie dengan senyum malu-malu, mengakui dalam hati bahwa calon mempelai pria yang sangat tampan, tinggi sempurna. Tirta geleng-geleng kepala mendengar celoteh istrinya. Selama acara berlangsung di rumah tetangganya, istrinya adalah tamu yang paling aktif. Sambil ngobrol dengan para undangan lain di acara itu, dia juga memperkenalkan Nathalie. Maklum, istrinya terobsesi ingin Nathalie menikah dengan pria kaya raya, dan para undangan di acara adalah dari kalangan orang-orang berduit. Tetangga yang diundang saja hanya keluarga Tirta dan pak RT. Istri pak RT saja tidak diundang. "Jadi bini keduanya juga Ibu bolehkan," lanjut Denok berkhayal. "Astagaaa, kok Ibu eror sih?" Nathalie memejamkan matanya. Dia adalah orang yang paling tersiksa saat menghadiri undangan itu. Karena tidak mengenal satupun di sana, mau tidak mau dia ikut ke mana ibunya, dan dia yang harus menurut. Apa boleh buat, Nathalie memang tidak berkuasa menolak jika diperintah ibu dan bapaknya, terutama ibunya. "Hahaha, Ibuuu. Ya ampuuun," ucap Naomi akhirnya, sambil memukul-mukul pahanya. Tidak menyangka dengan sikap dan kata-kata ibunya yang berlebihan. "Soalnya baru kali ini Ibu ke rumahnya. Ampuuun, luas banget yaaa. Itu rumah kayak istana, megah banget. Kalo Bapak, 'kan udah sering ke dana dulu." Tirta mengangguk kecil, dia memang kerap diundang keluarga Adiwilaga. "Apa sih usaha mas Nanda itu, Pak?" tanya Denok. "Yah macam-macam. Katanya broker kelas atas. Aku juga nggak begitu paham, Bu." "Duh, muda-muda kaya raya ya, Pak." "Iya." Denok memang tidak habis-habisnya membicarakan keluarga tetangganya itu. Sementara Naomi dan Nathalie hanya saling pandang. *** "Iya ... aku tadi ikut ibu dan bapak datang undangan tetangga sebelah ha? Oh, acara pertunangan, Riko. Iya. Ini baru aja pulang ... iya ... love you too." Naomi mengerlingkan dua matanya mendengar kakaknya sedang ditelpon Riko. Sepertinya ada yang berubah dari cara bicara Riko. Gaya Riko tidak begitu saat bicara dengannya, urakan dan sedikit kasar dengan Naomi. Tidak ada kata-kata cinta yang berlebihan atau sayang. Naomi pikir Riko yang memang berubah sejak berpacaran dengan Nathalie. Entahlah. Naomi hanya menggigit bibirnya. Riko masih ada di hatinya. *** Istirahat pertama sekolah, Nathalie tergesa-gesa melangkah ke kelas Naomi. Dia menggamit lengan Riko, dan dia yang tersenyum lebar. "Om ... kakak lu tuh di depan. Manggil lu," Sasya, teman satu kelas Naomi memberitahu Naomi yang sedang asyik ngobrol dengan Wilma. Naomi sebentar menoleh ke arah pintu depan kelas. "Sial!" rutuknya. Sasya dan Wilma terkekeh. Mereka sepertinya tahu soal hubungan antara Naomi, Riko dan Nathalie. Naomi langsung menuju pintu depan kelas. "Hai, Kak Nat," sapa Naomi sopan, tanpa menoleh ke wajah tampan Riko. "Kenalin, ini Riko, yang aku ceritain ke kamu." Dengan perasaan jengah, Naomi menatap mantan terindahnya itu dengan wajah yang terpaksa dia buat senyum. "Oh ... udah kenal. 'Kan emang terkenal terganteng di sekolah. Ngapain dikenalin lagi, hm ... gue NAOMI. Nama lengkap gue Naomi Adnan ... Riko? ya ya ya." Naomi dengan santai menyambut tangan kanan Riko, menjabat tangan Riko kuat-kuat sambil tersenyum genit, dan Riko hanya datar membalas senyumnya. "Riko." Riko tetap menyebut namanya. "Idih, Naomi, kok genit gitu sih. Ya udah, aku mau ajak kamu jalan-jalan ke mall sama Riko. Ntar sore. Ikut ya?" Naomi berpikir sejenak. "Ok." *** "Kakak lu tu apa nggak peka dengan gelagat Riko ya? trus juga nggak peka ke elu sih?" tanya Wilma. Sasya ikutan memasang muka tanya. "Kak Nat itu hatinya memang bersih. Nggak kayak kita-kita, sukanya curiga aja ama orang," balas Naomi. Wilma sedikit membenarkan kata-kata Naomi. "Hm, kasihan ya. Eh, trus ntar sore lu mau ikut ke mall juga, Om? Apa lu nggak cemburu? Ada apa sih dalam pikiran lu? ketemuan ma mantan, yang pacaran sama kakak lu?" Sasya menggetok kepalanya sendiri seakan ngeri akan perasaan Naomi nantinya. "Huh, tauk," decak Naomi yang galau. "Gue tau lu masih cinta ma Riko. Empat tahun lo. Tiap hari dicipok di toilet. Ih ... jijay gue. Kayaknya nih emang Riko ngincer Nat deh. Nggak kesampean, lu jadi pelampiasannya dia aja. Itu menurut gue ya ... lu gimana, Sya?" Wilma bertanya ke Sasya yang ikut menyimak. "Gue ikut aja," tanggap Sasya. "Hahaha ... lu mah, ih, selalu lempeng, gue jitak juga nih." Wilma mencubit kecil lengan Sasya. Setelah menerima ajakan Nathalie, perasaan Naomi tidak karu-karuan. Dia agak khawatir tidak bisa menahan perasaan rindunya terhadap Riko jika bertemu nantinya. Sementara dia juga tidak ingin Nathalie tahu bahwa dia yang pernah berhubungan dengan Riko. Pasti kakaknya kecewa, dan Naomi tidak mau itu terjadi. Tapi bagaimana lagi, dia sendiri tidak bisa menjamin rahasia hubungannya dengan Riko yang tidak akan terbongkar. Naomi benar-benar bingung. Memang ada yang hilang rasanya sejak putus dari Riko beberapa minggu ini. Biasanya ada yang mengajaknya kencan, atau mengirim pesan untuk pergi ke toilet guru yang lebih nyaman. Melepas rindu di sana. Memang menjijikkan. Tapi Naomi rindu saat-saat itu. Naomi juga rindu saat-saat bertengkar hebat, rindu menampar muka tampan Riko, rindu dipeluk, ketika berbaikan. Pelukan setelah bertengkar itu sangat menghanyutkan perasaan Naomi. Dan semua itu tidak ada lagi sekarang. Tinggal bisa dikenang. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD