Naomi tidak terlalu sulit memilih baju yang dia pakai untuk bertemu dengan Riko sekarang, karena dia yang sudah tahu baju yang disukai Riko untuk dia pakai saat berkencan dulu, yakni baju kaos hijau muda bergambar Lilo and Stitch, kartun kesukaan Riko. Sementara Nathalie, masih sibuk memilih baju terbaiknya, dan sekarang sudah baju kelima yang dia coba.
"Duh, Kak Nat, emang kenapa harus ngajak aku sih? Kakak kan bisa berduaan sama Riko," rutuk Naomi yang sudah siap-siap memakai sepatunya. "Emang kenapa harus ngajak aku sih? Kakak kan bisa berduaan sama Riko dan bebas nggak ada aku."
"Hei! Kak Riko ... jangan Riko doang, kamu nggak sopan," balas Nathalie sengit.
Naomi bergidik. Raut jijik menghiasi wajahnya. Kak Riko? Hueeek, cuih.
"Dia bilang pingin kenalan sama kamu lebih jauh. 'Kan aku cerita tentang keluarga kita, aku bilang kalo kakak punya adik lucu, manja, trus bawel and gemoy, dia bilang ajak aja sekalian pas jalan-jalan sore, biar lebih akrab gitu," ujar Nathalie sambil senyum-senyum membayangkan keseruan berjalan bersama Riko dan adiknya.
Riko pingin ketemu gue? Dia kangen gue ternyata, hati Naomi sedikit berbunga-bunga. Tapi sejenak dia ragu, karena pagi tadi wajah Riko yang sama sekali tidak senang saat menjabat tangannya. Naomi memilih pasrah, dan yang terpenting kak Nat bahagia dengan Riko. Toh, dirinya dan Riko sudah tutup buku.
***
Naomi ikut senang melihat melihat dandanan Nathalie yang sangat rapi dan cantik, wangi lagi. Dia pantas disukai banyak laki-laki, tak terkecuali Riko. Nggak kayak lu, udah belibet, kusam, untung lu hidup, kata-kata yang sering diucapkan Riko terhadapnya saat Riko yang kesal dengan sikap Naomi yang kadang menjengkelkan. Bagaimanapun, Riko menyayangi Naomi, atau sekarang selera Riko yang berubah semenjak berpacaran dengan Nathalie.
"Kak Nat belum diajak ke rumah Riko ... eh kak Riko?" tanya Naomi.
Nathalie merapikan sabuk pengamannya. "Belum. Katanya nanti-nanti aja. Soalnya dia takut dimarahi mamanya. Sama kayak kitalah, Omi. Nggak boleh pacaran sebelum kuliah ... ntar kalo udah kuliah baru dia kenalin aku ke orang tuanya," jawab Nathalie.
Naomi mengernyitkan dahinya, ada yang salah menurutnya. Selama berpacaran, Riko langsung memperkenalkan dirinya ke mamanya, dan mama Riko yang sangat mengenalnya. Atau, mungkin Riko takut kedoknya terbongkar kalo sebenarnya dulu dia pernah pacaran dengan Naomi. Pasti Nathalie akan kecewa jika tahu hal ini. "Oh," desahnya.
"Menurut kamu, Riko itu gimana?" tanya Nathalie saat sudah mengendarai moris mininya ke jalan.
"Yah ... 'kan baru kenal pagi," ujar Naomi pura-pura tidak begitu mengenal Riko.
"Paling nggak, kamu bisa menilai, kalo aku sih suka dia karena dia keren. Hm, nggak banyak omong. Tatapannya itu yang membuat aku nggak bisa lupa ... trus, dia penyayang."
Gue juga nggak bisa lupa tatapan Riko, gumam Naomi dalam hati.
"Ya, dia ganteng dan ... nggak mudah tergoda," ucap Naomi, mengingat wajah datar Riko tadi pagi.
"Aku doain kamu juga dapat cowok ganteng dan baik kayak Riko," ucap Nathalie dengan wajah binarnya.
Naomi memandang Nathalie yang menyetir. Kak Nat memang sangat baik. Rasanya tidak tega kalau dia tahu bahwa dirinya pernah pacaran dengan Riko.
Naomi lalu memainkan ponselnya, ingin mengalihkan pikirannya tentang hubungan Nat dan Riko. Naomi tidak tahu sampai kapan dia bisa menjaga rahasia hatinya.
***
Riko ternyata sudah menunggu Nat dan Omi di sebuah café di mall tempat mereka janjian. Begitu dilihatnya Nathalie dan Naomi muncul, dia pun bangkit dari duduknya dan menyambut dua gadis itu. Ciuman dan pelukan hangat dia berikan ke Nathalie dan jabat tangan hangat dia berikan ke Naomi. Naomi sedikit lega dengan perasannya saat itu. Gue harus terbiasa dengan ini, batinnya sendu.
Sekilas cowok berambut keriting itu melirik Naomi dan tersenyum, Naomi pun membalasnya.
"Mau pesen apa nih," ujar Riko, memainkan pena dan siap mencatat menu yang akan dipesan.
"Omi dulu. Mau apa, Om?" Nathalie bertanya ke Naomi, sembari mengusap punggung Naomi.
Riko sepertinya sudah tahu apa yang biasa dipesan Naomi. Karena café itu adalah café yang biasa mereka kunjungi. Pensil yang di tangannya sudah menunjuk ke arah sandwich isi daging asap.
"Iya ... itu aja, Kak Riko," tanggap Naomi. Kak Riko? Riko tertawa kecil mendengar Naomi memanggilnya 'Kak', terkesan manja di telinga. Benar kata Nathalie, Naomi memang manja dan bawel, apalagi kalau sudah adu mulut dengannya saat bertengkar, bawelnya akan semakin terlihat.
"Minumnya ini ya, kesukaan kalian berdua," pilih Riko, dan Naomi mengangguk, dia dan kakaknya sangat suka jus kedondong, karena keduanya menyukai minuman berasa asem dan kecut manis, berasa segar di tenggorokan. Akhirnya Riko memilih sendiri menu yang akan disantapnya, ternyata makanan yang sama dengan yang Naomi pesan. Fixed, dia kangen gue, kata Naomi dalam hati.
"Omong-omong, nggak lama, 'kan nungguin kita, Rik?" tanya Nathalie sambil memainkan rambutnya.
Riko menggeleng. "Nggak sampe lima menit."
Terlihat Riko curi-curi pandang ke Naomi, dan Naomi yang tidak begitu menanggapi, karena mata gadis itu sibuk melihat-lihat suasana café.
"Tadi macet nggak?" tanya Riko. Dia tampak ingin mengusir resahnya, beberapa kali dia merubah posisi duduknya.
"Nggak begitu macet ya, Om? Paling macet menjelang lampu merah doang sih," jawab Nathalie.
Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun tiba di meja.
Suasana cukup hangat saat makan-makan dan minum, bahkan mereka terlibat percakapan seru. Nathalie beberapa kali melontarkan teka teki di sela-sela perbincangan, mencepatkan suasana yang menyenangkan. Naomi yang tadinya mengira akan merasa galau atau sedih karena bertemu Riko, malah terlihat sering senyum dan tertawa renyah. Begitu juga dengan Riko.
Nathalie yang paling senang saat itu, merasa bebas berhubungan dengan Riko di depan Naomi, karena sudah memperkenalkan pacarnya ke Naomi. Dia tahu bahwa Naomi pandai menjaga rahasia. Naomi sendiri sedikit menyesal, kenapa dulunya dia tidak memakai cara yang dilakukan Nathalie, memperkenalkan Riko ke Nathalie dan dia yang bisa bebas berpacaran. Tapi apakah keadaan akan sama seperti ini? Apalagi dia adalah adik, pasti perasaan Nathalie akan berbeda, mungkin galau karena merasa didahului. Ah, enak banget jadi anak pertama ya, pikir Naomi.
"Kak Nat udah deh. Aku ketawa mulu nih. Ntar mewek ... eh, aku mau ke toilet dulu ya," ringis Naomi sambil memegang perutnya, karena Nathalie terus-terusan melontarkan candaan.
Sepertinya Naomi benar-benar ingin mengeluarkan sesuatu yang mengganjal dari dalam perutnya, karena langkahnya amat cepat dari café menuju toilet.
Toilet? Riko memejamkan matanya saat Naomi mengatakan kata itu, senyuman tipis mengulas bibirnya, dan dia yang gelisah.
"Kenapa, Riko? Kamu mau ke toilet juga?" tanya Nathalie, melihat wajah Riko yang seakan menahan sesuatu yang kurang enak.
"Iya sih ... cuma aku nggak mau ninggalin kamu sendiri di sini."
"Udah sana. Nggak usah ditahan," ujar Nathalie.
Riko langsung bangkit dari duduknya setelah meninggalkan ciuman hangat di kening Nathalie.
Bersambung