Naomi terperangah saat dia baru saja ke luar dari toilet, melihat Riko yang sudah di posisi tengah, sengaja menunggunya di depan gerbang toilet. Riko lalu menggamit lengan Naomi dan mengarahkannya ke tempat yang agak sepi dari lalu lalang pengunjung mall, sebuah ruang kecil di samping pintu lift menuju parkiran mobil. Naomi mau tidak mau menurut, tidak ingin menjadi pusat perhatian jika dia berteriak atau berulah.
"Naomi," desah Riko dengan tatapan hangat.
Jantung Naomi berdesir saat ditatap, sebuah tatapan yang amat dia rindukan.
Riko tanpa ragu memeluk Naomi dan Naoimi yang tidak kuasa menolak. Naomi memang merindukan mantan kekasihnya itu, rindu meremas rambut keritingnya. Dia membalas pelukan hangat Riko.
Terdengar isak Riko. "Naomi, balikan please," pintanya lirih, dan wajahnya menunjukkan kesedihan yang amat dalam.
Naomi tidak menyangka Riko sebegitu sedih sore ini. Dia tidak pernah melihat Riko menangis sesenggukan seperti ini selama pacaran dulu. Balikan? Naomi berusaha untuk tidak terbawa perasaan yang berujung dengan tangisan.
Perlahan Naomi mendorong tubuh Riko.
"Gue sayang Kak Nat, Riko. Lu jangan sampe ngelukain hati dia. Jangan sampe dia tahu kalo kita pernah pacaran. Gue yakin dia pasti sedih. Dan gue nggak mau dia sedih. Dia kakak gue yang paling gue sayang. Gue pingin banget lu ngertiin dia. Nggak mudah buat kita untuk balikan ... gue udah nggak mau. Gue pingin banget dia bahagia sama lu. Karena lu cinta pertama dia."
Riko kembali memeluk erat Naomi, dan tangisannya yang tak terbendung. Rasa rindu berminggu-minggu tidak memeluk Naomi terbayar sudah di sore itu.
"Gue cinta elu, Omi. Gue nyesal. Gue cuma iseng. Gue nggak tau kalo dia kakak lu yang sangat sayang sama lu, karena yang gue liat hidup lu sama dia itu beda. Gue kira sikap lu sama aja di saat gue iseng dengan cewek lain. Ternyata beda," isak Riko.
Riko merenggangkan pelukannya sesaat, memandang wajah Naomi penuh kerinduan. "Gue kangen," ucapnya dengan napas tertahan.
"Peluk aja, Riko. Nggak usah lu cium gue," cegah Naomi saat Riko hendak mengecup bibirnya. "Gue nggak mau jadi pengkhianat kakak Gue sendiri."
Riko menatap Naomi, dan hatinya benar-benar terpukul. Tidak pernah dia menangis hebat seperti ini, pun tidak pernah sesedih ini. Tangannya mengepal, seolah ingin menumpahkan rasa rindu dengan melumat bibir Naomi lalu pergi. Tapi Naomi benar-benar tidak ingin melakukannya lagi, karena dia yang sangat menyayangi Nathalie.
***
Nathalie bingung karena Naomi tidak kembali ke café. Hanya Riko yang muncul ke meja.
"Loh, kamu nggak liat Naomi?" tanya Nathalie.
Riko menggeleng.
Lalu Nathalie meraih ponselnya dan memeriksa.
Naomi : Kak, aku dapat pesan dari Wilma, dia ingin aku ke rumahnya sore ini juga. Penting. Have fun ya ... biar bias berduaan sama kak Riko. kiss kiss.
"Dari Naomi?" tanya Riko yang melihat raut wajah serius Nathalia.
"Ya, dia bilang dia dapat pesan dari Wilma, dan dia harus pergi ke rumah Wilma, penting katanya," jawab Nathalie. Meskipun dia sedih karena Naomi pergi begitu saja, dia tetap merasa lega karena Naomi yang tetap memberitahu.
***
Sejak pelukan terakhirnya dengan Riko di mall, perasaan Naomi sedikit lega. Dia tidak lagi galau, sedih, atau gundah. Gadis itu semakin relaks. Tidak seperti sebelumnya, selalu saja perasaan tidak enak menghiasi hatinya. Rasa rindupun musnah. Pun Riko, dia juga terlihat tenang dan ceria. Keduanya tidak lagi saling diam seperti di awal-awal putus, mereka tetap saling sapa jika berpapasan di sekolah.
"Wah, keren sekarang pake motor ... tambah cantik," puji Riko kagum saat berpapasan dengan Naomi yang sedang memarkirkan motornya tepat di samping motor besar Riko.
"Motornya ibu, Rik," ucap Naomi.
"Nggak iri sama Nat? Dia bawa moris lo," tanya Riko.
"Nagapain iri? Dia itu nggak bisa bawa motor. Bagi gue ribet bawa mobil. Mending begini. Ke mana-mana cepet," tanggap Naomi sambil meletakkan helmnya di bagasi motornya, lalu menutupnya.
Riko tergelak melihat wajah Naomi yang sedikit sewot, dia mengusap kepala Naomi penuh rasa sayang, lalu berjalan beriringan menuju kelas masing-masing.
Riko memang banyak berubah sejak menjalin kasih dengan Nathalie. Sisi dewasanya terlihat, dan dia yang tidak temperamental seperti dulu saat berpacaran dengan Naomi. Kini dia lebih santai dan relaks. Hal ini mungkin dikarenakan pembawaan Nathalie yang lemah lembut, membuat Riko pun jadi ikutan lemah lembut dan tidak kasar. Beda dulu saat pacaran dengan Naomi, hampir setiap saat dia ingin marah, seolah ingin "menggaruk" wajah siapapun yang lewat. Sikap Naomi yang kadang-kadang kekanak-kanakan memang membuat Riko sebal. Tapi dia sendiri juga terkadang menjengkelkan, dan dia cukup sering merindukan masa-masa intim dengan Naomi. Riko mengakui, Naomi lebih memahami keinginannya saat berduaan.
"Ya, kayaknya si Riko emang bukan jodoh lu. Ternyata si Riko kalo jalan ma Nathalie, jadi positif. Kalo sama lu, rusak. Hahaha," ledek Wilma yang juga menyadari sikap Riko yang akhir-akhir ini sangat berbeda jika dibandingkan sebelumnya.
Naomi tidak tersinggung akan kata-kata Wilma, bahkan menganggapnya hal yang baik dan positif. "Ya. Baguslah. Gue juga tenang, Wil. Nggak boong lagi sama bokap dan nyokap gue. Tinggal si Nat nih, beberapa bulan lagi baru dia bisa tenang, bisa pacaran bebas dengan Riko. Kasihan juga gue sama dia. Kadang-kadang gue liat dia nggak sabaran gitu."
"Nat mah beda. Kalo berbuat salah, dia memang nggak sabar. Nggak kayak lu, bisa bertahun-tahun buat salah, lempeng aja kayak nggak punya dosa," ledek Wilma lagi.
Naomi tersenyum simpul mendengar sindiran Wilma. Dia akhirnya menyadari bahwa dia yang sekarang terlepas dari pikiran-pikiran yang selalu menekannya setiap hari, Riko yang ngambeklah, Riko yang maksalah, Riko yang bawel, Riko yang selingkuh, Riko yang bohong, dan lain-lain tentang Riko. Naomi benar-benar bebas.
"Gue harap, Riko bisa begitu selama-lamanya sama Nat. Biar nggak musingin," harap Naomi.
***
Sejak Nathalie lulus SMA dan melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas swasta terkenal di BSD dengan program beasiswa untuk para siswa berprestasi, Naomi sedikit merasa kehilangan. Walaupun memang setiap malam pasti bertemu, tapi tetap saja dia sering merasakan kerinduan bermanja-manja dengan kakaknya itu, terutama saat dipinta bantuan untuk mengerjakan PR.
Bahkan, kamar mereka berdua yang terpisah. Nathalie yang ingin kuliahnya tidak terganggu. Sebab, dia masuk universitas tersebut melalui jalur beasiswa, dan Nathalie harus mempertahankan nilai akademiknya di setiap semester, kalau tidak, beasiswanya akan dicabut dan tentu saja orang tuanya mesti membayar mahal. Nathalie tidak mau itu terjadi.
Jarang sekali Nathalie punya waktu untuk sekadar berceloteh atau berbagi cerita dengan Naomi. Pikirannya terfokus ke kuliah. Ada yang sedikit membuat Naomi sedih, karena hampir setiap malam Nathalie malah memiliki waktu bersenda gurau dengan Riko melalui ponsel. Terdengar suara manja Nathalie saat berbicara dengan Riko di kamar yang bersebelahan dengan kamar Naomi. Terkadang mereka berbicara hingga lewat tengah malam.
Naomi merasa amat sepi. Tapi dia tetap berusaha menepis perasaan-perasaan sepinya dengan berbagai kegiatan. Nonton film korea misalnya, yang dia lakukan di waktu santainya.
Hidup Nathalie memang sangat sempurna. Karena sikap dan pembawaannya yang sangat menyenangkan, terhadap orang tua misalnya, apa yang dia inginkan hampir semua dia dapatkan, bahkan termasuk restu hubungannya dengan Riko.
Bersambung