Awalnya, Denok sedikit keberatan dengan hubungan spesial antara Nathalie Amanda Adnan dan De Sadewa Eriko. Menurutnya, Riko bukan dari kalangan berduit. Meskipun sebenarnya Riko juga berasal dari keluarga yang cukup berada, dia adalah anak tunggal, dan keduaorangtuanya yang memiliki usaha pangan yang berskala cukup besar. Tapi Denok masih ingin Nathalie berjodoh dengan orang berduit seperti tetangga sebelah yang disebut-sebut memiliki beberapa bank, dan merupakan broker ternama di Amerika, memiliki berhektar-hektar sawah di Jawa Tengah, juga memiliki hubungan erat dengan pejabat tinggi di kemiliteran negara.
"Nggak usah pake target-target segala, Ibu Denok tersayang. Yang penting mereka saling cinta dan saling mendukung. Biar masa depan mereka sendiri yang atur," begitu pendapat Tirta suatu pagi di akhir pekan saat Denok yang masih saja menyesalkan keputusan Nathalie berpacaran. Tirta sendiri sama sekali tidak keberatan dengan Riko. Menurutnya, Riko adalah sosok yang bertanggung jawab dan sangat menyayangi Nathalie. Denok pun diam-diam sependapat dengan suaminya. Namun terkadang, dia sedikit nakal, masih memperkenalkan Nathalie ke orang-orang berduit di saat menghadiri kondangan, dan dia yang masih memaksa mengajak Nathalie. Entah kenapa sikap materialistis Denok menjadi-jadi, terhitung sejak menghadiri acara pertunangan tetangga sebelah.
Terlepas dari semua yang dimiliki Nathalie, dari kecerdasannya, kasih sayang yang berlebih dari orang tua serta kasih sayang dari kekasih yang direstui, sang adik tidak berkecil hati. Naomi tetap bersikap biasa, dan tetap menjadi adik yang penurut. Menurutnya, dia kini merasa lebih bebas dan tidak terbebani dengan harapan-harapan sang mama yang berlebihan itu. Satu hal, Naomi merasakan kesendiriannya di rumah, karena Nathalie yang kini memiliki segudang kesibukan, ibu yang memiliki jadwal mengajar di kampus yang lumayan padat, dan bapak yang mendapat tugas tambahan, tidak saja mengajar sebagai dosen, tapi juga dipercaya menjabat sebagai wakil dekan di fakultas di kampus dia mengajar. Masih ada Wilma, sahabat sejati Naomi sedari SMP, dan Wilmalah yang terus setia mendengar keluh kesah Naomi, harapan-harapan Naomi, juga cita-cita Naomi. Jadi Naomi yang tidak benar-benar sepi.
***
Naomi sudah siap mengendarai motor kecilnya menuju sekolah. Seperti biasa, musik ceria mengiringi perjalanannya menuju sekolah, melalui earphone yang tertancap di telinga. Dia senang hari itu, karena Wilma berencana akan mentraktirnya di kantin. Wilma ulang tahun hari ini, dan mengajaknya pergi mall berencana akan membelikan Naomi barang-barang kesukaan.
Mungkin karena terlalu asyik mendengar musik, Naomi tidak menyadari ada mobil yang tiba-tiba melaju kencang tepat di sisinya.
Naomi terkaget, dan hampir kelimpungan saat air lumpur terciprat ke cardigan yang dia pakai, yang berasal dari ban mobil mewah yang melewatinya tadi. Mobil itu berhenti, dan salah satu penumpangnya turun sebentar mengecek sisi kiri bodi mobilnya, karena suara yang terdengar cukup keras.
"Pak! Ingatin sopirnya hati-hati dong! Liat rok saya, kotor nih!" keluh Naomi setengah berteriak. Untungnya dia yang terbiasa memakai cardigan, sehingga seragam sekolahnya yang masih aman. Tapi rok dan sepatunya lumayan kotor.
Penumpang mobil mewah itu hanya memandang sinis Naomi. Tidak mempedulikan keluhan Naomi. "Lu pake motor aja belagu!" umpat penumpang mobil mewah tadi.
Dan mobil itu pun pergi.
Naomi benar-benar kesal. Apalagi mengingat jelas kata-kata penumpang mobil itu yang sangat menyinggung perasaannya. Dia merasa rendah dan terhina. "Mentang-mentang punya mobil bagus!" gerutunya, dan dia menangis saat kembali mengendarai motor kecilnya, sambil berusaha melupakan kejadian barusan.
Sesampai di sekolah, Wilma dan Sasya menyambut Naomi. Mereka langsung menemani Naomi yang menangis ke ruang UKS. Naomi masih beruntung, karena ada rok ekstra di ruangan UKS, dan dia yang tidak perlu repot kembali ke rumah. Hanya saja sepatunya yang terlihat sangat kotor dan hanya bisa dibersihkan seadanya.
"Gue benci orang kaya. Nyebelin, Wil. Dia liatin gue sinis. Malah mengecek mobilnya, tanpa liat gue yang kecipratan lumpur. Lu liat nih. Pingin gue bakar tuh mobil," rutuk Naomi.
"Udah, lu tenang, Om. Kan udah beres masalahnya," bujuk Wilma sambil mengelap-ngelap sepatu Naomi dengan kain lap kelas.
"Yang penting lain kali lu musti hati-hati. Begitu liat ada lubang, lu pelan-pelan, terus biarin yang lain liwat dulu." Sasya turut memberi nasehat.
Naomi benar-benar kesal dan sedih hari itu. Wilma dan Sasya terus berusaha membujuknya. Tapi kekesalan Naomi perlahan lenyap, karena ditraktir makan siang oleh Wilma yang berulang tahun. Ditambah jalan-jalan sore di mall. Naomi kembali pulih dari kesalnya.
***
Kondangan Minggu ini spesial. Naomi yang biasanya tidak ikut, kali ini dia sudah duduk rapi di dalam mobil, tepat di samping Nathalie. Wajahnya? tentu saja cemberut. Malam tadi, dia diomelin ibu.
"Naomi. Ini yang ngundang tetangga. Ada nama Nathalie, juga ada nama kamu. Ini undangannya spesial lo. Ibu yo nggak enak kalo kamu nggak hadir. Soalnya ini yang ngundang bukan sembarang orang," ujar Denok, ingin Naomi mengerti kenapa dia harus ikut hadir.
"Trus kalo orang sembarang yang ngundang, kita nggak perlu datang gitu, Bu?" sergah Naomi.
"Kamu ini. Kalo Ibu minta kamu ikut ya kamu harus ikut! Kamu apa nggak sadar selama ini nggak pernah mau ikut kondangan atau acara keluarga. Apa sih yang ada di pikiran kamu, Omi?" ketus Denok.
"Soalnya aku bete, Bu. Bisa mules-mules perut ketemu sama orang-orang aneh."
"Siapa yang aneh? Kamu yang aneh! Dinasehatin malah ngelunjak. Ini ada nama kamu, Omi. Kalo nggak ada nama kamu ya Ibu juga nggak bakal maksa kegini."
Dan Naomi hanya bisa diam termangu. Hari Minggu kali ini pasti sangat membosankan baginya.
Undangan dari tetangga sebelah ke keluarga Tirta Adnan terkesan aneh. Tirta mendapat dua undangan. Yang satu untuk dirinya dan istri, satu lagi untuk Naomi dan Nathalie. Tidak tahu juga kenapa keluarga mereka mendapatkan undangan terpisah begitu. Naomi dan Nathalie sempat merasa heran, karena selama ini mereka sama sekali tidak mengenal keluarga kaya raya itu. Kok bisa tahu nama-nama mereka berdua, lengkap pula dengan nama tengah, Nathalie Amanda Adnan, dan Naomi Zahira Adnan.
"Ibu ya yang kasih tau nama anak-anak ke mereka? Perasaan Bapak mereka nggak saling kenal deh?" tanya Tirta ke istrinya saat mendapat undangan dari pak RT setempat. Pak RT saja undangannya cuma satu, khusus untuknya dan istri, padahal dia memiliki tiga anak yang sebaya dengan Naomi dan Nathalie.
"Nggak ah, Pak. Ibu memang memperkenalkan Nat ke tamu-tamu malam pertunangan itu. Tapi malam itu Ibu yo mana ketemu dengan yang punya rumah. Kelasnya ya beda. Kalo Nathalie mungkin karena Ibu kenalin ke orang-orang. Tapi Naomi? Ibu malah mbuh nyebut bocah itu. Bocah males."
"Tapi kok bisa tau ya? Undangannya malah ada dua. Aneh-aneh kelakuan orang sugih," ujar Tirta bergumam.
Bersambung