Happy Reading!
"Sayang,"panggil Gigah panik lalu segera menggendong tubuh Eva yang pingsan menuju kamarnya."Kenapa diam di sana? Cepat periksa istriku!"teriaknya pada dokter Burhan.
Burhan segera saja membawa tas nya menuju kamar Gigah, anggota keluarga yang lain juga langsung mengikuti di belakang termasuk Maura.
"Siapa gadis itu? Apa temanmu?"tanya Rini pada putrinya.
Maura mengangguk."Iya, mah. Tapi kok om Gigah peluk dan anggap Eva istrinya. Apa om Gigah halusinasi ya?"
Rini menggeleng."Entahlah. Tapi om mu jadinya tenang, siapa tahu Eva bisa membantu kita."
Maura hanya mengangguk dan begitu tiba di kamar, bisa ia lihat kalau om Gigah cemas karena Eva pingsan.
'Sepertinya om Gigah benar-benar menganggap Eva istrinya.' batin Maura lalu menghela napas. Takutnya begitu sahabatnya itu bangun, Eva malah teriak karena takut.
Di sisi lain, anggota keluarga hanya bisa saling tatap. Mereka ingin meminta penjelasan dari Maura tapi tidak memungkinkan. Apalagi Gigah juga terlihat begitu cemas, seperti gadis yang pingsan itu benar istrinya.
"Bagaimana? Apa istriku baik-baik saja?"tanya Gigah. Dia duduk di samping memegang tangan Eva sementara dokter memeriksa.
Burhan hanya asal sentuh saja. Lagipula alasan gadis itu pingsan hanya kaget saja, memangnya ada orang yang tidak kaget dipeluk dan dicium tiba-tiba oleh pria yang memiliki gangguan kejiwaan.
"Gadis ini pingsan kar---"
"Gadis? Apanya yang gadis? Ia adalah istriku."bentak Gigah membuat Burhan semakin bercucuran keringat.
Anne segera maju dan menenangkan putranya."Gigah, istrimu hanya kelelahan. Sebaiknya biarkan ia istirahat sementara dokter Burhan mengobati lukamu. Lihat! Tanganmu berdarah."
Gigah menatap tangannya yang terluka lalu menggeleng."Aku tidak akan memberi kalian kesempatan untuk membawa istriku pergi lagi."
"Tidak ada yang akan membawa istrimu pergi. Mama hanya ingin lukamu diobati. Apa kau mau membuat istrimu cemas jika melihat kau terluka?"bujuk Anne lembut lalu mencoba menarik lengan putra bungsunya itu dan untungnya Gigah menurut. Pria itu membiarkan dokter mengobati lukanya dan hal itu benar-benar membuat Anne senang.
Arifin juga turun senang sekaligus merasa lega. Biasanya putranya tidak akan tenang sebelum dibius atau diberi obat penenang tapi hari ini, Gigah menjadi begitu lunak berkat seorang gadis yang entah datang dari mana. Namun yang jelas gadis itu berhak dapat hadiah besar setelah ini.
Di saat anggota keluarga merasa lega dan senang, ada Maura yang sejak tadi terus merasa gelisah. Ia takut Eva akan terjebak dalam keluarganya. Apalagi melihat reaksi kakek dan neneknya, Maura tahu apa yang akan dua orang itu lakukan. Terlebih om Gigah adalah anak laki-laki satu-satunya dan tentu saja menjadi kesayangan semua orang. Sudah tentu kakek dan neneknya akan melakukan apa saja agar om Gigah bahagia termasuk jika harus mengorbankan orang lain.
'Harusnya tadi aku tidak membawa Eva pulang ke rumah.' batin Maura menyesal lalu perlahan mendekati Eva. Ia harus bangunkan sahabatnya itu lalu mengantarnya pulang, mumpung om Gigah tidak mengamuk lagi.
"Siapa yang menyuruhmu mendekati istri om?"bentak Gigah membuat langkah Maura terhenti lalu perlahan memberanikan diri menatap omnya itu.
"O-om, aku hanya---"
"Maura sayang, ayo kita ke bawah. Mama tadi membeli banyak baju untukmu, ayo kita lihat."ajak Rini lalu dengan cepat menarik tangan putrinya keluar dari kamar itu.
"Mah, aku harus mengantar Eva pulang."ucap Maura begitu mereka berada di luar.
"Tidak sekarang, Maura. Om mu bisa mengamuk jika kau membawa Eva pergi. Dia bisa saja melukaimu nanti."ucap Rini pelan.
"Tapi---"
"Mama mengerti kekhawatiran mu tapi tidak ada yang bisa kita lakukan. Sekarang lebih baik berdoa, semoga temanmu itu mengerti situasinya dan mau sedikit bersandiwara. Nanti jika om mu lengah, baru ia bisa pergi."ucap Rini membuat Maura menghela napas. Eva sangat cerdas, apalagi kondisi om Gigah juga sudah ia ceritakan. Harusnya Eva pasti paham untuk sedikit berakting, pikir Maura. Dan memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berharap Eva akan mengerti situasinya.
Sedang di kamar, Eva perlahan membuka mata dan yang pertama ia lihat adalah wajah om Gigah.
Baru saja Eva ingin teriak tapi sebuah ciuman sudah mampir di keningnya dan itupun dilakukan dengan begitu mesra.
"Akhirnya kau bangun, sayang. Mas benar-benar mengkhawatirkan mu."ucap Gigah membuat Eva diam tanpa kata. Sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa dua orang tua di belakang mengatupkan tangan seolah memohon padanya?
Apa jangan-jangan om Gigah pikir aku adalah istrinya? Batin Eva. Kalau dipikir-pikir itu masuk akal karena tidak mungkin om Gigah tiba-tiba saja memeluk, menciumnya dan sekarang malah memanggil sayang.
'Apa yang harus aku lakukan?' batin Eva bingung.
"Kenapa diam? Apa kau sedang memikirkan cara untuk pergi lagi?"tanya Gigah datar. Namun wajah pria itu seolah siap menghancurkan apa saja yang ada di depannya.
Eva langsung menggeleng."M-mas, aku mau ke kamar mandi." akhirnya hanya itu yang bisa Eva katakan. Mungkin dengan mencuci wajah dan menenangkan diri, ia bisa menemukan cara untuk pergi dari tempat ini.
Wajah Gigah kembali berubah lembut."Kenapa tidak bilang, sini mas gendong."
"Tidak perlu."tolak Eva cepat membuat wajah Gigah langsung berubah muram.
"Kenapa? Apa kau mau kabur?"
Eva rasanya ingin memukul pria itu dengan keras. Kenapa wajah om Gigah cepat sekali berubah, dari yang datar, lembut dan sekarang terlihat garang. Itu benar-benar menakutkan, rasanya Eva mau kencing di celana. Walau bagaimanapun om Gigah mengalami gangguan jiwa, sewaktu-waktu jika melakukan kesalahan, ia bisa saja dilukai.
"B-bukan begitu, mas. Ya sudah gendong saja."ucap Eva pasrah. Daripada harus berdebat panjang lebar dan berakhir ia yang digorok di leher.
Gigah langsung tersenyum dan dengan cepat menggendong tubuh Eva lalu melangkah memasuki kamar mandi.
Namun masalah kembali datang karena setelah tubuhnya diturunkan, Eva dibuat takut karena bukannya pergi, om Gigah malah berdiri menatapnya.
"Bisa mas keluar dulu, a-aku mau pipis."pinta Eva pelan.
"Tidak. Mas akan menunggu di sini."sahut Gigah cepat.
"T-tapi aku mau pipis."ucap Eva pelan, sebenarnya ia hampir menangis.
Gigah hanya diam tidak bergerak sedikitpun.
"Jika mas tidak keluar, aku akan marah."ancam Eva memberanikan diri dan sepertinya itu berhasil karena om Gigah langsung meminta maaf dan melangkah keluar.
"Jangan kunci pintunya, mas tunggu di luar."ucap Gigah saat Eva menutup pintu namun ia tidak mendengar kan perkataan pria itu dan dengan cepat memutar kunci kamar mandi.
Baru saja Eva merasa tenang tiba-tiba saja terdengar teriakan om Gigah. Sepertinya pria itu marah karena ia mengunci pintu kamar mandinya.
Teriakan dan tendangan brutal om Gigah pada pintu kamar mandi membuat Eva langsung bergetar ketakutan. Ia langsung menangis dan memilih duduk di sudut kamar mandi.
Brukk
"Sayang, buka pintunya!"
Brukk
"Sayang!"
"Apa kau mau kabur lagi?"
Brukk
"Mas tidak akan membiarkan mu pergi lagi."
Brukk
"Buka pintunya!"
Banyak teriakan lain yang memintanya membuka pintu tapi Eva tidak berani. Ia hanya menangis dan meratapi nasibnya yang terjebak di sini. Ia hanya ingin pulang ke rumah.
Bersambung