03

748 Words
Happy Reading! Eva menatap pintu yang hampir terbuka karena terus ditendang. Jika ia tidak melakukan sesuatu maka akan sulit baginya untuk menghadapi kemarahan om Gigah. Brukk Brukk Karena tak mau dapat amukan, Eva segera berbaring di lantai kamar mandi dan berpura-pura pingsan. Semoga saja ia tidak ketahuan. Brakkk Pintu kamar mandi akhirnya terbuka dan Gigah segera masuk. Namun raut wajahnya yang semula diliputi kemarahan langsung berubah cemas saat melihat tubuh istrinya terbaring di lantai kamar mandi. "Sayang.. "panggil Gigah cemas lalu segera menggendong tubuh Eva keluar dari kamar mandi. Gigah menidurkan tubuh Eva di atas tempat tidur lalu segera menarik tangan dokter Burhan yang masih ada di sana. "Cepat periksa istriku! Kenapa ia pingsan lagi."teriak Gigah membuat dokter Burhan segera bergerak maju. Maura hanya bisa menatap Eva prihatin. Tadi ia sudah takut saat mendengar amukan om Gigah. Untungnya sahabatnya itu pintar dan berpura-pura pingsan untuk menghindari amarah om Gigah yang tidak terkendali. "Enghh"Eva akhirnya membuka mata. Ia bertingkah seolah baru sadar dari pingsan. "Sayang, apa kau baik-baik saja?"tanya Gigah cepat lalu segera menjadikan tubuhnya sebagai sandaran untuk istrinya itu. Eva tidak masalah dipeluk karena akan menjadi masalah kalau pria itu mengamuk. Terlebih Eva melihat ada Maura di sana, ia harus mencari cara agar bisa bicara dengan gadis itu. Syukur-syukur jika Maura bisa mengantarnya pulang. "Shh pusing, mas." adu Eva manja membuat Gigah segera membantu istrinya berbaring. "Biar mas pijat ya."ucap Gigah lembut membuat Eva mengangguk lalu melirik ke arah Maura. "Haus, mas. Mau minum."pinta Eva lagi. "Istriku mau minum."ucap Gigah sambil melirik anggota keluarganya. "Biar mama ambilkan."ucap Anne lalu melangkah pergi. "Kenapa bukan mas yang ambilkan?"tanya Eva membuat Gigah mengernyit. "Kenapa harus mas yang ambilkan?"tanya Gigah balik membuat Eva terdiam. Ia kan hanya ingin sedikit waktu untuk bicara dengan Maura. Tidak lama, Anne kembali dengan segelas air putih lalu memberikannya kepada sang putra. Gigah dengan cepat membantu Eva minum. Dia dengan telaten membantu istrinya bangun dan memberi minum dengan hati-hati. "Sudah lebih baik?"tanya Gigah lembut yang dibalas anggukan oleh Eva. "Tangan mas terluka."tunjuk Eva membuat Gigah melihat ke arah tangannya. Padahal baru saja diperban tapi rusak karena tadi dia mengamuk lagi. "Hm.. Tidak sakit."ucap Gigah datar. "Bukan masalah sakitnya, mas. Tapi itu luka dan harus diperban."ucap Eva membuat Gigah memanggil dokter Burhan agar kembali mengobati lukanya. "Bisakah lakukan di luar, aku takut melihat darah."pinta Eva. Dua menit saja, ia hanya perlu waktu dua menit untuk bicara dengan Maura. "Kalau begitu jangan lihat."ucap Gigah lalu segera mencium bibir Eva dan di saat yang bersamaan dokter Burhan bisa memperban luka tanpa dilihat oleh istrinya. Eva hanya bisa diam. Tubuhnya mendadak kaku, ia ingin marah tapi tidak berani. Apalagi om Gigah bukan hanya menempelkan bibir mereka tapi juga melumatnya. "Om Gigah."teriak Maura membuat lumatan itu berhenti. Eva benar-benar bersyukur karena Om Gigah berhenti mencium bibirnya tapi wajah pria itu sepertinya marah dan itu ditujukan pada Maura. "Maura, kau--'" "Mas Gigah.. "panggil Eva lembut dengan usapan pada lengan pria itu. Gigah kembali menatap istrinya."Ada apa, sayang?"tanyanya lembut. Eva langsung tersenyum."Aku lapar, mas." "Mas juga sebenarnya lapar."ucap Gigah membuat Anne segera melangkah maju. "Mama akan minta pelayan untuk siapkan makanan untuk kalian."ucap Anne lalu tersenyum manis dan mengajak semua orang keluar dari sana. Maura tidak terima disuruh keluar karena itu artinya ia harus meninggalkan Eva berduaan dengan om Gigah di dalam kamar. "Jangan membuat nenek marah, Maura. Gigah mau makan setelah berhari-hari tidak memakan apapun." bisik Anne membuat Maura akhirnya pasrah. Semoga saja Eva mau bertahan lebih lama dan tidak memancing kemarahan om Gigah. Eva yang sekarang hanya berdua dengan om Gigah, hanya bisa menahan napas. Takut melakukan kesalahan dan pria itu akan mengamuk. "Tidurlah! Akan mas bangunkan jika makanannya sudah siap."suruh Gigah membuat Eva seketika mendapat ide. Jika om Gigah tidur maka ia punya waktu untuk pergi. 'Baiklah, aku hanya harus bertahan sampai om Gigah tidur.' batin Eva menyemangati dirinya sendiri. Namun setelah beberapa menit malah Eva yang tertidur. Bagaimana ia bisa tetap terjaga kalau tubuhnya dipeluk dan kepalanya diusap dengan lembut. Bahkan Maura yang mengantar makanan saja dibuat bingung. Bisa-bisanya Eva tertidur di pelukan om Gigah. "Letakkan makanannya di sana!"suruh Gigah membuat Maura menurut dan meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja dekat pintu balkon. "Om--" "Apalagi? Cepat pergi!"bentak Gigah membuat Maura langsung bergetar ketakutan dan memilih segera pergi. Yang sebenarnya adalah ia tak punya nyali untuk membantu Eva. Baru mau bicara saja sudah dibentak apalagi nanti kalau ia ketahuan membantu Eva kabur, bisa-bisa ia langsung dibunuh. 'Maafkan aku, Eva. Maaf. Tapi tolong bertahanlah sedikit lebih lama.' batin Maura. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD