04

750 Words
Happy Reading! Eva mendesah pelan saat piringnya diisi dengan banyak makanan dan pelakunya tentu saja adalah Gigah. "Mas sudah, aku tidak bisa makan sebanyak itu."keluh Eva namun Gigah hanya tersenyum. "Coba dulu, kalau tidak habis nanti mas yang makan." "Tapi---"Eva tiba-tiba saja mendapat ide luar biasa. Om Gigah mungkin tahan tidak tidur tapi bagaimana bisa bertahan untuk tidak pergi ke kamar mandi. "Sayang, cepat makan!"suruh Gigah membuat Eva mengangguk lalu makan beberapa suap kemudian menggeleng. "Sudah, mas."ucap Eva lalu mendorong piring yang masih berisi banyak makanan ke hadapan om Gigah. "Kenapa hanya sedikit, katanya tadi lapar."protes Gigah namun Eva langsung mengusap perutnya. "Sudah kenyang, mas. Aku kan memang tidak banyak makan." "Tapi--" "Sekarang mas yang makan ya, biar aku suapi."ucap Eva membuat Gigah mengangguk semangat. Kalau disuapi, dia mau. Satu baskom juga akan Gigah Telan. Eva benar-benar memastikan om Gigah menghabiskan semua makanan dan menelan semua air minum yang ada di sana. Paling lama satu jam, pria itu pasti akan pergi ke kamar mandi dan setelah itu Eva akan kabur. Dan benar saja setelah empat puluh menit, Gigah mulai terlihat gelisah. Eva yang menyadari itu hanya tersenyum dan berpura-pura tidur. Eva yakin Gigah tidak akan bertahan lebih dari sepuluh menit. "Sayang.. "panggil Gigah membuat Eva mengernyit. Kenapa pria itu malah membangunkan dirinya. "Shh sayang.. Mas mau ke kamar mandi. Temenin yaa.. "pinta Gigah membuat Eva kaget luar biasa. Namun untungnya ia bisa terus berpura-pura tidur. Om Gigah benar-benar gila, pikir Eva. Rasanya ia benar-benar ingin pergi secepat mungkin. Tapi karena ia terus berpura-pura, Eva bisa merasakan kalau om Gigah turun dari tempat tidur dan melangkah memasuki kamar mandi. Yes, batin Eva lalu segera bangun saat mendengar suara pintu yang ditutup. Tak membuang waktu lagi, Eva segera melompat dari tempat tidur dan berlari keluar. Ia menuruni tangga seperti dikejar setan dan untungnya di bawah ia bertemu dengan Maura. "Maura."panggil Eva panik. Sedang Maura sendiri juga kaget karena Eva berhasil keluar dari kamar om Gigah. "Bagaimana kau bis---" "Susshh! Bicaranya nanti saja. Sekarang cepat antarkan aku pulang."pinta Eva bergetar. Maura juga langsung mengangguk dan berlari mengambil kunci mobilnya kemudian menarik tangan Eva keluar dari rumah. Setelah berada di dalam mobil dan sudah keluar dari gerbang rumah, barulah Eva bisa bernapas lega. "Bagaimana kau bisa keluar? Apa om Gigah yang menyuruhmu pergi?"tanya Maura. Eva menggeleng."Aku mengambil kesempatan saat om Gigah di kamar mandi." "Ya ampun."gumam Maura. Jika om Gigah keluar dari kamar mandi dan menyadari kalau Eva tidak ada, dia pasti akan mengamuk lagi. "Aku benar-benar takut, Maura. Lihat! Tanganku bahkan masih bergetar."adu Eva membuat Maura mengangguk. Benar juga. Ia tak boleh egois."Sekarang kita sudah jauh dari rumah, harusnya sudah aman."ucap Maura lalu menekan pedal gas mobilnya lebih dalam. Begitu tiba di rumahnya, Eva segera turun dari mobil dan berbalik menatap Maura. "Apa kau akan baik-baik saja?"tanya Eva. Tentu saja ia cemas dengan keadaan Maura nantinya. Maura tersenyum tipis."Masuklah!" Eva hanya mengangguk lalu segera masuk ke dalam rumah. Sedang Maura langsung melajukan mobilnya pergi dari sana. Plakk Satu tamparan langsung Maura terima begitu ia tiba di rumah. Wajar neneknya marah karena sekarang amukan om Gigah kembali terdengar. Bahkan sepertinya lebih parah dari sebelumnya. Rini langsung memeluk putrinya."Tenanglah, ibu. Apa yang dilakukan Maura tidaklah salah, ia hanya mengantar temannya pulang." "Dan membuat om nya kembali mengamuk dan melukai diri, begitukah?"bentak Anne. Baru saja ia mendapat harapan tapi sudah dipatahkan. Maura menggeleng sambil menangis."Tapi Eva harus pulang, nek. Ia punya ibu yang sakit-sakitan dan tidak mungkin ditinggal lama." Anne langsung melotot."Ibunya sakit apa?" Maura menggeleng tanda tak tahu lalu menceritakan keadaan keluarga Eva. Awalnya tujuan Maura mengatakan semua itu agar neneknya kasihan dan tidak mencoba merepotkan Eva lagi. Tapi ternyata wanita tua itu punya niat lain. "Jadi Eva perlu uang untuk pengobatan ibunya dan juga kuliah?"tanya Anne membuat Maura mengangguk. Anne langsung tersenyum lalu segera naik ke atas ke kamar putranya. Di mana Gigah masih mengamuk dan coba ditenangkan oleh beberapa orang termasuk suaminya. "Pah."tarik Anne membuat Arifin mengikuti istrinya. "Ada apa, mah? Apa Maura sudah menjemput Eva kembali?"tanya Arifin. Anne menggeleng."Kita tidak bisa membawa Eva tinggal di sini begitu saja, pah." "Maksud mama?"tanya Arifin tak mengerti. "Eva perlu uang untuk pengobatan ibunya dan kita perlu gadis itu untuk putra kita. Mama rasa lebih baik kita lamar Eva untuk menjadi istri Gigah." Arifin langsung melotot."Tapi apa gadis itu mau?" "Harus mau. Mama yakin Eva tidak akan menolak uang dari kita."ucap Anne yakin membuat Arifin mengangguk. Apapun akan mereka lakukan untuk kesembuhan Gigah. Termasuk memaksa seorang gadis untuk menikahi putra mereka yang mengalami gangguan jiwa. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD