05

665 Words
Happy Reading! Eva menyentuh pipi Maura yang memerah, seperti bekas tamparan. "Pipimu kenapa?"tanya Eva cemas. Maura hanya menggeleng lalu bergumam pelan."Maaf." "Maaf untuk apa?"tanya Eva tak mengerti namun sesaat kemudian ia langsung paham. Anne dan Arifin langsung masuk meski tidak dipersilakan. "Pergilah dan tunggu di luar!"suruh Anne membuat Maura menggeleng. "Tapi, nek--" "Pergi!"tegas Anne membuat Maura mau tak mau akhirnya melangkah pergi. Sedang Eva hanya bisa menyiapkan diri. Ia tahu tujuan kakek dan nenek Maura datang pasti karena om Gigah. Entah apa yang terjadi pada pria itu saat ia pulang. Anne menghela napas pelan sambil memperhatikan rumah yang calon menantunya itu tempati. Sangat kecil dan menyesakkan, harusnya tawaran uang akan berguna. "Kakek dan nenek mau teh atau---" "Tidak perlu."potong Anne cepat membuat Eva diam. "Langsung saja, kami datang ke sini untuk melamarmu."ucap Arifin membuat Eva melotot. Mereka bahkan belum duduk, tapi sudah mengatakan sesuatu yang mengagetkan. "A-apa?" "Biaya kuliah, pengobatan ibumu, rumah mewah dan biaya hidup. Semua itu akan kami berikan asal kau mau menikah dengan putra kami, Gigah."ucap Anne lancar. Eva langsung meremas jari-jarinya."Dari mana kalian tahu tentang---" "Itu tidak penting Eva. Kami hanya ingin mendengar jawabanmu, mau atau tidak?"tegas Anne. "Gigah adalah putra kami satu-satunya, dia pewaris keluarga Buana. Jika kau bisa membuatnya sembuh maka itu juga akan bagus untukmu. Tidak ada ruginya menikah dengan Gigah."ucap Arifin namun Eva malah menggeleng. "Terima kasih atas tawarannya tapi aku---" "Jika kau menolak maka akan kami pastikan tidak ada rumah sakit yang mau mengobati ibumu dan tidak ada orang yang akan menerimamu bekerja."ancam Anne. Sebenarnya ia tak mau bersikap kejam tapi basa basi hanya akan membuang waktu sementara di rumah putranya terus saja mengamuk. Eva benar-benar kehabisan kata-kata, ia dibuat tak bisa memilih. Baik kanan atau kiri, tujuannya tetap sama. Pada akhirnya jika ia menolak maka akan terus didesak untuk menerima. "Baiklah, aku mau."ucap Eva akhirnya. Lagipula tidak ada pilihan yang bisa ia ambil. Menikah dengan om Gigah juga termasuk menyelamatkan nyawa ibunya. Anne dan Arifin langsung menghela napas lega. "Tapi aku ingin tetap kuliah. Pengobatan ibuku juga harus yang terbaik dengan begitu aku juga akan memberikan yang terbaik untuk om Gigah."ucap Eva membuat Anne mengangguk. "Pasti,"sahut Anne lalu segera memeluk tubuh Eva."Terima kasih, Eva. Keluarga Buana pasti akan baik padamu." Eva hanya mengangguk. Setelah ini, kehidupannya pasti akan berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak perlu waktu lama, kini Eva sudah berada di dalam mobil menuju rumah keluarga Buana. Tentu saja menenangkan om Gigah adalah hal pertama yang harus dilakukan. "Besok ibumu akan langsung dirawat di rumah sakit dan mulai menjalani pengobatan."ucap Anne membuat Eva mengangguk. "Terima kasih, nenek." "Jangan panggil nenek. Panggil ibu saja agar Gigah tidak curiga."ralat Anne membuat Eva lagi-lagi mengangguk. 'Semoga saja Maura bisa menemukan alasan kenapa aku harus pergi malam-malam seperti ini.' batin Eva karena tadi ibunya sedang istirahat dan ia tak sempat pamit. Namun ada Maura yang tinggal untuk menjaga sekaligus menjelaskan kenapa ia tidak ada di rumah. Begitu mobil berhenti, Eva langsung di arahkan untuk segera menemui Gigah yang ada di kamarnya. "Ibu, Gigah baru saja tertidur karena obat penenang."beritahu Rini membuat Eva mengangguk. "Apa kamarnya masih berantakan?"tanya Anne. Karena setiap kali mengamuk, Gigah pasti merusak apa saja yang ada di dalam kamar. Rini mengangguk."Pelayan sedang membersihkannya jadi sebaiknya Eva istirahat dulu di kamar lain." Anne mengangguk lalu menatap Eva."Istirahatlah dulu karena jika Gigah bangun, kau pasti perlu kesabaran extra untuk menghadapinya." Rini langsung menarik tangan Eva menuju kamar yang sudah ia siapkan. "Apa nanti aku harus tidur satu kamar dengan om Gigah?"tanya Eva membuat Rini mengangguk. "Karena Gigah menganggapmu sebagai istrinya maka mau tidak mau kalian harus tidur satu kamar. Tapi kau harus menolak jika Gigah meminta untuk melakukan hubungan suami istri." Tubuh Eva langsung menegang."Tapi bagaimana cara menolaknya?" Rini tersenyum lalu mengusap lengan Eva."Tante tahu kau pintar jadi cobalah untuk memikirkan beberapa alasan. Jangan biarkan Gigah menyentuhmu sebelum kalian benar-benar sah." Setelah tiba di kamar, Eva langsung mengunci pintunya. "Om Gigah kan gila, harusnya tidak mungkin kan bisa menyentuh seorang wanita."gumam Eva. Iya, itu tidak mungkin. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD