06

803 Words
Happy Reading! Eva langsung membuka mata saat mendengar suara gaduh di luar. Seperti ada yang memukul dan menendang pintu. "Gigah, tenanglah! Istrimu pasti sedang tidur. Jangan membuat kegaduhan dan membangunkannya." "Bohong. Istriku tidak ada di dalam kan? Kalian pasti berbohong." Eva langsung menggigil ketakutan saat mendengar teriakan om Gigah. Tapi ia tidak bisa terus diam seperti ini. Ibunya akan mulai dirawat besok dan ia juga harus menjalankan kewajibannya. 'Semoga om Gigah tidak memukulku.' batin Eva lalu segera membuka pintu. Ceklek "Mas.. " Eva rasanya hampir kehabisan napas saat tubuhnya tiba-tiba saja dipeluk dengan erat. "Sakit, mas."rintih Eva membuat pelukannya seketika langsung melonggar. "Jangan pergi lagi. Mas mohon jangan pergi lagi."mohon Gigah membuat Eva mengangguk. Kasihan juga kalau melihat om Gigah memohon seperti ini bahkan pria itu sampai menangis. "Aku tidak pergi ke mana-mana, mas. Aku dari tadi tidur di sini."bohong Eva. "Tidur di sini?"tanya Gigah bingung. Eva mengangguk lalu mengusap air mata om Gigah."Apa mas tadi mencariku?" Gigah mengangguk membuat Eva tersenyum. "Maaf ya karena membuat mas khawatir. Lain kali tidak akan ku ulangi lagi."ucap Eva lembut membuat Gigah perlahan mengangguk. Semua orang yang melihat itu langsung merasa lega. Sepertinya keputusan untuk membawa Eva tinggal di sini sudah tepat. Jika terus seperti ini maka cepat atau lambat Gigah pasti akan sembuh. "Benar mas tidak marah?"tanya Eva membuat Gigah kembali mengangguk. "Ayo kembali ke kamar!"ajaknya namun Eva langsung menggeleng. Untuk saat ini lebih baik kurangi aktivitas di dalam kamar. Eva takut ia khilaf eh maksudnya om Gigah yang khilaf. "Kita makan dulu ya baru setelah itu nonton film."ucap Eva yang untungnya langsung disetujui oleh Gigah. Mendengar hal itu membuat Anne langsung semangat meminta pelayan menyiapkan makan malam. Sudah lama mereka tak makan bersama di meja makan. Dan hari ini karena Eva, putranya mau makan tanpa dipaksa. Benar-benar luar biasa. Di meja makan, Gigah benar-benar melayani Eva dengan baik. Mulai dari mengambilkan nasi dan lauknya sampai membantu membersihkan duri ikan. "Mas tidak mau makan?"tanya Eva lembut. Tidak enak juga kalau makan dilayani seperti ini, dilihat banyak orang pula. Gigah menggeleng."Mas akan makan setelah kamu selesai." "Tapi--" "Setelah kamu selesai."ulang Gigah membuat Eva mengangguk dan segera makan dengan cepat. Namun setelah ia selesaipun, Gigah tak menyentuh makanannya juga. "Apa kamu ingin makanan yang lain, nak? Mama akan minta pelayan untuk menyiapkannya."tanya Anne lembut. Gigah hanya menggeleng dengan mata yang tak lepas dari Eva. Dia harap istrinya mengerti dengan apa yang diinginkannya. 'Duh.. Jangan-jangan mas Gigah mau disuapi.' batin Eva. "Mas Gigah tidak lapar ya?"tanya Eva. "Lapar."sahut Gigah cepat. "Kalau begitu cepat makan."suruh Eva lalu membantu mengambilkan makanan. "Mau disuapin."ucap Gigah membuat gerakan Eva seketika terhenti. Sebenarnya om Gigah itu gangguan jiwa atau kembali menjadi anak-anak sih. Kok jadi manja? "Ya sudah. Suapin saja yang penting Gigahnya mau makan."ucap Anne lalu mengajak semua orang untuk pergi dari sana. Tentu saja mereka tahu kalau Eva merasa malu. Setelah hanya tinggal berdua, Eva mau tak mau menyuapi om Gigah. "Mas kan sudah besar harusnya bisa makan sendiri."ucap Eva. "Iya. Sudah besar dan bisa jadi ayah." Pranggg Piring yang dipegang Eva seketika meluncur ke lantai dan pecah. Anne yang masih berada tidak jauh dari sana langsung saja berlari. Ia takut Gigah mengamuk lagi tapi yang dilihat malah putranya sedang menggendong Eva. "Ada apa?"tanya Anne lalu melihat piring pecah dengan makanan berserakan di lantai. "P-piringnya pecah, ibu."beritahu Eva gugup. Gigah langsung saja membawa istrinya pergi dari sana tanpa mengatakan apapun. "Mau ke mana? Mas kan belum makan."tanya Eva bingung. "Ke kamar." "Aku mau nonton film."jerit Eva membuat langkah Gigah terhenti. Eva pikir ia akan dibentak tapi ternyata malah dicium. "Kita nonton di kamar."ucap Gigah setelah mencium kening istrinya. "Tapi tv di kamar mas kan rusak." untungnya Eva ingat kalau tadi siang barang elektronik itu sudah pecah karena diamuk om Gigah. "Nonton di ruang keluarga saja!"suruh Anne membuat Gigah segera melangkah menuju ruang keluarga. Dengan lirikan matanya Gigah melarang siapapun mendekat membuat anggota keluarga langsung memilih kembali ke kamar masing-masing. Mereka akan percayakan Gigah sepenuhnya pada Eva. Setelah film diputar, Eva benar-benar tidak fokus. Bagaimana tidak? Sekarang posisinya benar-benar tidak aman. Om Gigah benar-benar tidak melepaskan pelukannya bahkan tangan pria itu juga aktif mengusap perut Eva. Entah apa yang pria itu pikirkan. "Mas benar-benar ingin punya anak."bisik Gigah membuat tubuh Eva menegang. "Anak perempuan yang cantik."bisik Gigah lagi membuat Eva mendesis kesal. "Jangan berisik, mas. Aku mau nonton."omel Eva dan itu berhasil membuat Gigah diam. Tapi meski pria itu diam, pikiran Eva sudah melayang ke mana-mana. Om Gigah ingin punya anak lalu apa pria itu juga tahu cara membuatnya? 'Ya ampun.' keluh Eva lalu melotot saat film yang diputar menampilkan adegan ciuman. Benar-benar gawat apalagi wajah om Gigah seperti berubah warna, memerah total. Aku harus bagaimana? Batin Eva lalu langsung menutup mata. Lebih baik ia pura-pura tidur. Hanya orang gila yang menyerang wanita saat tidur. Tapi om Gigah kan orang gila? Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD