Happy Reading!
Eva segera masuk ke dalam kamar mandi lalu menghela napas lega. Satu malam sudah terlewati tapi bagaimana dengan malam-malam selanjutnya? Apa ia akan lolos lagi mengingat tadi malam saja sudah hampir terjadi hal yang tidak diinginkan.
'Aku harus memikirkan cara agar om Gigah tidak pernah menyentuh ku.' batin Eva. Tapi apa? Otaknya benar-benar buntu.
Tok tok
"Sayang, buka pintunya!"
Eva langsung menghela napas. Minta ijin ke kamar mandi susahnya minta ampun, setelah masuk pun baru dua menit sudah dipanggil.
"Mas, aku mau mandi."teriak Eva. Setidaknya hanya di kamar mandi ia punya waktu untuk menenangkan diri.
"Mas juga mau mandi."
Eva langsung melotot saat mendengar balasan om Gigah. Apa maksud pria itu ingin mereka mandi bersama? Benar-benar gila.
"Iya. Aku dulu baru nanti mas yang mandi."teriak Eva lalu segera berpura-pura menyalakan air.
"Tidak mau. Cepat buka pintunya atau mas dobrak."
Eva langsung mematikan keran air lalu menghirup napas dalam-dalam lalu berkata."Mas, aku hanya sebentar."
"Satu, dua, tig--"
Tak punya pilihan lain, Eva langsung saja membuka pintu kamar mandi dan Gigah dengan cepat masuk ke dalam.
"Mas?"kaget Eva campur takut.
Gigah tersenyum lalu segera memojokkan tubuh Eva ke dinding.
"Ughh mas!"jerit Eva lalu berusaha memberontak namun itu tak berhasil. Jelas saja dari ukuran tubuh dan perbedaan jenis kelamin, Eva kalah telak.
Gigah mengusap pipi istrinya dengan lembut."Mas mencintaimu, sayang."ucapnya lalu segera menyatukan bibir mereka.
Awalnya hanya penyatuan biasa namun lama kelamaan berubah jadi lumatan. Eva bahkan tak bisa mengimbanginya. Ia terlalu kaku untuk om Gigah yang dominan.
"Emmpp mas hmmm" Eva mencoba memukul dan mendorong, namun tubuh om Gigah bahkan tidak bergerak sedikit pun.
'Aku harus mencari alasan untuk menghentikan om Gigah.' batin Eva lalu mendesah saat bibir Gigah mulai turun ke lehernya bahkan seperti meninggalkan beberapa tanda di sana.
"Ughh mas berhentiii.. "jerit Eva namun Gigah tak peduli. Bahkan kini dia telah berhasil melepas pakaian mereka.
Eva mulai menangis. Ia tidak mau kehilangan kesuciannya dengan cara seperti ini.
"Jangan menangis, sayang."bisik Gigah lalu menjilat air mata Eva dengan gerakan pelan.
Eva memberanikan diri mendorong d**a om Gigah."Jangan ya, mas. Tolong berhenti."pintanya lemah.
"Alasannya? Berikan mas alasan!"tanya Gigah membuat Eva meringis. Ia sama sekali tak punya alasan yang bisa disampaikan.
Gigah meremas salah satu aset milik istrinya lalu bermain seperti dia mengulen adonan.
"Kita sudah menikah dan sudah seharusnya seorang istri melayani suami. Lalu kenapa sayangku menolaknya? Apa karena kau mau pergi lagi dan bertemu pria lain di luar sana?"tanya Gigah dengan suara rendah namun itu justru terdengar lebih menakutkan.
Eva menelan ludah kasar lalu berusaha tersenyum."A-aku ada kuliah pagi, mas. Tidak akan sempat---ini saja sudah hampir telat."
Gigah mengernyit."Kamu kuliah?"kagetnya.
Eva langsung membeku. Jujur saja ia tak tahu pasti alasan om Gigah menganggap dirinya sebagai istri. Karena kalau mengingat cerita Maura dulu, istri yang meninggalkan om Gigah itu tinggi, putih dan seksi. Sangat berbeda dengan dirinya yang terbilang cukup pendek dan tidak ada seksi-seksinya.
'Om Gigah harusnya tidak mungkin berpikir aku adalah istrinya. Secara dari fisik saja kami berbeda.' batin Eva. Tapi itu kalau orang pikiran normal, tidak tahu kalau om Gigah.
Cupp
"Kenapa diam? Mas tanya kamu kuliah?"tanya Gigah setelah mencium bibir istrinya.
Eva mengangguk pelan. Ciuman tadi harusnya membuktikan kalau om Gigah tidak terpengaruh dengan statusnya yang masih kuliah.
"Iya, mas. Sudah semester empat."ucap Eva jujur.
"Berhenti saja!"
Deg
Eva langsung melotot. Enak saja langsung menyuruhnya berhenti.
"Tapi, mas--"
"Mas ingin punya anak segera. Kalau kamu kuliah, kapan hamilnya."ucap Gigah.
Eva terdiam memandang wajah om Gigah.
"Mas ingat tanggal pernikahan kita?"tanya Eva. Tiba-tiba saja ia ingin tahu apa yang membuatnya dianggap sebagai istri. Pasti ada alasannya kan?
Gigah diam seolah bingung.
"Jawab, mas!"desak Eva. Dari tanggal pernikahan, Eva bisa mencoba menerka kira-kira sebenarnya ia dianggap sebagai siapa.
"24 september."jawab Gigah membuat Eva mengernyit. Meski tak tahu tanggal pastinya tapi Eva yakin itu bukan tanggal pernikahan om Gigah dengan istri yang meninggalkannya dulu. Karena seingat Eva pernikahan om Gigah itu awal tahun, antara bulan satu atau dua.
"Tahunnya?"tanya Eva lagi.
"Dua ribu dua tiga."
Dua tahun lalu? Batin Eva. Benar-benar tidak masuk akal. Apa jangan-jangan om Gigah sembarang menyebut tanggal, pikir Eva.
"Kalau tanggal lahirku, apa mas tahu?"tanya Eva. Dari tanggal lahirnya nanti Eva akan tanyakan pada Maura, kira-kira siapa perempuan yang lahir di tanggal itu.
"Dua belas juli."sahut Gigah membuat Eva langsung melotot.
Itukan tanggal lahirku, batin Eva. Kenapa bisa kebetulan sekali?
Bersambung