08

723 Words
Happy Reading! "Jadi om Gigah menyebut tanggal lahirmu?"kaget Maura. Eva mengangguk."Apa om Gigah pernah dekat dengan seorang gadis yang tanggal lahirnya sama denganku?" "Tidak, seingatku tidak. Om Gigah hanya pernah dekat dengan satu perempuan dan itu wanita yang meninggalkannya setelah pernikahan."ucap Maura. Ia yakin sekali. "Lalu kenapa om Gigah bisa menyebut tanggal lahirku. Apa itu hanya kebetulan?"gumam Eva. Maura juga tidak mengerti."Nanti aku akan coba tanyakan pada nenek. Siapa tahu ada sesuatu yang tidak aku ketahui." "Ya, begitu saja. Jangan lupa unt---" "Sayang." Eva dan Maura langsung menegang karena sepertinya mereka berdua mendengar suara om Gigah. Tapi mana mungkin, mereka kan ada di lingkungan kampus. Tepatnya di kantin sambil menunggu jam mata kuliah kedua. Namun wajah Gigah benar-benar muncul di hadapan keduanya dan itu langsung membuat Eva kaget. "O-om Gigah?"panggil Maura pelan. "Pergi!"usir Gigah pada keponakannya itu. Eva menggeleng pelan namun Gigah sudah melayangkan tatapan ancaman membuat Maura mau tak mau harus beranjak pergi. "Kenapa om ke sini?"tanya Eva pelan dan langsung disuguhi tatapan tajam oleh Gigah. "Om? Kau memanggil suamimu om?"tanya Gigah marah dan itupun dengan suara keras. Eva seketika langsung berdiri dan menarik lengan om Gigah menjauh dari sana. Mereka harus bicara di tempat sepi. "Kenapa mas ada di sini?"tanya Eva lagi setelah mereka berada di tempat sepi. "Apa tidak boleh?"tanya Gigah membuat Eva menghela napas. "Ini kampus, mas. Hanya dosen dan mahasiswi yang boleh ada di sini."jelas Eva membuat Gigah diam. "Kenapa mas diam?"tanya Eva lagi. "Mas merindukan mu karena itu datang ke sini."ucap Gigah membuat Eva terhenyak. "Rindu? Aku baru pergi selama dua jam, mas."ucap Eva tak habis pikir. "Dua jam itu lama, sayang. Lagipula kamu juga tidak menjawab telpon dari mas. Padahal perjanjiannya boleh kuliah asal kapanpun mas telpon kamu akan menjawabnya."ucap Gigah membuat Eva mengusap kepalanya. Iya memang setuju untuk menjawab panggilan pria itu kapan saja. Tapi masa iya baru lima langkah keluar dari rumah, sudah ditelpon. "Maaf ya, mas. Sekarang mas pulang ya."bujuk Eva. Sekarang jalan satu-satunya hanya membujuk om Gigah pulang. "Tidak. Mas datang karena ingin menjemput mu."tolak Gigah membuat Eva melotot. "Tapi aku masih ada satu mata kuliah lagi. Mas tidak mungkin menunggu, jadi---" "Mas akan menunggu."ucap Gigah penuh keyakinan. "Tapi kelasnya akan lama. Nanti mas bosan kalau menunggu." "Kalau lama sebaiknya ikut mas saja. Kita makan lalu belanja. Katakan saja apapun yang kamu inginkan, mas akan membelikannya."ucap Gigah lalu memamerkan beberapa kartu hitam miliknya. Eva menatap semua kartu itu. Sebenarnya om Gigah itu gila atau tidak? "Sebentar lagi aku harus masuk kelas, mas. Dosennya akan marah jika aku terlambat. Jadi aku moh---" "Mas akan memukul siapapun yang berani memarahimu."potong Gigah membuat Eva terdiam. "Mas, dosen itu berhak marah. Apalagi aku adalah mahasiswinya jadi harus menurut."ucap Eva menjelaskan. Jangan sampai om Gigah bertindak gila dengan memasuki kelas dan memukul dosen yang mengajar. Gigah mengangguk."Jadi kau harus menurut dengan dosenmu?" "Iya. Nah sekarang mas pulang dulu. Aku janji setelah jam kuliah selesai akan langsung pulang."bujuk Eva dan Gigah mengangguk. Lagipula percuma dia mendebat. Istrinya lebih menurut dengan dosen dibanding suami sendiri. Eva langsung menghela napas lega."Ya sudah. Hati-hati ya, mas." "Iya."balas Gigah namun dia langsung mencegah saat istrinya mau pergi. "Mas, aku harus masuk kelas."ucap Eva. Padahal pria itu tadi sudah menggangguk, masa iya sudah berubah pikiran. "Cium dulu!"pinta Gigah membuat Eva melotot. "Mas, ini di kampus."ucap Eva pelan. "Mas tahu. Tapi sekarang tidak ada orang di sini." "Tapi ada cctv."tunjuk Eva membuat Gigah berdecak. "Cium atau kau tidak bisa masuk ke dalam kelas."ancam Gigah membuat Eva melotot. "Mas, aku mohon."pinta Eva memelas. "Cium!"titah Gigah sambil menunjuk bibirnya dan Eva hanya bisa menghela napas. "Sekali saja ya?"pinta Eva dan Gigah mengangguk. Cupp Setelah melayangkan satu ciuman, Eva langsung berlari pergi. Sedang Gigah hanya mendesah kesal. Dia minta cium di bibir bukan di pipi. Tidak lama setelah Eva pergi, seorang pria paruh baya datang mendekat. "Tuan Gigah."sapa pria itu sopan. Gigah mengangguk."Aku ingin menjadi dosen dan mengajar khusus di kelas istriku."ucapnya. "Baik, tuan." "Dan satu lagi, suruh dosen yang mengajar di kelas istriku untuk keluar sekarang!" "A-apa? Tapi pak Darwin baru saja masuk kelas." Gigah langsung menatap pria tua yang selama ini selalu setia padanya dan menjalankan perintah tanpa kesalahan. "Aku ingin pulang bersama istriku, jadi suruh dosen itu untuk keluar sekarang!"titah Gigah tegas. "Baik, tuan." Gigah langsung tersenyum manis. Istrinya menurut dengan dosen maka dia akan menjadi dosen. Dosen yang baik hati dan tampan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD