09

912 Words
Happy Reading! Eva mengernyit saat menyadari bahwa mereka melewati jalan yang tidak benar. Harusnya tadi mereka belok kanan, tapi kenapa malah lurus. 'Jangan-jangan penyakit om Gigah kumat dan melupakan jalan pulang.' batin Eva lalu memberanikan diri untuk menegur. "Mas, sepertinya kita salah jalan." Gigah hanya tersenyum."Tidak, ini jalan yang benar." Eva menggeleng."Harusnya tadi kira belok kanan, mas." "Belok kanan untuk apa?" "Tentu saja pulang ke rumah."sahut Eva membuat Gigah tertawa. "Mas.. "cicit Eva takut. Ia langsung mencengkeram sabuk pengaman lalu perlahan mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Aku harus mengirim pesan pada Maura dan meminta tolong, batin Eva namun belum ia mengirim pesan. Ponsel dan tas nya sudah direbut dan di lempar ke belakang. "Kita akan menginap di hotel malam ini." "APA?"kaget Eva. Bahkan ia tanpa sadar telah berteriak. Gigah langsung mengambil tangan istrinya untuk dia genggam."Iya sayangku. Kita akan menghabiskan malam bersama di hotel." Eva langsung menarik tangannya."Mas, aku mau pulang. Aku tidak mau menginap di hotel." Gigah hanya diam. Lagipula ini bukan sesuatu yang bisa diputuskan oleh istrinya. Saat mobil memasuki area hotel, Eva benar-benar dibuat gemetar. Bagaimana jika om Gigah meminta mereka untuk berhubungan intim? Aku harus kabur, pikir Eva. Namun saat ia membuka pintu mobil dan berniat lari, tiga orang pria bertubuh besar menunggunya di depan pintu. "Selamat datang, nyonya."ucap ketiganya sopan dengan tubuh menunduk. "Mereka akan berjaga di depan pintu kamar kita malam ini."ucap Gigah yang sudah merangkul pinggang istrinya. "B-berjaga untuk apa?"tanya Eva pelan. Gigah tersenyum lalu menunduk agar bisa berbisik di telinga istrinya."Agar tidak ada yang bisa kabur." Deg Kaki Eva benar-benar langsung terasa lemas. "Sayang, ada apa?"tanya Gigah cemas saat melihat istrinya melamun. Eva langsung menggeleng."Mas, ayo kita pulang."pinta Eva memelas. "Kamu sudah pulang." "Belum. Ini bukan rumah, mas."ucap Eva panik. Gigah langsung mengusap kepala istrinya lalu tersenyum manis."Rumah seorang istri adalah suaminya. Jadi di mana pun kita berada asal bersama dengan mas, maka itu sudah bisa disebut pulang." "Tapi--- arghhh" Eva langsung menjerit saat tubuhnya tiba-tiba saja digendong lalu dibawa memasuki hotel dengan langkah lebar. "Kita akan menginap selama beberapa hari."ucap Gigah dan otomatis membuat tubuh Eva memberontak. "Tidak, mas. Aku mau pulang. Tolonggg!"teriak Eva. Ia bahkan sudah memberi kode kalau dirinya dalam bahaya tapi tidak ada satupun yang peduli. Gigah melangkah memasuki lift lalu menekan tombol menuju lantai paling atas. "Mas, aku mohon. Kita tidak boleh. Kita tidak bisa melakukan itu."jerit Eva namun Gigah tidak peduli. Begitu pintu lift terbuka, Gigah langsung melangkah menuju satu-satunya pintu yang ada di lantai itu. Begitu pintu terbuka, Eva langsung saja berpegangan dan tidak membiarkan tubuhnya dibawa masuk. "Mas, aku mau pulang. Aku tidak mau tinggal di sini."pinta Eva memelas. Gigah segera menurunkan tubuh istrinya dan kesempatan itu langsung dimanfaatkan Eva untuk kabur. Namun belum sempat melangkah tangannya sudah tertangkap dan tubuhnya langsung di peluk. "Lepassss!"jerit Eva kencang. "Beberapa hari ini mas tidak bisa tidur dengan nyenyak. Jadi mengajakmu menginap di sini agar bisa beristirahat dengan nyaman."bisik Gigah membuat tubuh Eva perlahan tenang. "Jadi kita hanya akan tidur?" Gigah mengangguk."Mas bahkan sudah mengantuk sekarang." Eva akhirnya menghela napas lega."Kenapa mas tidak bilang kalau cuma mau tidur." "Kalau bukan tidur, lalu mau lakukan apa?"tanya Gigah membuat Eva menggigit bibir bawahnya. "A-aku pikir mas mau itu."gumam Eva pelan. Gigah langsung menyentil hidung istrinya."Mas tidak akan melakukan apapun kecuali kamu yang memintanya." "Benarkah?"tanya Eva antusias. Om Gigah tidak mungkin jadi sebaik ini kan? "Iya. Jadi jangan khawatirkan apapun. Lagipula hanya orang gila yang akan memperkosa istri sendiri."ucap Gigah santai membuat Eva tertawa. Benar juga. Akhirnya Eva ikut masuk meski masih waspada tapi tidak setakut tadi. 'Untungnya tadi Maura memberiku obat tidur. Jadi nanti saat makan siang, aku akan memasukkan obat ini ke minuman om Gigah.' batin Eva. Nanti jika om Gigah bangun, maka tinggal ia berikan obat tidur lagi. Hanya itu satu-satunya cara untuk selamat. Setelah mengunci pintu dan memastikan anak buahnya berjaga di luar, Gigah langsung saja berbaring di atas tempat tidur dan memejamkan matanya. Eva yang melihat itu langsung saja menghela napas lalu segera melangkah menuju sofa dan tidur di sana. Malam harinya. "Sayang, bangun." "Enghhh"lenguh Eva. Awalnya ia tak mau bangun meski dipanggil namun setelah merasakan beberapa ciuman, mau tak mau Eva segera membuka matanya. "M-mas?"kaget Eva lalu segera bangun. Ia jadi lebih kaget saat mengetahui kalau tubuhnya ternyata ada di atas tempat tidur, dan-- "Arghhhh.. Bajuku. Siapa yang mengganti bajuku?"jerit Eva panik lalu menatap satu-satunya pria yang ada di kamar itu. "Mas yang gantikan. Lagipula tidak enak tidur dengan baju seperti itu."ucap Gigah sambil menunjuk sofa, di sana ada pakaian yang tadi istrinya kenakan. Eva langsung memeluk tubuhnya sendiri."Mas yang gantikan?"tanya Eva dengan mata berkaca-kaca. "Iya. Tidak perlu berterima kasih karena mas melakukannya agar kamu bisa tidur dengan nyaman."ucap Gigah seolah tidak terjadi apapun. "Mas melihat tubuhku?"tanya Eva lagi dengan air mata yang mulai berjatuhan. Gigah mengangguk lalu mengangkat tangan untuk menghapus air mata istrinya namun belum ibu jarinya bekerja, sebuah tamparan tiba-tiba saja mendarat di wajahnya. Eva terisak keras lalu mengayukan tangannya kembali.. Plakkk "Aku tahu kalau om gila. Tapi menggantikan pakaian seorang gadis, itu sudah masuk pelecehan."teriak Eva membuat Gigah terkejut. "Om gila? Siapa yang kau panggil om gila?"balas Gigah berteriak. Dan sekarang malah Eva yang terkejut. Tangisannya bahkan langsung berhenti. "M-mas.. "cicit Eva ketakutan. Ia bahkan langsung bergerak mundur namun kakinya malah ditarik dan tubuhnya seketika ditindih. Gigah tersenyum licik lalu mengusap bibir Eva yang bergetar karena ketakutan. Malam ini akan Gigah pastikan kalau Eva akan menerima benih terbaiknya. Istrinya itu harus hamil agar mereka punya pengikat dan tidak terpisahkan. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD