Bab 163

2844 Words

Setelah Irna mengizinkan Samira berbicara dengan Arini, keduanya kini duduk di taman belakang rumah. Semilir angin menggerakkan dedaunan yang menaungi bangku kayu tempat mereka berada. Suasananya tenang, tetapi keheningan yang menggantung di antara keduanya justru terasa menyesakkan. Samira beberapa kali menatap Arini diam-diam, masih sulit mempercayai kenyataan bahwa perempuan yang selama ini ia benci ternyata adalah putri kandung Irna, besannya sendiri yang selama ini begitu ia segani. “Ah, Arini, Tante minta maaf karena selama ini sudah benci sama kamu.” Samira bertutur lembut. Suaranya jauh berbeda dibanding dulu, tidak lagi dipenuhi nada angkuh yang selalu membuat Arini merasa kecil. Kini yang tersisa hanya penyesalan yang perlahan menggerogoti hati wanita paruh baya tersebut.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD