Bab 156

2634 Words

Angga terdiam beberapa saat seperti ragu untuk menjawab. Ia sempat melirik Arini sekilas sebelum kembali menaruh atensinya pada Irna. Ada keraguan yang lewat di wajahnya, seakan sedang mempertimbangkan apakah cerita itu pantas dibahas di sepan perempuan tersebut. “Mama sakit, Tante,” ujarnya akhirnya. “Makanya nggak pernah ikut acara lagi.” Kening Irna berkerut tipis. Tangan yang semula bertumpu di tasnya ikut turun ke siis tubuh. “Sakit apa, Ngga? Kenapa nggak ada yang kabarin?” “Jantung, Tante. Mama masih kontrol rutin.” Angga menggaruk dahinya yang tidak gatal sambil tersenyum tipis. “Belakangan kondisinya memang lagi turun. Jadi lebih banyak istirahat di rumah dan jarang menerima tamu.” Arini yang sedari tadi berdiri di samping Rania perlahan menundukkan pandangan. Ibu jarinya men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD