Pagi hari.... Suasana kamar berukuran sedang itu terlihat lengang. Sesekali terdengar rintihan dari bibir perempuan yang tengah terpejam di atas ranjang. Arini masih demam pagi ini. Bahkan, suhunya jauh lebih tinggi daripada semalam. Luka bekas cambuk semalam ternyata meradang. Belum lagi luka-luka yang lain juga terlihat jelas. Tubuh ringkih itu menopang beban terlalu besar. Terlalu sakit untuk diabaikan. Mbok Sarni masih setia menemani di sampingnya. Wanita paruh baya itu terlihat meringis ketika melihat bagaimana tak berdayanya perempuan cantik bernasib malang di depannya. Hatinya teriris. Terlebih, wajah Arini lebih dari sekadar pucat pasi. Di nakas, terdapat semangkuk bubur yang sengaja dibawa oleh Mbok Sarni beberapa menit lalu. Asap panas masih mengepul. Entah sudah berapa ka

