Bab 149

2804 Words

Arini menggeleng pelan. “Nggak bisa, Mas. Saya beneran masih harus cek stok gudang buat belanja ulang besok.” Sadewa masih berdiri di tempatnya. Ia tidak membalas penolakan Arini. Tatapannya tetap menunggu. Di wajah pria itu, ada keinginan yang terlihat jelas untuk tetap berbicara malam ini juga. Seolah jika kesempatan itu dilepas, maka banyak hal akan kembali terkubur tanpa pernah sempat dibicarakan. Arini tahu arti tatapan itu. Sadewa tidak akan mudah menyerah. Namun, ia juga tidak ingin terus berada dalam situasi yang membuat semua orang di ruangan itu memperhatikan gerak-geriknya. “Besok saja, Mas,” ucap Arini lagi, kali ini lebih pelan. “Saya capek.” “Bicara saja, Rin. Nggak apa-apa.” Suara Irna tiba-tiba terdengar, membuat Arini menoleh. Wanita itu duduk dengan wajah tenang, seol

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD