Narsih menunduk makin dalam. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan, sementara Yudi memilih diam sejak tadi. Keduanya tahu pertanyaan itu pasti akan datang cepat atau lambat. Hanya saja, mendengarnya secara langsung tetap terasa menyakitkan. “Waktu itu kami cuma pengen punya anak, Pak,” jawab Narsih lirih. “Saya sudah lima tahun menikah, tapi nggak dikasih keturunan. Rahim saya juga sudah diangkat. Bude Darmi yang nyaranin buat adopsi anak dari panti asuhan.” “Keinginan punya anak itu bukan alasan untuk mengambil tanggung jawab yang nggak mampu ditanggung.” Kali ini suara Raka terdengar lebih tegas. “Anak bukan benda yang cukup dikasih makan lalu selesai. Mereka butuh pendidikan, kesehatan, masa depan yang layak, dan rasa aman.” Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar

