Bab 151

2581 Words

Yudi tidak langsung melanjutkan ucapannya. Pria tua itu berjalan mendekat beberapa langkah, sebelum akhirnya berhenti di dekat wastafel yang masih basah. Tatapannya jatuh ke wajah Arka yang terlihat jauh lebih kusut dibanding biasanya. Untuk sesaat, Yudi seperti sedang menyusun kalimat yang tepat agar apa yang ingin ia sampaikan tidak terdengar sebagai tuduhan ataupun paksaan. “Begini, Nak Arka.” Yudi menarik napas dalam-dalam. Bahunya yang mulai membungkuk tampak naik turun perlahan. “Sekarang sudah jelas kalau Arini dan Anita punya hubungan sebagai saudara kandung.” Kalimat itu keluar pelan, tetapi cukup untuk membuat rahang Arka kembali mengeras. Pria tersebut memalingkan wajah sesaat. Pandangannya jatuh ke lantai keramik yang memantulkan cahaya lampu putih di atas kepala mereka.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD