Anindya masih berdiri di depan pintu kamar utama.
Tangannya menggenggam gagang pintu begitu erat sampai buku-buku jarinya memucat. Jantungnya berdetak pelan, tidak panik, justru terlalu tenang,seperti seseorang yang sudah terlambat untuk lari.
“Pelan-pelan, sayang… jangan di sini.”
Suara itu kembali terdengar. Perempuan. Manja. Tanpa rasa bersalah.
“Kenapa?” suara Fahri menyusul, rendah dan malas. “Takut ketahuan?”
“Iya,” perempuan itu terkikik. “Tapi istrimu pulang malam, kan?”
“Hm.” Fahri tertawa kecil. “Dia selalu sibuk. Dunia kerjanya lebih penting daripada suaminya.”
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan.
Anindya memejamkan mata sesaat.
Begitu mudahnya Fahri meremehkannya. Begitu ringannya ia menyingkirkan dua tahun pernikahan, seolah semua yang Anindya bangun hanyalah gangguan kecil dalam hidupnya.
“Istrimu nggak curiga?” tanya perempuan itu lagi.
“Dia terlalu percaya padaku.”
Kepercayaan itu mati.
Bukan retak.
Bukan luka.
Mati.
Anindya menarik napas dalam-dalam. Bau kamar itu menyusup keluar melalui celah pintu,parfum asing. Manis. Murahan. Bukan aroma rumahnya.
Tangannya bergetar pelan.
Bukan karena takut.
Karena marah.
Brak!
Pintu kamar terbuka lebar.
Fahri terlonjak seketika. Wajahnya berubah pucat seperti orang yang baru saja ditarik paksa dari mimpi buruk. Selimut tersibak. Perempuan di sampingnya menjerit kecil, refleks menutup tubuhnya.
“Nindya,!”
“Diam.”
Satu kata.
Dingin. Pendek. Tanpa nada.
Fahri langsung membeku.
Anindya melangkah masuk perlahan. Tidak tergesa. Tidak emosional. Ia melepas coat kerjanya, menggantungnya rapi di sandaran kursi, seolah ini hanya malam biasa.
Matanya menyapu ruangan.
Ranjang yang seharusnya menjadi tempat istirahatnya kini kusut. Seprai putih yang ia pilih sendiri kini berbau tubuh orang lain. Bantal yang sering Fahri peluk kini berada di bawah kepala perempuan asing.
Rasanya… menjijikkan.
“Ada sesuatu yang ingin kamu jelaskan?” tanya Anindya akhirnya.
Suaranya tenang. Terlalu tenang.
Fahri menelan ludah. “Aku,aku bisa jelasin.”
Perempuan di sampingnya menunduk, wajahnya setengah tersembunyi di balik rambut panjangnya.
“Kamu boleh pergi,” kata Anindya tanpa menoleh ke arah perempuan itu.
“T-tapi,”
“Sekarang.”
Nada itu tidak bisa dibantah.
Perempuan itu bergegas bangkit, menyambar pakaiannya, dan pergi tanpa menatap Anindya sedikit pun. Pintu kamar tertutup kembali, menyisakan mereka berdua.
Sunyi.
Hanya napas Fahri yang terdengar tidak beraturan.
“Aku khilaf,” ucap Fahri akhirnya, suaranya bergetar. “Aku salah… tapi,”
“Khilaf?” Anindya tersenyum kecil. “Khilaf sampai membawanya ke ranjang ini?”
Fahri menunduk. Bahunya merosot. “Aku kesepian, Nindya… kamu selalu sibuk. Kamu dingin. Aku merasa sendirian di rumah ini.”
Anindya mengangguk pelan, seolah mencerna setiap kata itu.
“Oh.” Ia melipat tangan di depan d**a. “Jadi sekarang aku tahu. Semua ini salahku.”
“Bukan,bukan begitu maksudku…”
“Tapi itu yang kamu katakan.” Tatapannya menusuk. “Kamu berselingkuh karena aku bekerja. Karena aku tidak duduk diam menunggumu pulang.”
Fahri terdiam.
“Aku cuma manusia,” katanya lemah.
“Benar,” sahut Anindya. “Dan manusia bisa memilih.”
Ia melangkah lebih dekat.
“Kamu memilih mengkhianatiku.”
Air mata mulai mengalir di wajah Fahri. “Aku butuh kamu… aku butuh keluarga kita utuh…”
Kata keluarga terdengar lucu sekarang.
Anindya mendekat lagi. Sangat dekat. Hingga Fahri bisa merasakan hawa dingin dari tubuhnya.
“Kamu butuh aku?” tanya Anindya pelan.
Fahri mengangguk cepat, putus asa. “Aku janji berubah. Aku janji ini yang terakhir.”
Anindya mengangkat tangannya.
Menepuk pipi Fahri pelan.
Bukan tamparan.
Lebih seperti penghinaan.
“Sayang?” katanya dingin saat Fahri refleks memanggilnya. “Jangan panggil aku begitu lagi.”
Fahri terisak.
“Kau bahkan tidak pantas menyebut namaku.”
Anindya mundur selangkah.
Lalu tersenyum.
Senyum yang membuat Fahri menggigil. Bukan senyum istri. Bukan senyum wanita terluka.
Senyum seseorang yang sudah mengambil keputusan.
“Kau tahu apa yang paling menyedihkan, Fahri?” ucap Anindya tenang. “Bukan perselingkuhanmu.”
Fahri menatapnya, berharap.
“Yang paling menyedihkan,” lanjut Anindya, “adalah kenyataan bahwa aku tidak lagi merasakan apa pun padamu.”
Ia berbalik, melangkah ke pintu.
“Mulai malam ini,” katanya tanpa menoleh, “kita bukan lagi suami-istri seperti yang kamu kenal.”
Pintu kamar tertutup di belakangnya.
Fahri terduduk di ranjang itu,ranjang pengkhianatan,dengan d**a sesak dan rasa takut yang baru benar-benar tumbuh.
Ia baru sadar.
Ia mungkin telah kehilangan segalanya.