Pagi datang tanpa memberi ruang bagi Anindya untuk menyesal.
Jam di dinding menunjukkan pukul 05.30 ketika ia bangun. Tidak ada mata sembap. Tidak ada kepala pening. Tidurnya bahkan nyenyak,seolah tubuhnya ikut lega setelah satu keputusan diambil.
Rumah terasa sunyi. Terlalu sunyi.
Anindya berjalan ke dapur, menuang air, lalu berdiri beberapa detik menatap pantulan dirinya di permukaan meja marmer. Wajah yang sama. Mata yang sama. Namun ada sesuatu yang berubah,keteguhan yang dulu ia simpan kini kembali menempati tempatnya.
Ia tidak menuju kamar utama. Tidak lagi.
Anindya mandi, berpakaian rapi, dan turun ke garasi. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Ia memilih berangkat lebih awal.
Di mobil, ponselnya bergetar.
Fahri.
Ia membiarkannya berdering hingga berhenti.
Kantor sudah hidup ketika Anindya tiba. Staf menyapanya dengan senyum hormat. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang berani bertanya.
Di ruang kerjanya, ia meletakkan tas, menyalakan laptop, dan membuka dokumen kosong.
Tangannya berhenti sejenak di keyboard.
Lalu ia mengetik judulnya dengan huruf kapital:
GUGATAN CERAI
Tidak ada tremor. Tidak ada jeda panjang. Jarinya bergerak cepat, seolah ia sudah menyiapkan semua ini sejak lama,sejak malam-malam ketika Fahri pulang terlambat dengan alasan rapat, sejak hari-hari ketika sentuhan itu mulai terasa asing.
Teleponnya kembali bergetar.
Fahri: Nindya… tolong. Kita bicarakan baik-baik.
Ia tidak menjawab.
Ia justru mengisi poin demi poin: alasan perceraian, bukti perselingkuhan, kepemilikan aset. Rumah. Mobil. Rekening. Semuanya jelas. Semuanya atas namanya.
“Bu,” sekretarisnya mengetuk pintu, “rapat pukul sembilan sudah siap.”
“Batalkan sepuluh menit,” ucap Anindya tanpa menoleh. “Saya ada urusan mendesak.”
“Baik, Bu.”
Anindya menyimpan dokumen itu, lalu berdiri. Ia merapikan blazer, menarik napas, dan mengangkat telepon.
“Hubungi pengacara saya,” katanya. “Minta datang sekarang.”
Tak sampai lima menit, ponselnya kembali menyala.
Fahri: Kamu masih marah? Aku pulang nanti malam, kita bicara. Jangan gegabah.
Kata gegabah membuatnya tersenyum tipis.
Ia membalas satu pesan saja.
Siapkan barangmu. Malam ini kau keluar dari rumahku.
Balasan Fahri datang nyaris seketika.
Fahri: Apa maksudmu?! Aku suamimu!
Anindya tidak langsung menjawab. Ia menutup ponsel, menyelesaikan rapat dengan profesional seperti biasa, lalu kembali ke ruangannya. Baru setelah itu ia membuka pesan berikutnya.
Fahri: Kamu nggak bisa ngusir aku begitu saja! Kita menikah sah!
Anindya menghela napas pendek.
Ia mengetik pelan, setiap hurufnya terukur.
Kita menikah sah.
Dan kau mengkhianatinya dengan sadar.
Pesan itu terbaca. Tanda centang berubah biru.
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar keras,panggilan masuk.
Ia menolak.
Tak lama, pesan panjang masuk bertubi-tubi.
Fahri: Aku nggak terima diceraikan! Kamu nggak bisa seenaknya! Kamu masih istriku, dan itu tidak akan berubah sampai kapan pun!
Anindya menatap layar tanpa emosi.
Ia membayangkan Fahri di seberang sana,panik, terdesak, kehilangan kendali. Perasaan yang dulu ia kenal, kini terasa asing.
Pengacaranya datang setengah jam kemudian. Seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam dan suara tenang.
“Kita bisa ajukan hari ini,” katanya setelah membaca singkat dokumen itu. “Bukti cukup.”
“Lakukan,” jawab Anindya singkat.
“Baik.”
Saat pengacaranya pergi, Anindya berdiri di depan jendela. Kota di bawah sana bergerak cepat. Hidup tidak menunggu siapa pun yang ragu.
Ponselnya kembali bergetar.
Fahri: Kamu akan menyesal. Aku tidak akan diam.
Ancaman itu… terlambat.
Anindya membalas dengan satu kalimat terakhir.
Kita lihat saja. Apa pun yang kau lakukan,
kau tidak akan menang, Fahri.
Ia meletakkan ponsel di meja.
Saat itulah pintu ruang kerjanya terbuka keras.
Brak!
Seseorang menggebraknya tanpa izin.
Anindya berbalik.
Tidak mungkin.
Fahri berdiri di ambang pintu dengan wajah merah, napas memburu, mata menyala oleh amarah dan kepanikan. Beberapa staf di luar terlihat terkejut, tak berani mendekat.
“Aku bilang, aku tidak terima!” Fahri melangkah masuk. “Kamu masih istriku!”
Anindya tidak bergerak. Tidak mundur. Tidak terkejut.
Ia menatap Fahri seolah menatap orang asing.
“Keluar dari ruanganku,” ucapnya datar.
“Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini!”
“Keamanan,” kata Anindya sambil menekan tombol di meja.
Fahri terdiam sejenak. Tatapannya berubah,antara marah dan takut.
“Kamu pikir uangmu bisa menginjakku?” desisnya. “Aku akan lawan kamu. Aku akan buat hidupmu hancur.”
Anindya tersenyum kecil.
Senyum yang sama seperti semalam. Dingin. Pasti.
“Kau sudah menghancurkannya,” jawabnya pelan. “Sekarang giliran aku memastikan kau menanggung akibatnya.”
Petugas keamanan muncul di ambang pintu.
“Silakan antar Tuan Fahri keluar,” perintah Anindya.
Fahri menatapnya lama, lalu berbalik dengan rahang mengeras.
“Ini belum selesai,” ancamnya sebelum pergi.
Pintu tertutup.
Sunyi kembali menguasai ruangan.
Anindya duduk. Menarik napas panjang. Lalu membuka laptopnya.
Rapat berikutnya menunggu.
Dunia tidak runtuh. Hidup tidak berhenti.
Dan mulai hari ini, ia bukan lagi istri yang disakiti.
Ia adalah Anindya,
wanita yang akan membalas luka dengan kecerdasan, keteguhan,
dan dendam yang paling elegan.