Part 6
Bisa-bisanya dia malah berpikir seperti itu, ada apa dengan otaknya sebenarnya? Diam-diam dia menyiksaku, terus membuatku kesal, tadi menggodaku juga. Sekarang dia membuatku darah tinggi lagi.
"Dito sialan!"
Aku keluar dari ruangan terkutuk itu dan memutuskan untuk kembali ke ruanganku.
Lagian sebenernya aku tidak mau bertemu dengan Dito. Laki-laki itu terus saja menganggu pikiranku dan itu membuatku tidak nyaman.
Ketika aku hendak akan membuka pintu, aku melihat banyak orang yang melihatku. Terlebih setelah keluar dari ruangan bos mereka.
"Dasar wanita pengosip!" Aku memaki semua orang yang tidak jauh dari tempatku berada. Awas saja kalau mereka berani macam-macam kapadaku.
"Kembali bekerja!"
"Permisi Bu Amira."
Aku menoleh kearah orang yang kini datang padaku. Aku tahu kalau dia adalah Gino
"Kenapa Gino?" tanyaku padanya.
"Anda di suruh kembali ke ruangan Pak Dito."
Aku melotot tajam, mau apa dia sebenarnya? Aku sudah keluar dari ruangan itu. Sekarang dia malah menyuruh aku untuk masuk kembali ke ruangannya.
"Sialan, mau apa dia sebenarnya?" tanyaku dengan heran.
"Saya tidak tahu, lebih baik Bu Amira temui saja dia. Sebelum dia nanti akan marah."
Aku hanya mengangguk saja, benar juga katanya. Aku tidak boleh membuat Dito marah sekarang. Bisa kelar urusan jika dia marah nanti.
"Baiklah."
Bisa sangat terpaksa aku datang ke dalam kembali. Padahal aku baru keluar dari ruangan ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali masuk. Baru juga membuka pintu, pria arogan itu sudah menatap kearah diriku kembali.
"Kenapa?" tanyaku dengan ketus.
"Setelah aku pikir-pikir, tidak ada salahanya menjadikan kamu kembali lagi sebagai sekretaris."
Tunggu dulu? Aku tidak salah dengar bukan? Pria Arogan itu kini sudah berubah pikiran dan dia mau kembali menjadikan aku sebagai sekretarisnya.
Ada angin apa sebenarnya? Kenapa dia tiba-tiba jadi seperti itu? Jangan bilang karena kejadian kemarin membuat otaknya bergeser.
"Kanapa hm? Baru sadar kalau kamu gak bisa apa-apa tanpa aku?" Aku tersenyum menang karena akhirnya aku bisa mendapatkan posisi yang semula. Mungkin dia habis dimarahi oleh papahnya karena aku yang mengadukan semuanya.
Pria Arogan itu berdiri dan mendekatkan wajahnya denganku mengikis jarak yang tercipta antara aku dan juga dirinya. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Jangan sampai main macam-macam denganku.
"Kamu salah Amira, jika berpikir seperti itu, aku menjadikanmu sekretaris agar aku lebih mudah bermain denganmu," bisiknya pada telingaku.
Rasanya sangat merinding sekali ketika mendengar suara dari laki-laki yaitu yang begitu sangat seksi. Apalagi dia membisikan sesuatu di telingaku.
"Aku tidak mau menjadi budakmu!"
Dia tersenyum menyebalkan membuatku semakin kesal dengan dirinya apalagi dengan bibirnya yang kini bermain di telingaku. Stop apa yang akan wanita itu lakukan padaku. Jangan sampai dia berbuat hal yang macam-macam kepadaku.
"Apa yang kamu lakukan padaku haha!" Jelas aku membentaknya. Aku juga wanita normal. Tidak akan baik jika aku terus berada ditempat seperti ini.
Aku lebih memilih untuk pergi dari tempat ini, baru saja membalikkan badanku, pria arogan itu sudah menarik hingga membuat aku jatuh di sofa yang ada disana.
Apa yang akan dia lakukan padaku. Tubuhku seketika jadi merinding dan juga takut dengan apa yang akan dia lakukan tadi.
"Kamu tidak bisa berbuat apapun juga sayang," bisiknya di telingaku. Ini seperti bukan Dito yang aku ketahui, dia kenapa berusaha jadi pria m***m sekarang.
Tunggu, kenapa posisiku sekarang sudah berada dibawahnya? Apa yang akan dia lakukan kepadaku? OMG... Tidak aku tidak mau dia berbuat macam-macam.
"Minggir!" usirku pada dirinya sambil memberontak.
"Kamu pikir aku akan melepaskan kamu begitu saja?"
Tidak, Pria arogan ini kini sudah bermain pada leher jenjangku dan menarik lepas shal yang aku gunakan.
"Lepas!!"
Tidak, dia sudah membuka kancing atasku, aku tidak bisa melakukan apapun juga sekarang, apalagi tangannya sudah bermain dipungungku.
Seringai dari wajahnya yang begitu sangat tegas melihatku sebagai mangsanya, matanya yang menatapku dengan pandangan elangnya begitu sangat tajam menatapku dengan senyuman dibibirnya yang terbit.
"Jika melakukan ini, aku akan berteriak kencang," ancamku karena panik.
"Hahaha lakukan saja! Kamu lupa kalau tempat ini kedap suara?"
Sialan, aku lupa kalau memang tempat ini kedap suara. Apa yang harus aku lakukan? Demi apapun aku tidak mau bermain panas di kantor dengan dia.
"Ekhem"
Deheman itu membuatku sungguh terkejut, aku lantas mendong pria arogan itu karena malu dan langsung membenahi bajuku yang berantakan.
"Apa papah kesini menganggu kegiatan kalian?"
Aku terkejut ketika melihat orang yang datang ke sini adalah ayah mertuaku. Dia mengetahui apa yang tengah dilakukan oleh Dito. Apa sekarang dia akan salah paham?
"Iya Papah menganggu kegiatanku," Radika memalingkan wajahnya dari Papah mertuaku. Seolah dia tengah kesal karena kegiatannya diganggu sekarang.
"Om Luky."
"Jangan panggil aku Om, panggil aku papah dan tidak usah formal seperti dulu, kamu sekarang adalah menantuku."
Rasanya ingin aku melupakan semuanya kalau aku adalah menantunya mengingat siapa orang yang dijodohkan denganku.
"Iya Pah," jawabku sedikit agak sungkan. Bagaimana aku tidak sungkan, dia atasanku dulu. Berbeda dengan pria arogan itu yang hanya menjadi pengganti dari Papah Luky.
"Oh yah Amira, Apa Dito sekarang sudah mengembalikan lagi jabatannya?" Tanya Papah Luku kepadaku.
Jelas aku mengelengkan kepala, dia belum manjadikan aku kembali menjadi sekretaris. Sekalipun aku dijadikan sekertaris, aku tidak akan mau. Bisa-bisa dia akan semakin berbuat macam-macam seperti tadi.
"Bohong Pah, aku sudah kembali manjadi dia sekertaris aku kok, tuh buktinya aku sudah menyiapkan ruangannya khusus denganku."
Mataku melihat kearah yang ditunjuk oleh Pria Arogan itu, rupanya benar sudah ada tempat khusus disana. Eh tunggu dulu bukannya ruangan sekertaris itu seharusnya ada di luar tidak satu ruangan dengan bos.
"Kenapa ruangannya didalam?" tanyaku dengan curiga.
"Aku sengaja membuatnya di dalam, karena yang di luar nanti Gino yang jaga, aku punya sekretaris dua jadinya." Pria Arogan itu menjelaskan semuanya padaku dan juga Papah.
"Tidak jadi masalah, tapi urusan keluar kota kamu harus membawa istrimu bukan Gino."
Perkataan Pak Luky membuat aku melotot seketika. Aku memang suka jalan-jalan keluar kota tapi, mengingat siapa orang yang bersamaku nanti yaitu Pria Arogan, membuat aku berpikir lebih keras lagi. Aku tidak tau sama sekali dengan laki-laki itu.
"Baiklah, aku akan bawa dia ke luar kota kalau memang ada bisnis diluar."
"Bagus, kalau begitu Papah pergi dulu. Ada urusan yang harus Papah urus."
"Loh kok Papah cepat benget? baru juga datang."
"Tidak apa, kalian lanjutkan kegiatan tadi. Papah gak akan ganggu," ucap Papah Luky mambuat aku sungguh sangat mulu. Ini semua gara-gara Pria Arogan itu yang main seenaknya terhadapku.
Aku memilih untuk pergi dari tempat ini, tidak ada gunanya juga kalau aku tepat berada ditempat ini. Biasa sangat bahaya. Aku mengehela nafas, baru saja aku akan pergi tapi ada tangan yang sudah menarik tanganku seolah mencegahku untuk tidak segera pergi.
"Kenapa?" tanyaku dengan mata melotot padanya.
BERSAMBUNG